Emak-Emak Zaman Now

Istri: Tukangnya mau disuruh ke rumah tanggal berapa dan jam berapa?

Suami: Hah? Ibu dapat tukang dari mana?

Istri: Dari aplikasi.

Suami: Eh, emang ada?

Istri: Ada. Tadi juga udah googling tapi pilih dari aplikasi aja, lebih terpercaya.

Suami: Emak-emak zaman now banget ya. Semuanya serba online. Padahal tadi Bapak kepikiran untuk nyari tukang dengan datang ke tempat ojek pangkalan atau ke toko bangunan. Kali aja mereka punya kenalan yang bisa dihubungi.

Advertisements

Catatan Ibu #7: Matahari Pagi

Mungkin kamu akan menganggap terbangun di pagi hari ketika matahari terbit adalah sesuatu yang biasa. Bagi Ibu, melihat matahari terbit selalu meninggalkan perasaan tersendiri. Sejak kecil, Ibu sudah mulai beraktivitas ketika matahari masih berada dalam pelukan malam. Ibu pernah membenci keadaan tersebut karena semua masih bermimpi dan Ibu harus pergi menembus dingin bersama mereka yang terpaksa pergi demi sesuap nasi.

Tapi benci tak selamanya di hati. Lama-lama Ibu jatuh cinta melihat matahari terbit. Di perjalanan, Ibu melihat bagaimana malam berubah menjadi pagi. Perlahan-lahan matahari menyeruak memecah langit. Cahaya jingga kemerahan mengintip dari balik awan. Sinar lembutnya membelai dan merasuk melalui celah-celah kecil. Menghembus kabut yang berlari menjauhi. Memberikan kehangatan dan kehidupan seperti dirimu yang telah memberikan Bapak dan Ibu pengharapan akan hari yang baru dan penuh senyuman.

Terima kasih, Nak. Telah menjadi matahari pagi untuk Bapak dan Ibu.

Peluk dan cium,

Ibu

Mungkin Sudah Cukup

Pegawai #1: Duh, pagi-pagi di timeline sudah banyak yang share ini itu soal kerjaan, mulai dari perjalanan dinas sampai kerepotan belanja barang untuk customer. Oh iya, kamu kan sering keluar negeri untuk dinas, makan di tempat mewah dengan customer, atau belanja barang branded untuk customer, kok ga pernah dishare di media sosial?

Pegawai #2: *ketawa* Buat apa? Mungkin buat orang lain sudah cukup dengan share ini itu. Buat aku ga cukup.

Pegawai #1: Maksudnya?

Pegawai #2: Kalau aku share di media sosial, nanti aku jadi terlena. Padahal itu bukan uangku, uang kantor. Akibatnya aku tidak termotivasi untuk mendapatkan yang lebih dari ini. Merasa sudah cukup hanya dengan share dan mendapat pujian dari orang lain. Padahal yang aku butuhkan bukan itu. Toh, semua itu ga menunjukkan kinerja kita sebagai individu.

Catatan Ibu #6: Patah Hati

Ibu pernah mengalami berbagai macam patah hati, mulai yang ringan hingga yang sangat menyakitkan dan membuat Ibu hampir gila. Tapi Ibu tidak pernah mengalami patah hati yang seperti ini, ketika kamu memutuskan untuk berhenti menyusu dan mencari kenyamanan dalam bentuk yang lain. Ibu menangis tersedu-sedu, meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.

Tapi seperti yang dikatakan oleh Bapak, kejadian ini adalah salah satu pembelajaran untuk Bapak dan Ibu. Sebagai orang tua, kami harus bersiap untuk melepaskanmu, membiarkan dirimu tumbuh dan dewasa. Tidak selamanya kamu menjadi anak kecil yang harus dilindungi dan bergantung kepada Bapak dan Ibu.

Suatu hari nanti, kamu pun akan mengalami patah hati. Entah karena cinta, pekerjaan, atau apapun di dalam hidupmu. Merasa terpuruk dan kecewa seperti yang Ibu rasakan saat ini. Ketika perasaan itu datang, ingat selalu, Bapak dan Ibu ada disampingmu.

Peluk dan cium,

Ibu