Balada Undangan

Begitu tahu sahabat saya akan menikah, saya langsung heboh menawarkan diri untuk menjadi vendor undangan. Sahabat saya dengan senang hati menyerahkan urusan undangan ke saya karena doi ga perlu ribet bin pusing ngurusin printilan undangan. Tinggal kasih budget, spesifikasi, dan voila~ jadi deh undangannya.

Enak kan? Apalagi untuk saya, doing what I love, terus dibayar lagi.

Tapi kenyataan tidak seindah harapan.

Di tengah proses mengerjakan undangan, saya sempat demotivasi ketika menemui berbagai kendala dan berbagai hal yang tidak menyenangkan, seperti harga cetak yang tidak sesuai budget dan desain yang tidak mungkin untuk diwujudkan. Duh, rasanya saya pingin ngejedotin kepala ke tembok! Bahkan sempat merasa menyesal karena seterek sesumbar ingin menjadi vendor.

Setelah nangis-nangis heboh dengan Bams, akhirnya saya sadar, when I offer myself to help someone in professional way, I have to fall in love with the process too, including but not limited, to do something I don’t like.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s