Mendengarkan? Hmm…

Di perjalanan menuju ke kantor, saya dan Bams mendiskusikan sepasang kekasih unik di tempat pencucian mobil. Ketika mobil mereka akan dikeringkan dan divacuum, mereka mengeluarkan berbagai macam barang unik, seperti tumpukan cucian di dalam sebuah tas reusable, kresek belanjaan berisi sayuran, handuk, helm, dan tas golf. Kami menduga-duga, apa yang orang lain akan pikirkan ketika melihat pasangan tersebut. Berbagai tebakan serius hingga ngaco mewarnai percakapan kami.

“Tebakan gue, pembantu infal dan supir. Si cewenya pembantu infal karena bawa belanjaan sayur dan tumpukan cucian. Terus si cowonya itu supir yang disuruh nyuci mobil majikannya. Tas golfnya itu punya majikannya. Yang jelas, mereka bukan suami istri.”

Saya mengerutkan kening, “Kenapa bukan suami istri?”

“Karena cowonya ngedengerin si cewe. Biasanya kalau udah nikah, suaminya ga akan ngedengerin apa yang diomongin istrinya.”

“Jadi kalau udah nikah, cowo yang biasanya ngedengerin, ga akan ngedengerin lagi?”

Bams tertawa, “Biasanya begitu.”

Untuk membuktikan hipotesa Bams, saya mulai memperhatikan pasangan suami istri di tempat umum. Kalau dipikir-pikir, pendapat tersebut ada benarnya karena hampir semua pasangan suami istri yang saya temui, si suami terlihat tidak mendengarkan istrinya.

Benarkah lelaki akan berhenti mendengarkan perempuan yang sudah menjadi istrinya?

Menurut saya, alasan logis seorang suami terlihat tidak mendengarkan istrinya karena mereka terbiasa untuk berdiskusi di rumah atau tempat-tempat tertentu yang sifatnya lebih privat. Mereka jarang berdiskusi di tempat umum. Lalu, mengapa ketika pacaran, si lelaki akan terlihat mendengarkan perempuan? Karena mereka hanya dapat berdiskusi sesekali waktu, entah di telepon atau di tempat umum, waktu mereka terbatas.

Tidak mungkin si suami tidak akan mendengarkan istrinya karena secara alami setiap orang butuh untuk didengarkan, baik tua maupun muda. Mendengarkan juga kunci dari suatu hubungan, jika salah satu berhenti mendengarkan, maka tidak menutup kemungkinan bahwa hubungan tersebut akan berhenti. Walaupun terkesan sepele, dengan mendengarkan, secara tidak langsung kita memperhatikan orang tersebut.

Yah, tapi kalau dipikir-pikir lagi, di zaman serba canggih begini, kalau ga ada yang mau mendengarkan, ya sudah, curhat saja di media sosial. Pasti akan ada yang mengomentari, minimal memperhatikan. Iya kan?

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s