Catatan Ibu

Catatan Ibu #8: Biar Allah Yang Menjagamu

Nak, mungkin Ibu tidak sama seperti ibu-ibu yang lain. Ibu tidak bisa setiap saat menemanimu bermain. Ibu juga tidak selalu ada ketika kamu merasa sedih, takut, dan kecewa. Namun, Ibu selalu berusaha yang terbaik untukmu, berada di sisimu dan mendukung apapun setiap keputusan yang kamu buat. Ibu selalu berdoa biar Allah yang menjagamu. Ibu hanya bisa meminta pertolongan Allah karena Ibu hanya manusia yang amat lemah dan tidak berdaya tanpa kuasa Allah.

Ibu tahu betapa beratnya kehidupan. Terkadang kehilangan arah, bingung untuk melangkahkan kaki dan menetapkan tujuan. Maka ketika kamu kebingungan, temui Allah ketika tengah malam, saat sebagian orang terlelap dalam buaian mimpi. Percayalah, Nak, Allah akan senantiasa mendengarkan keluh kesahmu dengan sebaik-baiknya. Allah akan berusaha menenangkan hatimu. Ingat satu hal, jangan mengukur kebaikan Allah dari “apa yang kita dapatkan” karena terkadang Allah bekerja lewat “apa yang hilang” dari kehidupan kita.

Peluk dan cium,

Ibu

Advertisements

Catatan Ibu #7: Matahari Pagi

Mungkin kamu akan menganggap terbangun di pagi hari ketika matahari terbit adalah sesuatu yang biasa. Bagi Ibu, melihat matahari terbit selalu meninggalkan perasaan tersendiri. Sejak kecil, Ibu sudah mulai beraktivitas ketika matahari masih berada dalam pelukan malam. Ibu pernah membenci keadaan tersebut karena semua masih bermimpi dan Ibu harus pergi menembus dingin bersama mereka yang terpaksa pergi demi sesuap nasi.

Tapi benci tak selamanya di hati. Lama-lama Ibu jatuh cinta melihat matahari terbit. Di perjalanan, Ibu melihat bagaimana malam berubah menjadi pagi. Perlahan-lahan matahari menyeruak memecah langit. Cahaya jingga kemerahan mengintip dari balik awan. Sinar lembutnya membelai dan merasuk melalui celah-celah kecil. Menghembus kabut yang berlari menjauhi. Memberikan kehangatan dan kehidupan seperti dirimu yang telah memberikan Bapak dan Ibu pengharapan akan hari yang baru dan penuh senyuman.

Terima kasih, Nak. Telah menjadi matahari pagi untuk Bapak dan Ibu.

Peluk dan cium,

Ibu

Catatan Ibu #6: Patah Hati

Ibu pernah mengalami berbagai macam patah hati, mulai yang ringan hingga yang sangat menyakitkan dan membuat Ibu hampir gila. Tapi Ibu tidak pernah mengalami patah hati yang seperti ini, ketika kamu memutuskan untuk berhenti menyusu dan mencari kenyamanan dalam bentuk yang lain. Ibu menangis tersedu-sedu, meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.

Tapi seperti yang dikatakan oleh Bapak, kejadian ini adalah salah satu pembelajaran untuk Bapak dan Ibu. Sebagai orang tua, kami harus bersiap untuk melepaskanmu, membiarkan dirimu tumbuh dan dewasa. Tidak selamanya kamu menjadi anak kecil yang harus dilindungi dan bergantung kepada Bapak dan Ibu.

Suatu hari nanti, kamu pun akan mengalami patah hati. Entah karena cinta, pekerjaan, atau apapun di dalam hidupmu. Merasa terpuruk dan kecewa seperti yang Ibu rasakan saat ini. Ketika perasaan itu datang, ingat selalu, Bapak dan Ibu ada disampingmu.

Peluk dan cium,

Ibu

Catatan Ibu #5: Cantik

Ibu tahu kadang-kadang dunia bisa begitu kejam terhadap perempuan, apalagi ketika perempuan harus memenuhi standar kecantikan yang ditentukan oleh masyarakat. Tapi ingat selalu, nak, Bapak dan Ibu akan selalu menyayangimu apa adanya. Bersinarlah dengan kecantikan yang kamu miliki.

Peluk dan cium,

Ibu

Catatan Ibu #4: Grit

Ibu baru mengetahui istilah “grit” tadi siang ketika menemani kamu tidur. Angela Lee Duckworth dalam Ted Talks membahas satu hal yang sangat menarik, yaitu mengenai pentingnya grit sebagai salah satu kunci kesuksesan. Grit adalah perseverance (ketekunan) dan passion (gairah) untuk menuntaskan sebuah tujuan jangka panjang.

Menarik bukan? Tapi yang membuat Ibu lebih tertarik adalah kalimat penutup yang disampaikan, “In other words, we need to be gritty about getting our kids grittier.”

Mari menjadi gritty bersama, Nak.

Peluk dan cium,

Ibu

Catatan Ibu #3: Bosan Jadi Pegawai

Suatu hari nanti, ketika kamu sudah bekerja, akan ada saat dimana kamu merasa bosan dan lelah. Ingin membuka usaha sendiri yang lebih sesuai dengan keinginan dan minatmu. Dalam bayanganmu, membuka usaha sendiri terasa lebih menyenangkan karena bisa mengatur waktu sesuka hati. Menyesuaikan dengan ritme hidupmu. Kamu tidak merasa sedang bekerja karena kamu melakukan hal yang kamu sukai.

Tapi percayalah, nak, itu hanya ilusi. Sebuah ilusi yang menyilaukan dan terkadang membutakan.

Eits, tidak berarti Bapak dan Ibu tidak mendukung keputusanmu untuk memulai usaha sendiri. Bapak dan Ibu selalu mendukung apapun pilihanmu. Bapak dan Ibu ingin kamu benar-benar memahami baik dan buruknya setiap pilihanmu.

Ketika kamu memutuskan untuk mempunyai usaha sendiri, maka kamu harus mencurahkan segalanya. Diperlukan kerja keras dan dedikasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Saat perasaan lelah dan ingin berhenti muncul, ingat satu hal, mundur tidak akan membuat hidupmu lebih mudah.

Peluk dan cium,

Ibu

Catatan Ibu #2: Rencana Hidup

Ada yang bilang hidup itu perlu direncanakan dengan baik agar tak kehilangan arah. Tapi merencanakan hidup bukan pekerjaan gampang. Perlu berbagai macam analisis dan dipertimbangkan dengan baik. Sekali salah langkah, siap-siap terjerembab karena pilihan tersebut tidak bisa diulang.

Rencana hidup tidak berarti kita harus melakukan sesuatu. Kadang berdiam diri jauh lebih baik ketika hal tersebut sudah dipikirkan masak-masak.

Ingat, Nak, ketika rencana hidup yang kita miliki berkaitan dengan orang lain, jangan lupa untuk mendiskusikannya. Bagaimana pun juga, setiap keputusan yang kita buat akan berpengaruh terhadap orang tersebut. Akan tidak adil jika kita hanya menyimpan sendiri rencana tersebut.

Peluk dan cium,

Ibu