Kematian

Dulu, saya tidak terlalu memikirkan kematian. Yang terlintas di kepala saya adalah saya masih muda dan sehat sehingga kematian tidak akan mendatangi saya dalam waktu dekat. Sebuah pemikiran naif karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan mereka akan mati.

Namun sejak kematian salah satu atasan saya, saya mulai memikirkan kematian. Beberapa pemikiran aneh mengenai kematian berkelebatan di kepala saya. Untuk menghilangkan kegelisahan, saya menceritakan hal ini pada orang terdekat saya. Mereka selalu menasehati agar saya tidak terlalu memikirkan. Berbuat baiklah seakan-akan hari ini adalah hari terakhir. Tapi bagaimana, jika di detik-detik saya meninggal, ternyata saya meninggal dengan cara yang tidak baik dan seorang diri. Tentu akan sangat menyedihkan untuk saya, terlebih untuk orang yang saya tinggalkan.

Hal lainnya yang menjadi kegelisahan saya adalah kehidupan setelah kematian. Mereka yang telah mendahului saya pun tidak ada dapat menceritakan pengalaman mereka setelah kematian. Saya hanya mengetahui cerita setelah kematian dari ajaran agama. Sebuah kebenaran yang tidak bisa saya nalar karena tidak melihat bukti secara nyata. Tapi saya tetap merasa takut menderita di akhirat. Saya pun mulai bertanya-tanya. Apakah semua amalan-amalan yang saya lakukan di dunia sudah cukup untuk akhirat? Bagaimana jika tidak cukup? Sampai kapan saya akan terkunci di neraka?

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s