Tukang Urut

Selama dua tahun terakhir, entah sudah berapa kali saya keseleo. Mulai yang tingkatnya ringan, seperti salah pakai hi-heels, hingga yang cukup parah dan agak-agak menyeramkan, jatuh dari metromini. Setiap kali saya keseleo atau kecelakaan kecil, orang yang pertama kali saya cari adalah TUKANG URUT. Iya, saya ga nyari dokter. Saya langsung heboh nyari tukang urut.

Masalahnya, mencari tukang urut di Jakarta itu seperti mencari pacar tukang bubur sumsum alias susah-susah gampang. Ada yang ngurutnya bagus tapi bayarannya mahal dan harus ngantri hingga berjam-jam. Ada yang bayarannya mahal dan ga ngantri tapi ngurutnya ga tokcer, harus beberapa kali ngurut, baru enak lagi. Ada lagi yang harganya murah dan ga ngantri tapi ngurutnya super ga enak, malah membuat saya tambah sakit. Nah, kalau ada yang ngurutnya bagus dan harganya murah, perjuangannya HARUS super ekstra. Tempatnya jauh dan ngantrinya minta ampun! Tapi biar pun susah, tetap saja dilakoni.

Salah satu kolega saya yang berkewarganegaraan asing pernah mengomentari kelakuan orang Indonesia yang lebih percaya tukang urut ketimbang pengobatan modern.

Percakapan bermula ketika saya menceritakan bahwa saya agak keseleo dan ingin pergi ke tukang urut di dekat kantor. Seketika itu, kolega saya langsung menatap saya seolah-olah baru saja melihat hantu. Ia pun berkomentar, “Are you insane? You should see the doctor. How if the masseur mistreated and your condition is getting worse?”

Dengan susah payah, saya menjelaskan konsep tukang urut dan cara penyembuhan yang dilakukan. Saya juga menceritakan tentang perilaku orang Indonesia, termasuk saya, yang mencari tukang urut ketika mengalami kecelakaan kendaraan bermotor.

Kolega saya hanya geleng-geleng kepala ketika mengetahui hal tersebut. Menurutnya, tindakan pengobatan alternatif hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak mampu dan tidak berpendidikan.

Sebenarnya bukan tingkat pendidikan yang membuat sebagian dari kita lebih percaya tukang urut daripada pengobatan medis modern. Saya dan sebagian orang Indonesia lainnya memilih tukang urut karena proses penyembuhannya lebih cepat sehingga tidak perlu merasakan sakit hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Tentunya waktu pengobatan yang lebih singkat dan peralatan yang lebih sederhana akan menghemat biaya.

Selain pro dan kontranya, ada hal lain yang cukup menarik dari tukang urut. Hampir sebagian besar tukang urut sudah cukup tua. Sangat sedikit tukang urut yang masih muda tapi cukup berpengalaman mengatasi keseleo dan patah tulang. Apa jadinya jika profesi ini punah karena permasalahan regenerasi?

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s