Pamit

“Bu, kakak mau pergi.” kata saya setengah berteriak dari ruang tengah.

Dengan tergopoh-gopoh, dimana pun Ibu berada, Ibu akan menghampiri untuk mengantarkan saya. Sambil berjalan dari dalam rumah hingga ke pagar, Ibu selalu mengatakan hal yang sama, “Baca bismillahi majreha wa mursaha, bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Kemudian ketika sampai di pagar, Ibu akan memeluk dan mencium saya sambil berkata, “Hati-hati ya, sayang”. Setelah saya berpamitan, Ibu akan berdiri di depan pagar rumah kami hingga saya tidak terlihat lagi.

Dulu saya selalu menganggap kegiatan yang Ibu lakukan berlebihan. Jika Ibu sedang melakukan sesuatu, beliau akan menghentikan kegiatannya dan mengantarkan saya dengan cara khas beliau. Bahkan ketika saya sedang marah atau kesal dengan Ibu, beliau akan selalu melakukan hal yang sama.

Kejadian dua hari yang lalu membuat saya tersadar. Ibu ingin memastikan telah mengantarkan anaknya dengan baik. Bagaimana pun juga, tidak ada yang tahu, pamit yang kita lakukan adalah pamit untuk sementara atau selamanya.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s