Masa Lalu

Pegawai #1: I’ve been wondering lately, lu pernah ga sih nanya-nanya detail tentang masa lalunya pasangan lu atau ya udah gitu aja?

Pegawai #2: Waktu itu gue pernah dengar ceramah Mamah Dedeh, ada yang tanya, “Kalau Ta’aruf, apa hukumnya nanya masa lalu calon?” Jawabannya, “Haram!” Kalau lu gimana?

Pegawai #1: Past is past. Gue yakin ketika orangnya siap, suatu hari nanti dia akan cerita, ga perlu dipaksa apalagi sampai harus dikuliti karena membuka masa lalu itu bukan sesuatu yang gampang. Ada ketakutan ditolak dan tidak dicintai lagi. Sehingga ketika mereka memutuskan untuk bercerita mengenai masa lalunya, berarti mereka sudah merasa yakin dan siap dengan reaksi pasangannya, termasuk kemungkinan untuk tidak dicintai.

Surat Untuk Rima di Usia 35 Tahun #4

Dear Rima,

Bulan Ramadhan tahun ini mengajarkanku satu hal, sibuk adalah alasan paling mudah yang kita gunakan untuk menghindari bertemu dengan orang lain yang tidak kita inginkan atau orang lain yang tidak kita anggap penting sebagai bagian hidup kita. Karena ketika kita menganggap seseorang berarti, kita akan meluangkan waktu untuk bersama mereka. Mengatur ulang semua agenda dan kegiatan agar bisa tertawa dan bergembira bersama mereka. Please remember not to take people for granted because they wont stay forever if you don’t invest in them.

Semoga Tuhan memberikan umur panjang sehingga kamu bisa membaca surat ini. Have fun and be happy my dear future Rima wherever you are.

Dunia Lain

Pegawai #1: Kamu kalau ngomong aing (aku – dalam bahasa sunda kasar) lucu ya

Pegawai #2: Lah apa pula ini

Pegawai #1: Soalnya kamu ga pantas ngomong aing

Pegawai #2: Maneh (kamu) yang ga pantas.

Pegawai #1: Apa yang bikin ga pantas? Terlalu kalem?

Pegawai #2: Maneh (kamu) kaya dari dunia lain. Terlalu cantik, kaya bidadari.

Di Kala Senja

Ada keheningan yang tidak terpecahkan ketika kamu pergi. Bagaimana ketidakhadiranmu ternyata menghantui hidupku. Untuk menghilangkan ketakutan tersebut, aku memilih membencimu. Mencari-cari alasan tidak masuk akal agar aku bisa mencaci maki dirimu. Padahal tak sedikit pun kamu pernah berperilaku tidak menyenangkan. Kamu begitu manis dalam memperlakukan diriku.

Mungkin yang aku benci ketidakhadiranmu. Aku benci semua kenangan tentang kita menari-nari di kepala dan kamu telah pergi. Sementara aku masih di sini, merindukan dirimu untuk kembali.

Catatan Ibu #10: Cepat Sembuh

Kamu tahu apa yang lucu dari tahun lalu? Ketika Ibu menangis di kamar, kamu berlari tergopoh-gopoh dari tempat bermainmu untuk memeluk Ibu dan mengatakan, “Ibu jangan nangis. Ibu cepat sembuh. Mbak sayang Ibu.”

Seketika itu juga tangis Ibu terhenti dan tertawa melihat tingkah lakumu, Nak. Kamu melakukan persis apa yang Ibu lakukan ketika kamu sakit. Namun yang kamu lakukan memiliki arti lebih, membuat Ibu menyadari bahwa hidup terlalu singkat untuk diwarnai dengan kesedihan dan kebahagiaan bisa datang dari hal sederhana. Terkadang kita hanya bereaksi berlebihan dan terlalu memikirkan hal-hal sepele menjadi masalah besar.

Oh ya, Ibu tidak menangis karena Bapak. Ibu lupa alasannya. Sepertinya hanya hal sepele, makanya Ibu tidak ingat, hehe.

Selamat tahun baru 2019, Nak. Mari kita lewati tahun ini dengan kegiatan yang menyenangkan.

Peluk dan cium,

Ibu