Author: rimarahayu

A grateful college student who enjoys her life by playing Java gamelan and teaching the students of slum area. A sanguine - choleric, an affection explorer, an expert dreamer, and a constantly making improvement good friend.

Pilah Pilih Dokter Kandungan dan Tempat Melahirkan

Sama seperti ibu hamil lainnya, setelah tahu saya positif hamil, saya pun sibuk menjelajahi berbagai macam forum dan membaca postingan blog mengenai dokter kandungan yang bagus dan rumah sakit yang cocok (sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianut dan memenuhi kriteria yang diinginkan).

Sembari mencari dokter dan rumah sakit, saya memeriksakan diri di RS JMC karena dekat dengan rumah dan kantor. Dokternya pun bukan dokter terkenal yang namanya kerap muncul di berbagai macam forum dan postingan blog. Saya mencari dokter yang antriannya paling sedikit. Eh, ternyata keterusan! Haha. Ini bukannya disengaja. Perjalanan mencari dokter kandungan dan rumah sakit tidak semudah yang dibayangkan. Ada saja masalahnya, mulai jadwal dokter yang tidak cocok, tempat melahirkan yang tidak menyenangkan pelayanannya atau lokasinya terlalu jauh dari rumah dan kantor.

(more…)

KTA

Customer Service: Selamat pagi, Pak. Saya dari Bank XYZ ingin menawarkan KTA. 

Pegawai: KTA itu apa ya, Mbak? 

Customer Service: KTA itu Kredit Tanpa Agunan. Jadi Bapak bisa mendapatkan kredit tanpa jaminan. 

Pegawai: Oh, saya kira Kredit Tanpa Angsuran. Kalau Kredit Tanpa Agunan, saya ga tertarik, Mbak. Kalau Kredit Tanpa Angsuran, saya mau ambil. 

Catatan Ibu #3: Bosan Jadi Pegawai

Suatu hari nanti, ketika kamu sudah bekerja, akan ada saat dimana kamu merasa bosan dan lelah. Ingin membuka usaha sendiri yang lebih sesuai dengan keinginan dan minatmu. Dalam bayanganmu, membuka usaha sendiri terasa lebih menyenangkan karena bisa mengatur waktu sesuka hati. Menyesuaikan dengan ritme hidupmu. Kamu tidak merasa sedang bekerja karena kamu melakukan hal yang kamu sukai.

Tapi percayalah, nak, itu hanya ilusi. Sebuah ilusi yang menyilaukan dan terkadang membutakan.

Eits, tidak berarti Bapak dan Ibu tidak mendukung keputusanmu untuk memulai usaha sendiri. Bapak dan Ibu selalu mendukung apapun pilihanmu. Bapak dan Ibu ingin kamu benar-benar memahami baik dan buruknya setiap pilihanmu.

Ketika kamu memutuskan untuk mempunyai usaha sendiri, maka kamu harus mencurahkan segalanya. Diperlukan kerja keras dan dedikasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Saat perasaan lelah dan ingin berhenti muncul, ingat satu hal, mundur tidak akan membuat hidupmu lebih mudah.

Peluk dan cium,

Ibu

Catatan Ibu #2: Rencana Hidup

Ada yang bilang hidup itu perlu direncanakan dengan baik agar tak kehilangan arah. Tapi merencanakan hidup bukan pekerjaan gampang. Perlu berbagai macam analisis dan dipertimbangkan dengan baik. Sekali salah langkah, siap-siap terjerembab karena pilihan tersebut tidak bisa diulang.

Rencana hidup tidak berarti kita harus melakukan sesuatu. Kadang berdiam diri jauh lebih baik ketika hal tersebut sudah dipikirkan masak-masak. 

Ingat, Nak, ketika rencana hidup yang kita miliki berkaitan dengan orang lain, jangan lupa untuk mendiskusikannya. Bagaimana pun juga, setiap keputusan yang kita buat akan berpengaruh terhadap orang tersebut. Akan tidak adil jika kita hanya menyimpan sendiri rencana tersebut. 

Peluk dan cium,

Ibu

Catatan Ibu #1: Prelude

Ketika catatan ini dibuat, kamu masih sangat kecil. Kamu belum bisa membaca. Bahkan belum bisa membalikan tubuh sendiri tanpa bantuan Bapak atau Ibu. Kamu mungkin belum bisa mengerti dunia yang kita tinggali tidak sempurna. Tidak hanya berisikan gelak tawa. Ada kalanya kita harus berduka dan mengaku kalah.

Tapi Bapak dan Ibu berdoa dan berharap, semoga ketidaksempurnaan tersebut tidak menghalangimu untuk selalu mensyukuri apa yang kamu miliki. Hanya rasa syukur yang akan membuat dirimu tidak berkecil hati ketika menghadapi kenyataan hidup yang mengecewakan.

Peluk dan cium,

Ibu

Sembilan Plus Plus

“Kapan lahiran?”

“Perutnya belum mules?”

“Kok masih kerja? Belum cuti? Sudah sembilan bulan, kan?”

Sebaiknya pertanyaan tabu ini tidak pernah ditanyakan pada perempuan yang sedang hamil tua dan menunggu detik-detik kelahiran anaknya. Alih-alih peduli, pertanyaan seperti ini hanya akan menyakiti si ibu. Membuat ia semakin merasa tertekan dan stres karena ia sendiri pun tidak pernah tahu kapan anaknya memberikan “sinyal cinta”. Padahal salah satu hal yang membuat si ibu akan lebih mudah melahirkan adalah perasaan yang senang dan bahagia.

Bukankah lebih baik diam-diam mendoakan agar si ibu segera melahirkan dengan selamat? Toh, kita hanya penonton. Yang berjuang mati-matian adalah si ibu.