(anjing)

Ada yang pernah menonton Hachiko? Dua tahun yang lalu, film ini sempat booming karena ceritanya menarik dan berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Jepang. Menurut penuturan beberapa teman saya, Hachiko versi Hollywood lebih menarik dibandingkan dengan Hachiko versi Jepang karena lebih menguras emosi. Menurut saya, Hachiko versi Jepang lebih menarik karena lebih menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan lebih terasa nyata. Well, baik versi Hollywood maupun versi Jepang, Hachiko tetap menggambarkan satu hal, yaitu mengenai kesetiaan dan pengabdian yang tulus dari seekor anjing terhadap manusia.

Dogs are not our whole life, but they make our lives whole (Roger Caras)

Selain Hachiko, ada beberapa anjing yang cukup menakjubkan, seperti Lassie dan Marley. Anjing mengajarkan kepada manusia mengenai sebuah persahabatan dan cinta kasih di dalam keluarga. Sebagai binatang, anjing dianggap sebagai sahabat terbaik bagi manusia.

I talk to him when I’m lonesome like; and I’m sure he understands. When he looks at me so attentively, and gently licks my hands; then he rubs his nose on my tailored clothes, but I never say naught thereat. For the good Lord knows I can buy more clothes, but never a friend like that (W. Dayton Wedgefarth).

Anjing merupakan salah satu binatang yang dianggap memiliki kepintaran. Bila anjing dilatih dengan baik, maka anjing tidak hanya berguna sebagai anjing penjaga saja, melainkan juga dapat didayagunakan sebagai anjing gembala, anjing pemburu, dan bahkan anjing pelacak.

A dog will look at you as if to say, “What do you want me to do for you? I’ll do anything for you” (Roy Blount, Jr.)

Anjing dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai sebuah pengertian yang menarik.

an·jing n binatang menyusui yg biasa dipelihara untuk menjaga rumah, berburu, dsb; Canis familiaris; — ditepuk menjungkit ekor, pb orang hina (bodoh, miskin, dsb) kalau mendapat kebesaran menjadi sombong; bagai — beranak enam, pb kurus sekali; — menyalak di ekor (pantat) gajah, pb orang hina (lemah, kecil) hendak melawan orang berkuasa; melepaskan — terjepit, pb menolong orang yg tidak tahu membalas budi; (spt) — terpanggang ekor, pb mendapat kesusahan yg amat sangat sehingga tidak keruan tingkah lakunya: (spt) disalak –bertuah, pb tidak dapat bertangguh lagi; spt — bercawat ekor, pb pergi atau menghindar krn malu dsb;

Anjing tidak hanya sekedar kata yang digunakan untuk menggambarkan binatang yang bertaring. Seperti yang terlihat dalam pengertian KBBI, peribahasa Indonesia yang menggunakan kata “anjing” cenderung menempatkan anjing sebagai sesuatu hal yang buruk, dan tidak ada yang menggambarkan nilai-nilai pengabdian yang tulus, persahabatan, serta cinta kasih di dalam keluarga. Dalam percakapan sehari-hari, kata “anjing” sering digunakan sebagai kata cacian. Cacian yang menggunakan kata “anjing” menunjukkan bahwa orang yang mencaci maki tersebut sangat marah dan kesal luar biasa. Sebuah penghinaan yang mendalam dan serius karena sangat kasar dan merendahkan harga diri seseorang.

Caci maki menggunakan kata “anjing” dianggap sebagai hal yang lumrah. Untuk memperhalus penggunaan kata “anjing”, biasanya kata-kata tersebut diubah menjadi “anjir”, “anjrit”, atau “anjrot”. Namun, tidak selamanya penggunaan kata “anjing” mengindikasikan suatu kemarahan. Bahkan hal tersebut dapat menjadi sebuah pujian atau ungkapan kekaguman terhadap sesuatu. Sebagai contoh, “Anjing, keren banget bisa dapat beasiswa TODAI”. Roman muka serta tekanan suara menentukan apakah penggunaan kata “anjing” tersebut dimaksudkan untuk mencaci maki atau sebuah ungkapan pujian dan kekaguman.

Konotasi negatif dalam suatu masyarakat dipengaruhi oleh pandangan hidup dan norma-norma yang terdapat dalam suatu kelompok masyarakat. Sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam dan di dalam agama Islam, anjing dianggap binatang yang haram karena air liurnya mengandung banyak bakteri yang berbahaya bagi manusia. Selain itu, anjing digolongkan sebagai najis berat, dimana bila terkena jilatan anjing diperlukan tujuh kali pencucian dan salah satu diantara pencucian tersebut harus menggunakan tanah. Mungkin hal ini yang membuat anjing mempunyai konotasi negatif bagi masyarakat Indonesia.

Namun, jika kita melihat pada cerita pewayangan, anjing mempunyai sebuah cerita yang menarik. Bahkan didalamnya tidak terdapat sebuah konotasi negatif. Ketika perang Bharatayudha berakhir, Pandawa dan Permaisuri Dropadi menuju surgaloka secara rohani. Namun, hanya Yudhistira dan anjingnya yang tertahan di depan pintu sorgaloka. Dewa Indra tidak membiarkan Yudistira memasuki sorgaloka bersama anjingnya. Yudhistira menolak untuk memasuki sorgaloka. Ia beranggapan bahwa lebih baik ia tidak memasuki sorgaloka yang sudah menjadi takdirnya daripada harus membiarkan anjingnya menunggu di luar sambil menderita haus dan lapar, sedangkan ia sendiri bermewah diri di dalam sorgaloka. Yudhistira mengatakan bahwa ia tidak akan mengkhianati anjingnya hanya demi sekeping sorgaloka. Tiba-tiba, anjing yang bersama Yudhistira berubah menjadi Dewa Dharma. Dewa Dharma langsung memeluk Yudhistira. Pelukan tanpa kata-kata itu merupakan sebuah pernyataan bahwa Yudhistira lulus ujian kesetiaan tingkat akhir, dimana sebuah kesetiaan perlu diuji dan dibuktikan ulang.

Penggunaan kata “anjing” dalam kehidupan sehari-hari akan selalu menjadi dua buah sisi mata uang. Ada baiknya, kita tidak menggunakan anjing dalam konotasi negatif, yaitu untuk mencaci maki. Anjing adalah salah satu ciptaan Tuhan yang tak berdosa. Ia menjadi anjing bukan karena kemauannya, bukan juga karena keisengan Tuhan dalam bereksperimen menciptakan makhluk hidup. Anjing juga mempunyai fungsi di dalam alam ini, yang mungkin hanya bisa dibebankan kepada mereka.

Anjing, anjing, anjing. Sebagian orang memuja kalian karena sebuah kesetiaan tanpa batas dan sebagian lagi membenci kalian karena beragam pengalaman buruk yang tidak mengenakkan. Hmm, anjing tetaplah anjing, dengan segala cerita menarik tentang mereka.

5 comments

    1. Saya juga takut dengan anjing, ga berani pegang, hehe. Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari salah seorang teman kantor yang sangat mencintai anjing

      Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s