menikah

Tes Kesehatan Pra-Nikah

“Penting ga sih tes kesehatan Pra-Nikah?”

Jawabannya, penting pake banget!

Bagi sebagian orang, tes pra-nikah ini cuma sekedar seru-seruan sebelum menikah. Bahkan salah satu obgyn yang saya kunjungi beranggapan bahwa tes kesehatan pra-nikah ini adalah tren sesaat generasi millenial.

Padahal tes kesehatan pra-nikah ini berpengaruh penting pada proses reproduksi dan kehamilan. Walaupun kita sudah saling kenal dengan pasangan kita, belum tentu kita mengetahui dengan baik kondisi kesehatan mereka. Nah, kondisi kesehatan ini tentunya mempengaruhi kondisi anak kita di masa mendatang. Jika kita mengetahui anak kita akan mempunyai kondisi kesehatan yang berpotensi buruk karena masalah kesehatan yang diturunkan secara genetis, tentunya kita bisa meminimalisir permasalahan tersebut.

Apa saja tes kesehatan yang perlu diambil? Selain tes darah lengkap, untuk perempuan sebaiknya mengambil tes TORCH. TORCH adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit ini berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil. Sayangnya tes ini kerap disepelekan karena penyakit ini tidak memperlihatkan gejala berarti sehingga sulit dicegah. Tahu-tahu anak lahir dalam keadaan cacat atau mengalami gangguan perkembangan motorik.

Tes ini memang cukup mahal, untuk meminimalisir biaya, sebaiknya mengambil tes kesehatan ini rumah sakit dan bertemu dengan obgyn. Saya pernah tes di laboratorium independen, hasilnya tidak komplit dan harus mengulang tes tersebut di rumah sakit. Sebenarnya bisa saja tes di laboratorium independen, tetapi harganya jauh lebih mahal daripada pengetesan di rumah sakit.

Selain TORCH, yang perlu diperiksa adalah kanker serviks. Biasanya setelah pemeriksaan kanker serviks, dokter akan mengusulkan untuk vaksin HPV. Pemberian vaksin ini dilakukan maksimal beberapa bulan sebelum menikah. Saya lupa tepatnya kapan, kalau tidak salah 6 bulan sebelum menikah.

Kalau perempuan yang akan menikah sudah bekerja, sebaiknya tanyakan ke asuransi kantor mengenai coverage tes TORCH, tes kanker serviks dan vaksin HPV. Lumayan kan kalau dicover kantor, uangnya bisa dipakai untuk tambah-tambah kawinan, hehe.

Lampu Hias

Perempuan adalah cahaya untuk sebuah keluarga. Jika diibaratkan, perempuan adalah lampu hias dengan ornamen cantik nan menarik yang akan digunakan untuk menghias rumah. Ia harus serasi dengan rumah yang akan dihias. Jika kita memiliki rumah dengan adat jawa, tentunya kita ingin memiliki lampu hias dengan ornamen jawa pula. Sangat sedikit yang menginginkan rumahnya dihiasi oleh lampu hias yang berbeda motif dan ornamen.

Pemilihan lampu hias selalu dipenuhi problematika. Pemilihannya tidak hanya melibatkan satu dua orang tapi semua orang yang berkepentingan dengan rumah tersebut. Walaupun kita sangat menyukai lampu hias tersebut, jika ia tidak cocok dengan rumah yang akan kamu hias atau ada yang tidak setuju, tentunya lampu hias tersebut akan ditolak. Keselarasan dalam sebuah rumah adalah salah satu hal penting.

Jika rumah tersebut dipaksakan untuk menggunakan lampu hias yang tidak disukai oleh anggota keluarga yang lain, maka tak perlu heran, suatu saat lampu hias itu akan dirusak oleh mereka yang membencinya. Apakah kita bisa membayangkan lampu yang kita sayangi dirusak oleh orang yang kita sayangi pula? Apa kita bisa memilih antara lampu hias dan rumah?

Menikah? Err

Akhir-akhir ini saya ingin tinggal di luar negeri. Alasannya sederhana dan tercela, saya bosan dengan pertanyaan, “Kapan nikah? Mana undangannya?”

Biasanya ketika mendapat pertanyaan tersebut, saya menjawab, “Insyaallah secepatnya. Doain aja ya.”

Sialnya, setelah itu jawaban saya akan dilanjuti dengan pertanyaan, siapa calon suami saya, apa pakerjaan si calon suami, dan beragam pertanyaan lainnya. Padahal ketika saya melontarkan jawaban tersebut, saya hanya ingin didoakan cepat menikah. Siapa tahu semakin banyak yang mendoakan, semakin cepat saya menikah.

Kadang saya menjawab pertanyaan di atas hanya dengan tersenyum kecil dan memilih diam. Tapi ternyata hal ini tidak cukup karena biasanya saya akan dikomentari. Ada yang menasehati saya tentang pernikahan, ada juga yang berkomentar nyinyir.

Kenapa belum nikah? Jangan suka pilah-pilih calon. Perempuan sekarang itu karena sekolahnya tinggi dan karirnya bagus, biasanya suka milih maunya yang begini, yang begitu. Padahal kalau udah nemu yang baik, ga ngerokok, ga minum (mabuk-mabukan), ga main perempuan, dan ga suka mukul, ya langsung dinikahi.

Lama kelamaan, saya mulai merasa bosan menghadapi kondisi tersebut. Akhirnya saya mulai melontarkan pertanyaan aneh, “Kenapa sih kita harus menikah?”

(more…)

Hitungan Matematika

Percaya ga sih, orang menikah punya hitungan matematika yang ga logis, ga cuma soal uang tapi juga soal energi.

Kalau masalah uang, secara matematis gaji saya ga cukup untuk menghidupi anak-anak saya sampai sebesar sekarang. Tapi percaya deh, Tuhan sudah menetapkan rezeki kita, entah dari mana asalnya. Ingat kalau lajang itu ga akan pernah lebih kaya dari yang sudah menikah karena rezeki yang dikasih hanya untuk menghidupi diri mereka sendiri.

Nah, kalau masalah energi, pasti ada tambahan energi yang beda ketika kita menikah atau bahkan punya anak. Dulu saya selalu bayangkan menikah itu melelahkan karena harus kerja dan ngurus keluarga. Tapi ternyata setelah dijalani ga kok karena semua pasti dicukupkan oleh Tuhan. Jadi ga perlu takut untuk menikah kan?

Engineer yang harus menempuh lebih dari enam ratus kilometer setiap akhir pekan untuk bertemu keluarga, dalam obrolan singkat setelah nyemil dan makan siang pelatihan.

Nikah = Belanja

Pacaran itu harus buka mata selebar-lebarnya. Kalau udah nikah, harus nutup mata serapet-rapetnya. Ga boleh plarak-plirik. Makanya nyari pasangan buat nikah itu sama kaya belanja baju. Lu harus ngubek-ngubek seluruh mall buat dapetin baju yang tepat dan harganya murah. Jangan sampai lu buru-buru belanja baju cuma karena nafsu sesaat. Pasti nyeselnya banget-banget deh, apalagi kalau setelah lu beli baju, ternyata di toko sebelah ada baju yang lebih bagus dan lebih murah pula. Itu pasti nyesek banget. Mirip kan sama pernikahan? Bedanya, lu ga bisa cerai begitu aja ketika lu nemuin orang yang lu rasa jodoh lu.

Seorang Penggemar Mac ‘n Cheese, dalam sebuah percakapan absurd ketika makan malam.

Kenapa Harus Sendiri?

Kenapa ya orang selalu nunggu mapan dulu saat mau nikah? Bukannya menuju mapan berdua lebih menyenangkan daripada harus berjalan sendiri? Susah senang bisa dilalui bareng, bisa saling mendukung, dan ada orang yang selalu mengingatkan bahwa apa yang kita kerjakan itu memang untuk dia.

Dokter Gigi Rocker, dalam sebuah perawatan orthodonti