Author: rimarahayu

A circus performer who juggling between motherhood and work. A sanguine - choleric, an affection explorer, an expert dreamer, and a constantly making improvement good friend.

Mungkin Sudah Cukup

Pegawai #1: Duh, pagi-pagi di timeline sudah banyak yang share ini itu soal kerjaan, mulai dari perjalanan dinas sampai kerepotan belanja barang untuk customer. Oh iya, kamu kan sering keluar negeri untuk dinas, makan di tempat mewah dengan customer, atau belanja barang branded untuk customer, kok ga pernah dishare di media sosial?

Pegawai #2: *ketawa*Buat apa? Mungkin buat orang lain sudah cukup dengan share ini itu. Buat aku ga cukup.

Pegawai #1: Maksudnya?

Pegawai #2: Kalau aku share di media sosial, nanti aku jadi terlena. Padahal itu bukan uangku, uang kantor. Akibatnya aku tidak termotivasi untuk mendapatkan yang lebih dari ini. Merasa sudah cukup hanya dengan share dan mendapat pujian dari orang lain. Padahal yang aku butuhkan bukan itu. Toh, semua itu ga menunjukkan kinerja kita sebagai individu.

Advertisements

Catatan Ibu #6: Patah Hati

Ibu pernah mengalami berbagai macam patah hati, mulai yang ringan hingga yang sangat menyakitkan dan membuat Ibu hampir gila. Tapi Ibu tidak pernah mengalami patah hati yang seperti ini, ketika kamu memutuskan untuk berhenti menyusu dan mencari kenyamanan dalam bentuk yang lain. Ibu menangis tersedu-sedu, meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.

Tapi seperti yang dikatakan oleh Bapak, kejadian ini adalah salah satu pembelajaran untuk Bapak dan Ibu. Sebagai orang tua, kami harus bersiap untuk melepaskanmu, membiarkan dirimu tumbuh dan dewasa. Tidak selamanya kamu menjadi anak kecil yang harus dilindungi dan bergantung kepada Bapak dan Ibu.

Suatu hari nanti, kamu pun akan mengalami patah hati. Entah karena cinta, pekerjaan, atau apapun di dalam hidupmu. Merasa terpuruk dan kecewa seperti yang Ibu rasakan saat ini. Ketika perasaan itu datang, ingat selalu, Bapak dan Ibu ada disampingmu.

Peluk dan cium,

Ibu

Mata

Istri: Eh, kamu tuh lebih suka mata atau hidungku ya?

Suami: Mata kamu, lah.

Istri: Bukan hidungku? Kamu kan suka bilang hidungku kaya ditempel, bikin gemes.

Suami: Iya, bukan. Kenapa emangnya?

Istri: Kalau suka mataku, kan pas banget ada lagunya, if you say my eyes are beautiful. Ga ada lagu, if you say my nose is beautiful. Cucok kan, if you say my eyes are beautiful, it’s because they are looking at you. *langsung sibuk nyanyi*

 

Saklar Lampu dan Stiker Biru

“Ma, (saklar) lampu yang ke kamar mandi yang mana?”

“Yang kanan.”

“Eh, kok gue nyalain yang kiri.”

Kejadian salah menyalakan saklar lampu kamar mandi ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Bahkan beberapa tamu atau keluarga yang sudah berulang kali main ke rumah saya pun tetap tidak hafal letak saklar lampu kamar mandi. Untuk menghindari kesalahan seperti ini terulang kembali, saya memutuskan untuk menempelkan stiker berwarna pada saklar lampu yang harus dinyalakan.

Iseng-iseng saya juga menempelkan stiker ini pada lampu yang wajib dinyalakan ketika malam atau lampu yang sering digunakan. Ternyata penggunaan stiker tersebut cukup efektif. Tingkat kekeliruan pun berkurang drastis. Bahkan sangat memudahkan karena saya tidak perlu banyak berpikir untuk menyalakan lampu. Cukup mencari stiker berwarna biru yang menempel pada saklar.

Tampang Baby Sitter

Pegawai #1: Weekend kemarin, sepulang les renang, gue ke mall pakai tas dari seminar dan kerudung langsung, terus ga dandan pula. Eh, gue ga ditawarin brosur Meikarta. Lah, laki gue ditawarin berkali-kali. Dikira baby sitter kali ya gue. Padahal gue nenteng tas belanja dari toko bayi.

Pegawai #2: Masa lu ga ditawarin? Gue ke mall di Cikarang, cuma pakai sendal jepit dan celana pendek ditawarin loh.

Pegawai #1: Lah, boro-boro ditawarin. Gue dicuekin, haha.

Pegawai #2: Masih ingat muka orang yang jadi salesnya? Ntar gue samperin dan tanyain, “Hey guys, ingat ibu yang satu ini? Lu pikir waktu itu dia apa sampai ga nawarin Meikarta?”