melahirkan

Pilah Pilih Dokter Kandungan dan Tempat Melahirkan

Sama seperti ibu hamil lainnya, setelah tahu saya positif hamil, saya pun sibuk menjelajahi berbagai macam forum dan membaca postingan blog mengenai dokter kandungan yang bagus dan rumah sakit yang cocok (sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianut dan memenuhi kriteria yang diinginkan).

Sembari mencari dokter dan rumah sakit, saya memeriksakan diri di RS JMC karena dekat dengan rumah dan kantor. Dokternya pun bukan dokter terkenal yang namanya kerap muncul di berbagai macam forum dan postingan blog. Saya mencari dokter yang antriannya paling sedikit. Eh, ternyata keterusan! Haha. Ini bukannya disengaja. Perjalanan mencari dokter kandungan dan rumah sakit tidak semudah yang dibayangkan. Ada saja masalahnya, mulai jadwal dokter yang tidak cocok, tempat melahirkan yang tidak menyenangkan pelayanannya atau lokasinya terlalu jauh dari rumah dan kantor.

(more…)

Sembilan Plus Plus

“Kapan lahiran?”

“Perutnya belum mules?”

“Kok masih kerja? Belum cuti? Sudah sembilan bulan, kan?”

Sebaiknya pertanyaan tabu ini tidak pernah ditanyakan pada perempuan yang sedang hamil tua dan menunggu detik-detik kelahiran anaknya. Alih-alih peduli, pertanyaan seperti ini hanya akan menyakiti si ibu. Membuat ia semakin merasa tertekan dan stres karena ia sendiri pun tidak pernah tahu kapan anaknya memberikan “sinyal cinta”. Padahal salah satu hal yang membuat si ibu akan lebih mudah melahirkan adalah perasaan yang senang dan bahagia.

Bukankah lebih baik diam-diam mendoakan agar si ibu segera melahirkan dengan selamat? Toh, kita hanya penonton. Yang berjuang mati-matian adalah si ibu.

Kontraksi Digital

#1

Bapak: Dik, nanti ke rumah sakit ya. Mbak di rumah sakit, katanya kontraksi. Nanti mama nyusul. Bapak lagi cari di google nih, kontraksi itu apa. *sambil liatin tab*

#2

*telepon Bapak kasih kabar*

Adik: Pak, mbak ga apa-apa. Sekarang udah baik-baik aja.

Bapak: Syukur, alhamdulillah. Bapak lagi lihat proses kontraksi di youtube.

Masyarakat Emergency

Saya: Ternyata waktu Ibu melahirkan gue, Ibu menerapkan gentle birth dengan metode home birth (melahirkan di rumah)!

Bams: Oh ya? Kenapa?

Saya: Ketika gue lahir, fasilitas kesehatan belum sebanyak sekarang. Adanya cuma Puskesmas dan yang membantu melahirkan biasanya Bidan. Nah, dari pada jauh-jauh ke Puskesmas, mobilisasinya repot, bidannya aja dipanggil ke rumah.

Bams: Kalau dipikir-pikir, jaman dulu, home birth itu jamak dilakukan oleh masyarakat. Sekarang malah kelihatan aneh kalau mau melahirkan di rumah. Masyarakat kita ini sudah berubah menjadi masyarakat emergency.

Saya: Maksudnya?

Bams: Jaman dulu, ketika istrinya masuk usia kehamilan sembilan bulan, suaminya mulai mengurangi kegiatannya. Jaman sekarang sih lebih sayang cuti dari pada sayang istri. Liburnya pas istrinya melahirkan atau keadaan emergency. Ga punya waktu menunggu istrinya melahirkan dengan normal. Maunya serba cepat.