MEA dan Pengemis Asing

Saya kaget ketika mendapati seorang laki-laki duduk di sebelah Belle. Seingat saya, Belle tidak pernah menyebutkan ada orang lain yang akan ikut makan malam bersama kami. Saya mencoba menerka-nerka siapa gerangan laki-laki tersebut. Untuk menghilangkan keraguan, saya mulai mendekati mereka berdua dan mendengarkan pembicaraan mereka.

Ternyata laki-laki tersebut berasal dari Filipina dan mengaku sebagai volunteer dari salah satu organisasi internasional. Ia menawarkan kue dengan harga Rp 50.000,00 sebagai bentuk donasi untuk anak-anak yatim piatu di daerah Tanah Merah, Tanjung Priuk. Jika saya tidak ingin membeli kue atau uang yang saya miliki kurang, saya dapat memberikan uang sumbangan seikhlasnya.

Saya dan Belle agak sedikit ragu dan merasa aneh. Kami pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan, seperti dokumen legal yang menunjukkan bahwa laki-laki tersebut merupakan volunteer resmi, letak panti asuhan, motivasinya menjadi volunteer, dan alasannya memilih menjadi volunteer di Indonesia.

Untuk menunjukkan keabsahannya, laki-laki tersebut menunjukkan kartu keanggotaannya. Ia juga menjelaskan alasannya memilih menjadi volunteer di Indonesia karena ia senang membantu orang lain dan organisasinya adalah organisasi internasional yang bergerak di seluruh Asia. Sayangnya, ia tidak bisa menjelaskan secara rinci mengenai panti asuhan yang dibantu.

Karena tidak puas, saya dan Belle kembali mencecarnya. Bukannya tidak mau menyumbang tapi kami merasa aneh melihat orang Filipina mencari donasi untuk panti asuhan di Indonesia.

Merasa jengah dengan pertanyaan kami, laki-laki tersebut akhirnya pergi tanpa pamit. Mukanya menyisakan sedikit kemarahan.

“Wah, ini yang namanya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Ternyata kita ga cuma digempur tenaga kerjanya, pengemisnya juga!” kata Belle dengan bersemangat setelah nelihat laki-laki tersebut pergi “Di negara ASEAN lain, mereka euforia menyambut MEA. Udah mulai kerasa di kehidupan sehari-hari mereka. Di Indonesia sih ga kerasa. Mungkin karena negara kita itu terpisah dengan laut. Beda dengan negara ASEAN lain yang berada di satu daratan. Jadi lebih gampang mobilisasinya.”

Saya tertawa sekaligus mengamini pernyataan Belle. MEA bukan lagi khayalan di depan mata. Saya sendiri sudah mengalaminya dalam satu tahun terakhir. Proyek-proyek konstruksi besar yang dikomandoi orang asing semakin menjamur. Rata-rata jabatan minimum pekerja asing adalah technical advisor. Mereka menguasai lini kepemimpinan hingga ke tingkat tertinggi.

Bagi pemilik proyek, pekerja asing dianggap lebih efektif dan efisien dalam menyelesaikan pekerjaan dibanding orang Indonesia. Mereka pun memiliki pemikiran yang out of the box dalam menyelesaikan proyek. Bahkan sanggup menghemat dana proyek hingga miliaran atau bahkan triliunan Rupiah!

Fantastis bukan?

Tapi dibalik gemerlap kesuksesan tersebut, ada banyak fakta miris tentang berkuasanya tenaga kerja asing di Indonesia. Misalnya, latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Jangan dikira semua pekerja asing tersebut memiliki pendidikan yang mumpuni dan tersertifikasi. Ada juga pimpinan proyek yang dulunya seorang tukang kayu dan hanya memiliki ijazah SMA!

Kok bisa seorang tukang kayu menjadi pimpinan proyek miliaran hingga triliunan Rupiah? Jawabannya sederhana, dedikasi dan koneksi.

Berdasarkan rumor yang beredar, si bule memiliki koneksi sesama warga negaranya yang membuat doi bisa langsung melejit dari tukang kayu ke technical advisor. Yah, agak-agak nepotisme sih. Tapi kualitas pekerjaannya tak perlu diragukan, si bule menerapkan standar kerja dan sistem manajemen dari negaranya. Setelah bertahun-tahun, kerja kerasnya membuahkan hasil. Akhirnya si bule diakui kemampuannya. Bahkan saat ini, ia membawahi engineer-engineer Indonesia yang notabene memiliki jam terbang tinggi dan/atau mempunyai gelar master dari luar negeri.

Tapi hanya segelintir pekerja asing yang memiliki kompetensi yang mumpuni seperti si bule. Di beberapa kasus, mereka saling berbagi pekerjaan, bukan dengan penilaian kompetensi, melainkan hubungan pertemanan. Yap, hanya bermodalkan koneksi, pekerja asing bisa mendapatkan jabatan dan gaji yang menjanjikan.

Makin nyesek kan? Haha.

Melihat kondisi ini, seharusnya kita terpacu untuk jadi lebih baik lagi. Supaya kita mampu bersaing dengan pekerja asing, terutama dari sisi sumber daya. Jangan mau kalah dengan pekerja asing. Apalagi dengan pengemis asing, hehe.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s