I Love You

“Do you love me?”

“Yes, I do really love you.”

“Prove it!”

“I will never let you sleep and wondering if you still matter. I will hand you the universe.”

Advertisements

Ga Bisa Move On

Pegawai #1: Ga bisa move on itu mitos. Kalau memang ga bisa move on dan masih terbayang, ya dikejar dengan segala cara.

Pegawai #2: Kalau orang yang dikejar sudah ga mau lagi gimana?

Pegawai #1: Ya sudah, pindah ke lain hati. Apapun alasannya, kalau memang masih terbayang, kenapa harus menunggu lebih dari 1-2 hari untuk kembali bersama? Yang menghalangi kita untuk kembali adalah ego dan perasaan ga mau kalah. Kalau kita berada di pihak yang diputusin, yang kita inginkan adalah mendengar pengakuan kalau dia menyesal sudah memutuskan kita. Kalau kita sebagai orang yang memutuskan, kita berharap pasangan kita menyesali perbuatannya. Tapi berada di pihak manapun, jika memang masih terbayang, kenapa tidak mengusahakan untuk kembali bersama? Jangan sampai kita kehilangan seseorang yang paling disayang hanya karena ego kita terlalu besar. Ga ada salahnya kan meminta maaf atau memaafkan? When you have done something wrong admit it and be sorry. No one has choked to death from swallowing his pride.

Surat Untuk Rima di Usia 35 Tahun #3

Dear Rima,

Ternyata menulis surat dalam 30 hari berturut-turut sangat tidak realistis, sehingga aku akan mengubahnya menjadi surat dengan 30 tema. Mungkin akan lebih mudah diselesaikan sebelum tahun ini berakhir. Setuju?

Cerita kali ini mungkin sudah pernah kamu dengar berkali-kali. Bahkan sepertinya sudah pernah aku tuliskan di blog. Tapi tak ada salahnya untuk mengulanginya, bukan kehabisan ide tapi agar kamu mengingatnya selalu.

Rasanya beberapa minggu terakhir terasa begitu melelahkan dengan semua drama dan adu argumentasi. Kalau boleh memilih, aku tidak ingin melewati semua hal tersebut. Nyatanya hal tersebut harus dilewati, mau atau tidak mau. Yang menyebalkan adalah doktrin di kepala yang selalu berpikiran untuk melawan dan memperoleh kemenangan. Tidak sedikit pun terlintas untuk mengalah atau mencari win-win solution.

Namun dalam prosesnya, aku harus menahan semua emosi dan terpaksa harus mengalah. Bukan tak ingin memenangkan adu argumentasi tersebut, tapi aku harus memilih menjadi baik, ketimbang menjadi benar. Apa gunanya memenangkan semua adu argumentasi jika ternyata malah menyakiti orang lain. To some people we can never be right, and we don’t have to be. Let’s take a breath and swallow our pride when someone says something we believe to be wrong. We don’t have to prove them so.

Aku tahu rasanya sungguh berat. Ada tangis yang tercekat di kerongkongan. Ada marah yang memburu di dada. Tapi memilih untuk berhenti di tengah pertengkaran akan lebih baik. Setiap keputusan yang muncul ketika marah mendera hanya akan menyisakan penyesalan. Satu lagi, jika kamu melihat tanda-tanda bahwa orang yang sedang kamu ajak beradu argumentasi mulai mengalah, maka berhenti. Jangan teruskan karena ketika kamu memilih untuk meneruskan, maka kamu akan kehilangan segalanya.

Semoga Tuhan memberikan umur panjang sehingga kamu bisa membaca surat ini. Have fun and be happy my dear future Rima wherever you are.

Ah, Perempuan #18

“Kamu kenapa ga balas chat dari aku?”

“Aku lagi kerja, sayang.”

“Bohong! Buktinya kamu online di whatsapp, instagram kamu active now.”

“Aku beneran kerja, sayang.”

“Aku ga percaya, aku mau video call sama kamu.”

“Ga bisa, aku lagi kerja.”

“Aku mau video call, SEKARANG!”

Karena cinta dan cemburu hanya beda tipis seperti benang.

Ah, perempuan.

Surat Untuk Rima di Usia 35 Tahun #2

Dear Rima,

Baru hari ketiga dan aku sudah gagal untuk menulis secara rutin. Bahkan kemalasan tersebut sudah mulai terlihat pada hari kedua, aku tidak menulis satu kalimat pun. Alasannya klasik, sibuk. Nyatanya aku memiliki waktu luang yang cukup. Mungkin rasa malas lebih besar daripada keinginanku dan aku tak sanggup untuk memeranginya.

Ngomong-ngomong soal perang, aku teringat sebuat kutipan yang cukup menarik “Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind.

Kalau dipikir-pikir, kutipan tersebut cukup klise namun ada benarnya. Setiap orang memiliki perang yang harus dihadapi setiap harinya. Perang yang harus dilewati untuk bertahan dan berjuang hidup. Bukan perang secara fisik yang melukai raga hingga berdarah-darah, terkadang hanya perang di dalam pikiran. Melawan ketakutan, diskriminasi, bahkan pemikiran jahat yang berkecamuk di kepala. Tak ada yang mudah dalam menghadapi peperangan tersebut. Mereka yang terlihat sangat kuat, bisa jadi seseorang yang sangat rapuh dan mudah hancur begitu saja hanya karena sebuah nyinyiran pedas.

Lalu, mengapa kita harus menambah daftar peperangan yang harus dihadapi oleh orang lain jika kita bisa berbuat baik. Tanpa perlu memberikan penilaian buruk dan berkata kasar tentang hidup mereka, hanya untuk menyenangkan ego pribadi. Akan lebih mudah jika kita berusaha untuk menebarkan cinta, dibanding benih kebohongan dan kebencian. Mereka sudah cukup menderita dengan harus menanggung berbagai macam permasalahan tersebut. Let’s not adding another unnecessary struggle by going against each other.

Semoga Tuhan memberikan umur panjang sehingga kamu bisa membaca surat ini. Have fun and be happy my dear future Rima wherever you are.

Surat Untuk Rima di Usia 35 Tahun #1

Dear Rima,

Kamu tahu berapa kali aku harus merevisi surat ini? Setidaknya lebih dari sepuluh kali, mungkin lebih. Aku pun sudah lupa karena berusaha untuk menyesuaikan dengan kondisi terkini. Surat ini aku tulis pertama kali ketika aku pertama kali bekerja. Namun tidak pernah aku selesaikan dan aku lupa penyebabnya. Mungkin aku ingin menjadikan surat ini sebagai sebuah catatan yang sempurna,  sebagai pengingat dirimu di masa yang akan datang mengenai keadaanmu di masa lalu. Berharap agar  di kemudian hari ketika kamu membacanya, kamu dapat tersenyum manis dan menatap dunia dengan lebih baik lagi.

Karena aku tidak yakin bisa menuliskannya dalam satu buah tulisan, rencananya aku akan membagi surat ini menjadi 30 bagian. Akan kutuliskan selama 30 hari berturut-turut. Semoga saja aku bisa bertahan untuk menulis selama 30 hari dan tidak mencari-cari alasan untuk melewatkannya.

Dari mana kita akan memulai surat ini? Mungkin berawal dari kenyataan bahwa saat ini aku adalah seorang istri dan juga ibu seorang anak yang masih bekerja.

Ah, tapi untuk sebuah tulisan awal, mari kita memulainya dengan hal sederhana yang terpikirkan oleh diriku secara tidak sengaja ketika dalam perjalanan menuju ke dokter gigi.

Satu hal yang sering terlupakan, sebagian dari kita berpikiran bahwa setiap orang akan mengalami milestones yang sama. Lulus kuliah, bekerja, menikah, punya anak, dan hidup bahagia selamanya. Sehingga ketika berumur 30 tahun, kita sudah memiliki karir yang baik, pasangan yang sangat mencintai kita apa adanya, dan anak yang lucu serta menggemaskan. Tidak hanya satu anak, bahkan ada juga yang sudah memiliki dua anak. Nyatanya ada yang baru memulai karir, memungut kepingan hati yang berceceran setelah mengetahui pasangannya berselingkuh padahal sudah memiliki anak, atau belum dikaruniai anak walaupun telah menikah selama lebih dari dua tahun karena terkena penyakit imunitas. Semua hal tersebut mungkin tidak pernah terbayangkan dalam benak kita, yang diinginkan adalah hidup yang sempurna sesuai rencana. Tapi itulah hidup. Tak perlu iri, sedih, dan kecewa ketika hidup tidak sesuai rencana. Hal yang terasa berat dan tidak menyenangkan justru bisa berubah menjadi hal baik dan datang dari arah yang tidak terduga. Membuat kita sangat nyaman di kemudian hari.

Semoga Tuhan memberikan umur panjang sehingga kamu bisa membaca surat ini. Have fun and be happy my dear future Rima wherever you are.