patah hati

Catatan Ibu #6: Patah Hati

Ibu pernah mengalami berbagai macam patah hati, mulai yang ringan hingga yang sangat menyakitkan dan membuat Ibu hampir gila. Tapi Ibu tidak pernah mengalami patah hati yang seperti ini, ketika kamu memutuskan untuk berhenti menyusu dan mencari kenyamanan dalam bentuk yang lain. Ibu menangis tersedu-sedu, meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.

Tapi seperti yang dikatakan oleh Bapak, kejadian ini adalah salah satu pembelajaran untuk Bapak dan Ibu. Sebagai orang tua, kami harus bersiap untuk melepaskanmu, membiarkan dirimu tumbuh dan dewasa. Tidak selamanya kamu menjadi anak kecil yang harus dilindungi dan bergantung kepada Bapak dan Ibu.

Suatu hari nanti, kamu pun akan mengalami patah hati. Entah karena cinta, pekerjaan, atau apapun di dalam hidupmu. Merasa terpuruk dan kecewa seperti yang Ibu rasakan saat ini. Ketika perasaan itu datang, ingat selalu, Bapak dan Ibu ada disampingmu.

Peluk dan cium,

Ibu

Advertisements

Lelaki Senja

Ketika senja, saya bertemu dengannya. Sosok manusia yang selalu diimpikan. Sosok yang hidup di bagian terdalam hati. Sosok nyata yang tidak hanya hidup di alam mimpi dalam bentuk dua dimensi. Sosok yang hanya sekilas datang. Sosok yang mengacak-acak hati dan kehidupan. Sosok yang pergi dalam diam. Sosok yang tidak pernah tahu betapa tingginya sebuah ekspektasi. Sosok yang begitu berbahaya dan terus menghantui pikiran.
Ketika senja, saya bertemu dengannya. Menganggapnya sebagai sosok yang sempurna. Karena imajinasi dan keinginan untuk memiliki, ia terlihat sempurna. Hingga akhirnya saya melupakan kenyataan. Terlalu takut melihat keadaan yang sebenarnya. Takut melihat bahwa sosok yang menghantui pikiran saya tidak sesempurna yang saya kira. Takut untuk melihat kenyataan bahwa ia mungkin saja sesempurna pikiran saya. Hingga akhirnya saya merasa tidak pantas untuk berada disampingnya.

Ketika senja, saya bertemu dengannya. Berbagi cerita tentang kehidupan. Melihat lebih dekat setiap kenyataan yang melekat di dalam dirinya.

Ketika senja, saya bertemu dengannya. Berkomitmen untuk selalu bersama dan saling menjaga satu sama lain. Berbagi suka dan duka.

Ketika senja, saya bertemu dengannya. Menyudahi hubungan yang terlalu rapuh untuk digenggam dan membungkusnya dalam sebaris kenangan. Memutuskan suatu hari nanti kami akan saling menyapa dengan menggenggam tangan orang lain.