Thought

Catatan Ibu #4: Grit

Ibu baru mengetahui istilah “grit” tadi siang ketika menemani kamu tidur. Angela Lee Duckworth dalam Ted Talks membahas satu hal yang sangat menarik, yaitu mengenai pentingnya grit sebagai salah satu kunci kesuksesan. Grit adalah perseverance (ketekunan) dan passion (gairah) untuk menuntaskan sebuah tujuan jangka panjang.

Menarik bukan? Tapi yang membuat Ibu lebih tertarik adalah kalimat penutup yang disampaikan, “In other words, we need to be gritty about getting our kids grittier.”

Mari menjadi gritty bersama, Nak.

Peluk dan cium,

Ibu

Be A Fighter

I finally get to LA, graduate. I have a kid in collage and I have to pursue my dream because if I don’t, what am I teaching my son. So, I moved to California with $700 in my pocket and my toddler. 

And I have to fight the good fight because people are telling me I can’t. You can’t do this, you can’t. Are you crazy? You’re moving to California with your son? You’ll never make it.

I was 26 when I was decided to come here. There’s the age thing. Oh, you’re too old.

If you listen to people, and if you allow people to project their fears onto you. You wont live.

What if I believed those people who told me that when I became pregnant in college that I wouldn’t finish? I walked accross that stage with my son on my hip and I collected my degree, my diploma. 

I didn’t hear the naysayers when they were like, you’re too old to California. If you don’t hit by 25, you’re not going to make it. I will be 46 this year. I am just touching the surface. I am just getting started.

Taraji P. Henson – Crystal + Lucy Awards 2016

Catatan Ibu #3: Bosan Jadi Pegawai

Suatu hari nanti, ketika kamu sudah bekerja, akan ada saat dimana kamu merasa bosan dan lelah. Ingin membuka usaha sendiri yang lebih sesuai dengan keinginan dan minatmu. Dalam bayanganmu, membuka usaha sendiri terasa lebih menyenangkan karena bisa mengatur waktu sesuka hati. Menyesuaikan dengan ritme hidupmu. Kamu tidak merasa sedang bekerja karena kamu melakukan hal yang kamu sukai.

Tapi percayalah, nak, itu hanya ilusi. Sebuah ilusi yang menyilaukan dan terkadang membutakan.

Eits, tidak berarti Bapak dan Ibu tidak mendukung keputusanmu untuk memulai usaha sendiri. Bapak dan Ibu selalu mendukung apapun pilihanmu. Bapak dan Ibu ingin kamu benar-benar memahami baik dan buruknya setiap pilihanmu.

Ketika kamu memutuskan untuk mempunyai usaha sendiri, maka kamu harus mencurahkan segalanya. Diperlukan kerja keras dan dedikasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Saat perasaan lelah dan ingin berhenti muncul, ingat satu hal, mundur tidak akan membuat hidupmu lebih mudah.

Peluk dan cium,

Ibu

Catatan Ibu #2: Rencana Hidup

Ada yang bilang hidup itu perlu direncanakan dengan baik agar tak kehilangan arah. Tapi merencanakan hidup bukan pekerjaan gampang. Perlu berbagai macam analisis dan dipertimbangkan dengan baik. Sekali salah langkah, siap-siap terjerembab karena pilihan tersebut tidak bisa diulang.

Rencana hidup tidak berarti kita harus melakukan sesuatu. Kadang berdiam diri jauh lebih baik ketika hal tersebut sudah dipikirkan masak-masak.

Ingat, Nak, ketika rencana hidup yang kita miliki berkaitan dengan orang lain, jangan lupa untuk mendiskusikannya. Bagaimana pun juga, setiap keputusan yang kita buat akan berpengaruh terhadap orang tersebut. Akan tidak adil jika kita hanya menyimpan sendiri rencana tersebut.

Peluk dan cium,

Ibu

Catatan Ibu #1: Prelude

Ketika catatan ini dibuat, kamu masih sangat kecil. Kamu belum bisa membaca. Bahkan belum bisa membalikan tubuh sendiri tanpa bantuan Bapak atau Ibu. Kamu mungkin belum bisa mengerti dunia yang kita tinggali tidak sempurna. Tidak hanya berisikan gelak tawa. Ada kalanya kita harus berduka dan mengaku kalah.

Tapi Bapak dan Ibu berdoa dan berharap, semoga ketidaksempurnaan tersebut tidak menghalangimu untuk selalu mensyukuri apa yang kamu miliki. Hanya rasa syukur yang akan membuat dirimu tidak berkecil hati ketika menghadapi kenyataan hidup yang mengecewakan.

Peluk dan cium,

Ibu

Sembilan Plus Plus

“Kapan lahiran?”

“Perutnya belum mules?”

“Kok masih kerja? Belum cuti? Sudah sembilan bulan, kan?”

Sebaiknya pertanyaan tabu ini tidak pernah ditanyakan pada perempuan yang sedang hamil tua dan menunggu detik-detik kelahiran anaknya. Alih-alih peduli, pertanyaan seperti ini hanya akan menyakiti si ibu. Membuat ia semakin merasa tertekan dan stres karena ia sendiri pun tidak pernah tahu kapan anaknya memberikan “sinyal cinta”. Padahal salah satu hal yang membuat si ibu akan lebih mudah melahirkan adalah perasaan yang senang dan bahagia.

Bukankah lebih baik diam-diam mendoakan agar si ibu segera melahirkan dengan selamat? Toh, kita hanya penonton. Yang berjuang mati-matian adalah si ibu.