Suka Kopi

Pegawai #1: Kamu beneran ga suka kopi? Padahal kelihatannya kamu ngerti kopi.

Pegawai #2: Iya, aku ga suka kopi. Lambungnya ga kuat. Wes tuwek.

Pegawai #1: Kalau aku suka banget, apalagi kopikiran kamu.

Advertisements

Catatan Ibu #9: Belahan Jiwa

Menemukan belahan jiwa itu tidak gampang, Nak. Bagi mereka yang cukup beruntung, belahan jiwa mereka ditemukan dengan mudah tanpa harus melalui berbagai macam kenangan pahit dan hidup bahagia selamanya hingga rambut memutih. Bagi mereka yang tidak beruntung, terkadang belahan jiwa ditemukan dalam kondisi yang tidak menyenangkan, entah ketika mereka sudah terikat dalam suatu hubungan atau setelah melalui proses panjang nan melelahkan penuh onak dan berduri. Lalu bagaimana dengan Ibu? Baru-baru ini Ibu menemukan belahan jiwa Ibu. Belahan jiwa yang Ibu rindukan, rasanya hidup terasa hampa tanpa dirinya. Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata bagaimana ia melengkapi Ibu.

Kamu mau tahu ia siapa, Nak? Itu kamu. Mungkin kamu akan tertawa ketika mengetahui bahwa kamu adalah belahan jiwa Ibu. Memang konyol tapi betul adanya.

Tengah malam, Bapak dan Ibu pertama kali melihatmu. Ibu masih ingat suara tangismu yang memecah ruangan. Selama empat jam gelombang cintamu terus menerus memberikan sinyal betapa tidak sabarnya dirimu untuk bertemu dengan Ibu. Namun itu semua tidak ada artinya. Semua rasa sakit dan lelah hilang begitu saja setelah Ibu melihat dan mendekap tubuh merahmu. Berbulan-bulan kami menduga-duga rupamu. Menebak-nebak dirimu lebih mirip Bapak atau Ibu. Setelah 365 hari terlewati, Bapak selalu mantap mengatakan bahwa secara fisik kamu mirip dengan Bapak tetapi perilakumu sangat mirip dengan Ibu. Yang tentunya akan Ibu bantah dengan mengatakan kamu itu seratus persen mirip dengan Bapak, baik fisik maupun perilakumu.

Kalau dipikir-pikir, pendapat Bapak ada benarnya. Mungkin hal ini juga yang membuat Ibu terasa lengkap bersamamu. Sehari terlewati tanpamu saja sudah membuat Ibu meraung-raung seperti anak kecil yang mainannya direnggut secara paksa. Kamu yang Ibu rindukan tetapi juga sering membuat deposito kesabaran menipis. Dua garis pertama yang dibesarkan dengan uji coba teori parenting dari berbagai macam buku yang Bapak dan Ibu baca. Menemani Bapak dan Ibu yang baru saja menapaki rumah tangga dengan senyum manis dan tingkah laku yang menggemaskan. Kamu yang menyadarkan Ibu bahwa ada hal baik di luar sana yang bisa dilakukan untuk menjadikan duniamu lebih baik agar kamu bisa tinggal dengan nyaman.

Dulu dirimu begitu mungil, Nak. Bahkan Ibu sempat merasa khawatir salah menggendongmu, takut kamu terluka karena kecerobohan Ibu. Tapi sekarang, kamu bukan anak kecil lagi. Mendadak kamu harus menjadi dewasa. Apalagi ketika kamu mengetahui akan menjadi kakak. Mungkin kamu pun bosan mendengar Bapak dan Ibu berulang kali mengatakan kamu harus belajar berbagi cinta dan kasih sayang. Kamu yang terbiasa menjadi pusat perhatian dan prioritas utama, kini harus berdamai dengan kenyataan.

Jika suatu hari nanti kamu beranggapan Ibu tidak lagi menyayangimu atau lebih sayang adikmu, ingat selalu, bahwa kamu adalah gendhuk duku, kesayangan, dan belahan jiwa Ibu. Bukan berarti Ibu tidak sayang adik tetapi kamu selalu memiliki tempat tersendiri untuk Ibu yang tidak akan bisa tergantikan.

Peluk dan cium,

Ibu

Gal Gadot dan Donald Trump

Istri: Ibu yang jual jus di kantin nanya ke Ibu, umur Ibu berapa. Eh, dikira udah 30 tahunan karena mau punya anak dua. Emang kelihatan tua banget ya? Kan masih 20 tahunan. Wes, pokoke Ibu mau Gal Gadot body goals lah, biar keliatan kinyis-kinyis.

Suami: Ya harus gitu dong. Istrinya body Gal Gadot, suaminya body Donald Trump.

Sudah Terbiasa

Pegawai #1: Sekarang jam berapa? Sudah adzan (magrib) belum ya?

Pegawai #2: Puasa?

Pegawai #1: Iya, puasa bayar hutang.

Pegawai #2: Emangnya kuat? Biasanya setiap setengah jam teriak lapar. Kalau ga teriak lapar, pasti lagi ngunyah makanan.

Pegawai #1: Pasti kuat dong~ kan terbiasa ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Drama Drama Drama

Pegawai #1: Drama, drama, drama everywhere lah. Hidup kayanya lebih mudah tanpa drama. Laper, ya makan. Hubungan beracun, ya ditinggalin. Aslinya mah ga semudah itu ya, haha.

Pegawai #2: Iya, memang ga mudah. Sometimes kita terjebak drama karena merasa hidup akan sepi ketika kita ga mengikuti drama tersebut. Padahal drama selalu ada. Lagian gue yakin kedepannya masih banyak drama yang akan lu lewatin, hidup masih seru walaupun drama yang sekarang sudah selesai.

Rumah

Hari ini kamu terlihat berbeda dalam balutan kemeja putih yang aku pilihkan beberapa hari sebelumnya. Berulang kali kamu berusaha membetulkan kopiah hitam yang menempel di kepala. Walaupun sebenarnya tidak ada masalah dengan penampilanmu. Rasanya ingin tertawa melihatmu gugup. Bulir-bulir keringat yang menetes dari kening, tangan yang basah, degup jantung yang tidak keruan, dan raut muka tegang. Tapi kamu berusaha menenangkan diri. Menarik dan menghembuskan nafas sambil meremas tangan.

Hampir sembilan bulan kita bersama. Kamu selalu mengatakan hari ini akan tiba. Cepat atau lambat. Mau tak mau, kita pun harus melewatinya. Aku berulang kali berusaha meyakinkan diri bahwa hari ini benar adanya. Bukan sekedar mimpi.

Perlahan-lahan, aku mulai mengingat kenangan yang telah kita lalui bersama. Hal-hal manis dan menarik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Rajut kenangan pun mulai terurai, seperti film yang berputar cepat.

Salah satu kenangan yang masih menempel di kepala, ketika kita akan makan siang untuk merayakan ulang tahunku. Kamu terlihat sedikit gelisah. Aku pikir karena kamu sedang teringat beberapa pekerjaan yang kamu ceritakan sepanjang perjalanan ke tempat makan. Apalagi kamu keluar dari mobil dengan terburu-buru sambil menerima telepon. Belakangan, aku baru tahu, kamu terlihat panik ketika menerima telepon karena driver ojek online yang membelikan kue ulang tahun tiba lebih dulu dan sedang menunggu di meja reservasi. Kamu khawatir rencanamu untuk memberikan kejutan akan gagal.

Sejujurnya, kamu tidak pernah gagal membuatku terkejut. Setiap pukul tiga sore, driver ojek online mengirimkan makanan atau minuman darimu. Ketika aku bertanya siapa yang mengirimkan, mereka akan berpura-pura tidak tahu dan berusaha menyembunyikan identitasmu, bahkan terkadang menyebutmu sebagai Hamba Allah. Selalu membuatku tersipu malu, terutama ketika kamu mengirimkan segelas kopi dengan pesan singkat nan romantis tertulis di gelasnya.

Lamunanku sesaat buyar ketika penghulu datang. Raut mukamu semakin tegang ketika penghulu bersiap-siap dan menjabat tanganmu. Dalam satu tarikan nafas, kamu mengucapkan ijab kabul. Berjanji untuk menjadi suami dan imam yang baik.

“Bagaimana saudara-saudara? Sah?” tanya penghulu.

Seluruh hadirin yang datang berteriak kompak, “Sah!”

Sorak sorai kegembiraan mewarnai ruangan. Fotografer pun sibuk berlarian berusaha mengabadikan momen tersebut. Tanpa sadar, aku pun menitikkan air mata. Mengingat percakapan kita beberapa hari yang lalu di sebuah kedai. Malam itu kita menyesap secangkir kopi dalam diam. Ada isak tangis yang tertahan hingga menjadi sesak. Mata yang memerah menahan air mata.

“Kamu tahu kan kalau aku sayang kamu? I love you, as always. Kamu adalah sepertiga hal terbaik yang pernah ada dalam hidupku.”

Tapi kata-katamu tidak bisa menenangkan gemuruh yang bergejolak di dada. Apalagi ketika kamu menatapku nanar dan berbisik pelan, memohon dengan penuh harapan agar aku melepaskanmu dan membiarkanmu memilih ia menjadi semestamu, walaupun aku yang semestinya.