Keseharian

Mungkin Sudah Cukup

Pegawai #1: Duh, pagi-pagi di timeline sudah banyak yang share ini itu soal kerjaan, mulai dari perjalanan dinas sampai kerepotan belanja barang untuk customer. Oh iya, kamu kan sering keluar negeri untuk dinas, makan di tempat mewah dengan customer, atau belanja barang branded untuk customer, kok ga pernah dishare di media sosial?

Pegawai #2: *ketawa*Buat apa? Mungkin buat orang lain sudah cukup dengan share ini itu. Buat aku ga cukup.

Pegawai #1: Maksudnya?

Pegawai #2: Kalau aku share di media sosial, nanti aku jadi terlena. Padahal itu bukan uangku, uang kantor. Akibatnya aku tidak termotivasi untuk mendapatkan yang lebih dari ini. Merasa sudah cukup hanya dengan share dan mendapat pujian dari orang lain. Padahal yang aku butuhkan bukan itu. Toh, semua itu ga menunjukkan kinerja kita sebagai individu.

Advertisements

Mata

Istri: Eh, kamu tuh lebih suka mata atau hidungku ya?

Suami: Mata kamu, lah.

Istri: Bukan hidungku? Kamu kan suka bilang hidungku kaya ditempel, bikin gemes.

Suami: Iya, bukan. Kenapa emangnya?

Istri: Kalau suka mataku, kan pas banget ada lagunya, if you say my eyes are beautiful. Ga ada lagu, if you say my nose is beautiful. Cucok kan, if you say my eyes are beautiful, it’s because they are looking at you. *langsung sibuk nyanyi*

 

Saklar Lampu dan Stiker Biru

“Ma, (saklar) lampu yang ke kamar mandi yang mana?”

“Yang kanan.”

“Eh, kok gue nyalain yang kiri.”

Kejadian salah menyalakan saklar lampu kamar mandi ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Bahkan beberapa tamu atau keluarga yang sudah berulang kali main ke rumah saya pun tetap tidak hafal letak saklar lampu kamar mandi. Untuk menghindari kesalahan seperti ini terulang kembali, saya memutuskan untuk menempelkan stiker berwarna pada saklar lampu yang harus dinyalakan.

Iseng-iseng saya juga menempelkan stiker ini pada lampu yang wajib dinyalakan ketika malam atau lampu yang sering digunakan. Ternyata penggunaan stiker tersebut cukup efektif. Tingkat kekeliruan pun berkurang drastis. Bahkan sangat memudahkan karena saya tidak perlu banyak berpikir untuk menyalakan lampu. Cukup mencari stiker berwarna biru yang menempel pada saklar.

Tampang Baby Sitter

Pegawai #1: Weekend kemarin, sepulang les renang, gue ke mall pakai tas dari seminar dan kerudung langsung, terus ga dandan pula. Eh, gue ga ditawarin brosur Meikarta. Lah, laki gue ditawarin berkali-kali. Dikira baby sitter kali ya gue. Padahal gue nenteng tas belanja dari toko bayi.

Pegawai #2: Masa lu ga ditawarin? Gue ke mall di Cikarang, cuma pakai sendal jepit dan celana pendek ditawarin loh.

Pegawai #1: Lah, boro-boro ditawarin. Gue dicuekin, haha.

Pegawai #2: Masih ingat muka orang yang jadi salesnya? Ntar gue samperin dan tanyain, “Hey guys, ingat ibu yang satu ini? Lu pikir waktu itu dia apa sampai ga nawarin Meikarta?”

Daftar Belanja Kebutuhan Bayi dan Ibu

Ketika saya hamil, Ibu saya mewanti-wanti agar saya tidak berbelanja sebelum usia kehamilan saya tujuh bulan. Katanya pamali. Takut terjadi sesuatu jika saya nekat melanggarnya. Sebenarnya alasannya cukup logis, apalagi banyak resiko kehamilan yang mungkin terjadi sebelum usia tujuh bulan. Selain itu, pada tujuh bulan, biasanya sudah tahu jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan.

Akhirnya, saya dan suami pun sangat santai menghadapi permasalahan belanja ini. Bahkan saya pun tidak berpikiran untuk melakukan deep googling mencari tahu barang-barang yang harus saya beli. Kebetulan, ketika saya hamil, load pekerjaan saya sedang tinggi sehingga saya harus mentransfer beberapa pekerjaan sebelum cuti melahirkan.

Ketika usia kandungan saya tujuh bulan (malah hampir delapan bulan, haha), saya dan suami mulai panik karena kami belum membeli barang apapun. Berbekal dari googling singkat dan buku “Moms and the City: Cerita Seru Mamud Masa Kini“, saya dan suami nekat pergi berbelanja. Rencananya semua kebutuhan bayi dan keperluan saya harus dibeli dalam satu hari karena kami tidak punya cukup waktu untuk berbelanja. (more…)

Vaksin Telenovela

Tukang Urut: Penyakit sekarang aneh-aneh. Makanya anak-anak harus divaksin, biar kebal sama penyakit. Mbak Rima divaksin juga kan anaknya?

Saya: Iya, divaksin. 

Tukang Urut: Jangan lupa nanti ikut vaksin buat campak bulan September. Kemarin ada penyuluhan dari Ibu-Ibu PKK. Katanya ini buat campak yang ganas banget, namanya Campak Isabella.

Saya: Bukan Isabella, Bu. Rubella. 

Tukang Urut: Ya itu lah namanya, soalnya mirip sama telenovela.