rencana hidup

Surat Untuk Rima di Usia 35 Tahun #1

Dear Rima,

Kamu tahu berapa kali aku harus merevisi surat ini? Setidaknya lebih dari sepuluh kali, mungkin lebih. Aku pun sudah lupa karena berusaha untuk menyesuaikan dengan kondisi terkini. Surat ini aku tulis pertama kali ketika aku pertama kali bekerja. Namun tidak pernah aku selesaikan dan aku lupa penyebabnya. Mungkin aku ingin menjadikan surat ini sebagai sebuah catatan yang sempurna,  sebagai pengingat dirimu di masa yang akan datang mengenai keadaanmu di masa lalu. Berharap agar  di kemudian hari ketika kamu membacanya, kamu dapat tersenyum manis dan menatap dunia dengan lebih baik lagi.

Karena aku tidak yakin bisa menuliskannya dalam satu buah tulisan, rencananya aku akan membagi surat ini menjadi 30 bagian. Akan kutuliskan selama 30 hari berturut-turut. Semoga saja aku bisa bertahan untuk menulis selama 30 hari dan tidak mencari-cari alasan untuk melewatkannya.

Dari mana kita akan memulai surat ini? Mungkin berawal dari kenyataan bahwa saat ini aku adalah seorang istri dan juga ibu seorang anak yang masih bekerja.

Ah, tapi untuk sebuah tulisan awal, mari kita memulainya dengan hal sederhana yang terpikirkan oleh diriku secara tidak sengaja ketika dalam perjalanan menuju ke dokter gigi.

Satu hal yang sering terlupakan, sebagian dari kita berpikiran bahwa setiap orang akan mengalami milestones yang sama. Lulus kuliah, bekerja, menikah, punya anak, dan hidup bahagia selamanya. Sehingga ketika berumur 30 tahun, kita sudah memiliki karir yang baik, pasangan yang sangat mencintai kita apa adanya, dan anak yang lucu serta menggemaskan. Tidak hanya satu anak, bahkan ada juga yang sudah memiliki dua anak. Nyatanya ada yang baru memulai karir, memungut kepingan hati yang berceceran setelah mengetahui pasangannya berselingkuh padahal sudah memiliki anak, atau belum dikaruniai anak walaupun telah menikah selama lebih dari dua tahun karena terkena penyakit imunitas. Semua hal tersebut mungkin tidak pernah terbayangkan dalam benak kita, yang diinginkan adalah hidup yang sempurna sesuai rencana. Tapi itulah hidup. Tak perlu iri, sedih, dan kecewa ketika hidup tidak sesuai rencana. Hal yang terasa berat dan tidak menyenangkan justru bisa berubah menjadi hal baik dan datang dari arah yang tidak terduga. Membuat kita sangat nyaman di kemudian hari.

Semoga Tuhan memberikan umur panjang sehingga kamu bisa membaca surat ini. Have fun and be happy my dear future Rima wherever you are.

 

Advertisements

Catatan Ibu #2: Rencana Hidup

Ada yang bilang hidup itu perlu direncanakan dengan baik agar tak kehilangan arah. Tapi merencanakan hidup bukan pekerjaan gampang. Perlu berbagai macam analisis dan dipertimbangkan dengan baik. Sekali salah langkah, siap-siap terjerembab karena pilihan tersebut tidak bisa diulang.

Rencana hidup tidak berarti kita harus melakukan sesuatu. Kadang berdiam diri jauh lebih baik ketika hal tersebut sudah dipikirkan masak-masak.

Ingat, Nak, ketika rencana hidup yang kita miliki berkaitan dengan orang lain, jangan lupa untuk mendiskusikannya. Bagaimana pun juga, setiap keputusan yang kita buat akan berpengaruh terhadap orang tersebut. Akan tidak adil jika kita hanya menyimpan sendiri rencana tersebut.

Peluk dan cium,

Ibu