Pilah Pilih Dokter Kandungan dan Tempat Melahirkan

Sama seperti ibu hamil lainnya, setelah tahu saya positif hamil, saya pun sibuk menjelajahi berbagai macam forum dan membaca postingan blog mengenai dokter kandungan yang bagus dan rumah sakit yang cocok (sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianut dan memenuhi kriteria yang diinginkan).

Sembari mencari dokter dan rumah sakit, saya memeriksakan diri di RS JMC karena dekat dengan rumah dan kantor. Dokternya pun bukan dokter terkenal yang namanya kerap muncul di berbagai macam forum dan postingan blog. Saya mencari dokter yang antriannya paling sedikit. Eh, ternyata keterusan! Haha. Ini bukannya disengaja. Perjalanan mencari dokter kandungan dan rumah sakit tidak semudah yang dibayangkan. Ada saja masalahnya, mulai jadwal dokter yang tidak cocok, tempat melahirkan yang tidak menyenangkan pelayanannya atau lokasinya terlalu jauh dari rumah dan kantor.

Padahal di awal pencarian saya sudah optimis, “Jakarta gitu loh, masa ga ada dokter kandungan dan rumah sakit yang cocok”. Tapi takdir berkata lain, hingga waktunya melahirkan, saya tetap di rumah sakit tersebut. RS JMC ini bukan tidak ada celanya. Malah banyak banget kekurangannya, tetapi setelah saya timbang-timbang dengan rumah sakit lain, eh ada beberapa kelebihan yang tidak dimiliki rumah sakit lain.

  1. Lokasi rumah sakit dekat dengan rumah dan tempat kerja, sehingga jika terdapat kondisi darurat bisa segera langsung ditangani. Bebas titik-titik macet.
  2. Rumah sakit pro asi tapi sayangnya tidak diajarkan cara menyusui seperti di RSIA.
  3. Memiliki bangsal khusus ibu melahirkan. Jika melahirkan spontan (normal), kita tidak bisa memesan ruangan VIP, sehingga besar kemungkinan dapat ditempatkan di ruangan kelas 1, 2, atau 3. Jika tidak ada bangsal khusus, maka bayi tidak mungkin dirawat gabung dengan ibu. Bisa saja pasien lain di kamar tersebut memiliki penyakit menular sehingga tidak mungkin disatukan dengan bayi yang baru lahir.
  4. Tempat parkir nyaman. Pe er banget kalau tempat parkirnya susah, terutama untuk yang menjaga atau menjenguk. Eh, perlu juga deh selama masa kontrol karena ga semua ibu hamil periksa ke rumah sakit dengan suaminya. Kalau harus periksa sendiri dan bawa mobil, cari parkiran aja udah bikin stres.
  5. Manajemen rumah sakit gampang dihubungi jika terdapat komplain terkait dengan pelayanan. Saya dan suami berkali-kali komplain ke manajemen mengenai pelayanan rumah sakit dan langsung ditanggapi secepatnya.
  6. Memiliki fasilitas PICU/NICU.
  7. Nomor telepon rumah sakit gampang dihubungi. Walaupun saya sudah punya jadwal dokter, biasanya saya suka mengecek lagi melalui telepon. Ga cuma jadwal dokter, kadang-kadang saya juga suka nanya berbagai macam perintilan (misalnya senam hamil, USG 4D) melalui telepon.
  8. Semua dokter kandungannya perempuan. Saya ga perlu pusing untuk pilah-pilih dokter. Di beberapa rumah sakit, ada dokter perempuan yang oke, tapi jadwalnya ga cocok dengan saya.
  9. Biaya periksa dan melahirkan lumayan murah. Sebagai gambaran kasar, biaya konsultasi dengan dokter hanya Rp 120.000. Ketika saya melahirkan, total biaya melahirkan yang saya keluarkan untuk melahirkan normal di kelas VIP kurang dari Rp 10 juta.

Nah, ga enaknya pun ada dan menurut saya hal yang ga enak ini bisa dijadikan catatan mencari dokter kandungan dan rumah sakit.

  1. Tidak ada buku kehamilan. Catatan medis mengenai kehamilan hanya dicatatkan pada medical record. Pasien hanya diberikan kartu kontrol berisi tanggal periksa, berat badan, dan tensi darah. Karena tidak ada buku kehamilan, agak sulit jika harus pindah dokter atau rumah sakit. Saran saya, sebaiknya jika menemukan rumah sakit seperti ini, kita harus rajin mencatat hasil diagnosis dokter, obat yang diberikan, dan permasalahan lainnya seputar kehamilan.
  2. Dokternya ga banyak nyuruh tes ini itu, jadi harus saya yang pro aktif minta, termasuk tes darah secara berkala dan USG 4D. Tapi ini subyektif, untuk sebagian orang sih menyenangkan karena ga harus keluar uang banyak. Oh iya, akhirnya saya ga ambil USG 4D karena ketika saya periksa ke rumah sakit lain, dokternya ga praktek dan usia kandungan saya sudah tidak diperbolehkan lagi untuk USG 4D.
  3. Sistem antri per ke datangan, bukan sistem booking slot waktu. Pokoknya siapa cepat, dia dapat. Saya pernah ngantri sampe 3 jam.
  4. Dokter telat datang kalau praktik sore atau malam. Ga cuma dokter saya, tetapi dokter yang lain juga.
  5. Ga ada kelas senam hamil. Ini keliatannya emang penting ga penting. Berdasarkan pengalaman saya ikut kelas senam hamil, biasanya ga cuma dilatih gerakan peregangan untuk memperlancar kehamilan dan melahirkan. Tetapi juga ada edukasi mengenai persalinan dan laktasi.
  6. Sebagai mamak-mamak baru, homecare (bidan/suster datang ke rumah) berguna banget untuk membantu mengajarkan mengurus anak, mulai cara memandikan atau pijat bayi atau konsultasi laktasi. Tapi kalau di rumah dibantu oleh orang tua atau mertua, layanan ini memang keliatan ga guna banget.
  7. Menyusui itu tidak segampang yang dibayangkan. Beberapa ibu mengalami masalah yang cukup signifikan sehingga perlu dikonsultasikan secara khusus dengan dokter laktasi. Sayangnya rumah sakit ini tidak punya klinik laktasi sehingga ketika saya ingin bertanya-tanya detail tentang menyusui, rasanya kurang puas.
  8. Hanya tersedia dokter kandungan, tidak ada dokter kandungan sub spesialis.
  9. Jika harus melahirkan secara sesar, suami tidak bisa masuk ke ruang operasi.

Bagaimana dengan dokternya? Selama memeriksakan diri di RS JMC, saya berkonsultasi dengan tiga dokter, yaitu dr. Hervi Wiranti, dr. Shinta Utami, dan dr. Mariza Yustina. Yang paling cocok dengan dr. Hervi. Beliau dokter yang ramah, penjelasan yang diberikan cukup jelas dan logis. Beliau juga mau menjawab sms saya ketika hari libur, padahal saya cuma nanya ga penting, saya boleh makan steak atau tidak karena agak pusing dan sepertinya anemia. Sayangnya, beliau ga banyak mengomentari masalah bb janin. Mungkin karena badan saya kecil kali ya dan saya ingin melahirkan normal, jadi beliau ga mematok bb janin harus tinggi, yang penting di atas 2,5 kg ketika melahirkan.

Secara keseluruhan saya cukup puas. Rencananya jika punya anak kedua (Amien Ya Allah), saya akan tetap berkonsultasi dengan dr. Hervi di RS JMC. 

 

Advertisements

One comment

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s