Thought

Yah, Namanya Juga Hidup

Akhir pekan yang lalu, secara tidak sengaja saya bertemu dengan teman SMP saya ketika senam hamil. Ia cukup kaget ketika saya menegurnya. Sejenak kami bernostalgia dan saling memberikan kabar terbaru mengenai kehidupan kami masing-masing. Yang lucu dari pertemuan tersebut, ia lupa nama saya tapi ingat nama kecengan saya.

Beberapa bulan yang lalu, saya pun secara tidak sengaja berkomunikasi kembali dengan teman SMA saya. Kebetulan teman saya tersebut bekerja sebagai klien dan saya harus mengirimkan dokumen. Melihat namanya yang cukup familiar, saya pun memberanikan diri untuk menanyakan dimana ia bersekolah ketika saya meneleponnya untuk membahas dokumen yang saya kirimkan. Ternyata ia memang satu sekolah dengan saya.

Dua kejadian tersebut, akhirnya membuat saya memutuskan untuk mencari kabar beberapa orang teman yang dulu pernah dekat dengan saya. Beberapa orang teman masih bisa saya hubungi karena nomornya tidak berganti tapi ada juga yang nomornya telah berganti sehingga saya harus menghubungi melalui media sosial. Namun sayangnya, ada pula yang tidak bisa dihubungi dan tidak bisa saya temukan di media sosial.

Walaupun saya telah mengetahui kabar teman-teman tersebut secara langsung, iseng-iseng saya pun mencari tahu jejak digital mereka melalui Google. Sebenarnya yang paling membuat saya penasaran adalah teman-teman yang tidak bisa saya hubungi dan tidak bisa ditemukan di media sosial. Hasil pencarian tersebut membuat saya cukup terhenyak. Misalnya, saya menemukan blog teman saya yang digunakan sebagai terapi untuk mengatasi penyakit bipolar atau putusan cerai di Pengadilan Agama.

Banyak hal yang telah berubah. Hidup seseorang yang dulunya terlihat baik-baik saja, ternyata bisa jungkir balik seperti roller coaster. Jika ditanya bagaimana hidup mereka bisa berubah tentunya tidak akan mudah menjawabnya. Ada cerita panjang dibalik itu semua yang tentunya tidak semua hal menyenangkan untuk diceritakan.

Yah, namanya juga hidup. Mungkin itu yang bisa dijawab ketika ada yang bertanya mengapa hidup seseorang bisa berbeda jauh dengan image yang tertanam di kepala kita. Maka tak heran jika ada yang bertemu dengan kita secara tidak sengaja dan berkata, “Gila lu beda banget ya!”

Entah mengapa, saya malah teringat dengan celotehan suami saya beberapa waktu yang lalu.

“Dulu Ibumu ini anak gaul, Nak. Mana ada jam delapan malam sudah di tempat tidur. Biasanya Bapak bertemu Ibu sedang kongkow-kongkow. Sekarang Ibu sibuk menghadapi kamu yang rewel minta main padahal sudah waktunya tidur.”

Saya pun hanya tertawa mendengar celotehan suami saya. Kalau dipikir-pikir, hidup memang sudah berubah dalam beberapa tahun terakhir. Prioritas dan kondisi saat ini memaksa saya untuk menyesuaikan diri. Sepertinya hal ini juga yang terjadi dengan teman-teman saya. Semoga saja mereka tetap bahagia, terlepas dari semua hal buruk yang menimpa.

Advertisements

Ga Bisa Move On

Pegawai #1: Ga bisa move on itu mitos. Kalau memang ga bisa move on dan masih terbayang, ya dikejar dengan segala cara.

Pegawai #2: Kalau orang yang dikejar sudah ga mau lagi gimana?

Pegawai #1: Ya sudah, pindah ke lain hati. Apapun alasannya, kalau memang masih terbayang, kenapa harus menunggu lebih dari 1-2 hari untuk kembali bersama? Yang menghalangi kita untuk kembali adalah ego dan perasaan ga mau kalah. Kalau kita berada di pihak yang diputusin, yang kita inginkan adalah mendengar pengakuan kalau dia menyesal sudah memutuskan kita. Kalau kita sebagai orang yang memutuskan, kita berharap pasangan kita menyesali perbuatannya. Tapi berada di pihak manapun, jika memang masih terbayang, kenapa tidak mengusahakan untuk kembali bersama? Jangan sampai kita kehilangan seseorang yang paling disayang hanya karena ego kita terlalu besar. Ga ada salahnya kan meminta maaf atau memaafkan? When you have done something wrong admit it and be sorry. No one has choked to death from swallowing his pride.

Surat Untuk Rima di Usia 35 Tahun #3

Dear Rima,

Ternyata menulis surat dalam 30 hari berturut-turut sangat tidak realistis, sehingga aku akan mengubahnya menjadi surat dengan 30 tema. Mungkin akan lebih mudah diselesaikan sebelum tahun ini berakhir. Setuju?

Cerita kali ini mungkin sudah pernah kamu dengar berkali-kali. Bahkan sepertinya sudah pernah aku tuliskan di blog. Tapi tak ada salahnya untuk mengulanginya, bukan kehabisan ide tapi agar kamu mengingatnya selalu.

Rasanya beberapa minggu terakhir terasa begitu melelahkan dengan semua drama dan adu argumentasi. Kalau boleh memilih, aku tidak ingin melewati semua hal tersebut. Nyatanya hal tersebut harus dilewati, mau atau tidak mau. Yang menyebalkan adalah doktrin di kepala yang selalu berpikiran untuk melawan dan memperoleh kemenangan. Tidak sedikit pun terlintas untuk mengalah atau mencari win-win solution.

Namun dalam prosesnya, aku harus menahan semua emosi dan terpaksa harus mengalah. Bukan tak ingin memenangkan adu argumentasi tersebut, tapi aku harus memilih menjadi baik, ketimbang menjadi benar. Apa gunanya memenangkan semua adu argumentasi jika ternyata malah menyakiti orang lain. To some people we can never be right, and we don’t have to be. Let’s take a breath and swallow our pride when someone says something we believe to be wrong. We don’t have to prove them so.

Aku tahu rasanya sungguh berat. Ada tangis yang tercekat di kerongkongan. Ada marah yang memburu di dada. Tapi memilih untuk berhenti di tengah pertengkaran akan lebih baik. Setiap keputusan yang muncul ketika marah mendera hanya akan menyisakan penyesalan. Satu lagi, jika kamu melihat tanda-tanda bahwa orang yang sedang kamu ajak beradu argumentasi mulai mengalah, maka berhenti. Jangan teruskan karena ketika kamu memilih untuk meneruskan, maka kamu akan kehilangan segalanya.

Semoga Tuhan memberikan umur panjang sehingga kamu bisa membaca surat ini. Have fun and be happy my dear future Rima wherever you are.

Ah, Perempuan #18

“Kamu kenapa ga balas chat dari aku?”

“Aku lagi kerja, sayang.”

“Bohong! Buktinya kamu online di whatsapp, instagram kamu active now.”

“Aku beneran kerja, sayang.”

“Aku ga percaya, aku mau video call sama kamu.”

“Ga bisa, aku lagi kerja.”

“Aku mau video call, SEKARANG!”

Karena cinta dan cemburu hanya beda tipis seperti benang.

Ah, perempuan.

Surat Untuk Rima di Usia 35 Tahun #2

Dear Rima,

Baru hari ketiga dan aku sudah gagal untuk menulis secara rutin. Bahkan kemalasan tersebut sudah mulai terlihat pada hari kedua, aku tidak menulis satu kalimat pun. Alasannya klasik, sibuk. Nyatanya aku memiliki waktu luang yang cukup. Mungkin rasa malas lebih besar daripada keinginanku dan aku tak sanggup untuk memeranginya.

Ngomong-ngomong soal perang, aku teringat sebuat kutipan yang cukup menarik “Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind.

Kalau dipikir-pikir, kutipan tersebut cukup klise namun ada benarnya. Setiap orang memiliki perang yang harus dihadapi setiap harinya. Perang yang harus dilewati untuk bertahan dan berjuang hidup. Bukan perang secara fisik yang melukai raga hingga berdarah-darah, terkadang hanya perang di dalam pikiran. Melawan ketakutan, diskriminasi, bahkan pemikiran jahat yang berkecamuk di kepala. Tak ada yang mudah dalam menghadapi peperangan tersebut. Mereka yang terlihat sangat kuat, bisa jadi seseorang yang sangat rapuh dan mudah hancur begitu saja hanya karena sebuah nyinyiran pedas.

Lalu, mengapa kita harus menambah daftar peperangan yang harus dihadapi oleh orang lain jika kita bisa berbuat baik. Tanpa perlu memberikan penilaian buruk dan berkata kasar tentang hidup mereka, hanya untuk menyenangkan ego pribadi. Akan lebih mudah jika kita berusaha untuk menebarkan cinta, dibanding benih kebohongan dan kebencian. Mereka sudah cukup menderita dengan harus menanggung berbagai macam permasalahan tersebut. Let’s not adding another unnecessary struggle by going against each other.

Semoga Tuhan memberikan umur panjang sehingga kamu bisa membaca surat ini. Have fun and be happy my dear future Rima wherever you are.