Anomali Bahasa

“Ma, bahasa nasional Malaysia itu bahasa Inggris atau bahasa Melayu?” tanya teman saya.

“Bahasa Melayu.”

Teman saya menatap keheranan, “Masa sih? Minggu lalu, ade gue dikasih PR tentang bahasa nasional negara-negara lain. Gue yakin banget, ade gue pasti dapet seratus. Eh, ternyata cuma dapet sembilan puluh. Tebak dong, apa yang salah? Bahasa nasional Malaysia! Katanya bahasa nasional Malaysia itu bahasa Inggris, bukan bahasa Melayu.”

Tergelitik dengan cerita teman saya, akhirnya saya mencari tahu bahasa nasional Malaysia.

Ternyata, berdasarkan Konstitusi Malaysia, Bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa nasional yang secara resmi dipergunakan. Namun ketentuan tersebut mengalami penyimpangan karena berdasarkan National Language Act 1967, bahasa Inggris dapat digunakan sebagai bahasa pengantar resmi untuk tujuan tertentu. Walaupun tidak disebutkan secara implisit, undang-undang ini melegalisasi penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional Malaysia.

Mulanya bahasa Inggris digunakan untuk kegiatan ekonomi karena pada waktu itu, masih banyak perusahaan-perusahaan milik Inggris yang belum seluruhnya dinasionalisasi. Kemudian karena desakan untuk meningkatkan diri di dunia internasional, secara perlahan-lahan, bahasa Inggris mulai digunakan secara resmi dalam kegiatan belajar mengajar. Penggunaan bahasa Inggris di dunia pendidikan tersebut akhirnya memunculkan golongan yang menganggap bahasa Melayu sebagai bahasa kelas rendah, tidak berpendidikan, dan kampungan. Keadaan ini tidak hanya menimbulkan krisis bahasa di Malaysia, tetapi juga krisis identitas. Bahkan pembicaraan mengenai nasionalisme dianggap nyinyir.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Walaupun belum mengarah pada krisis identitas dan nasionalisme, gejala krisis bahasa mulai terasa di Indonesia. Kata-kata asing berjejal menggusur kata-kata yang sudah ada. Bahkan pemandangan seperti ini tidak hanya dijumpai di kota-kota besar, tetapi juga di pelosok desa di seluruh negeri. Kata-kata seperti jasa boga, awak, tata rias, sandi, pertemuan, dan kudapan, semakin jarang didengar karena telah berganti menjadi, catering, crew, make up, password, meeting, dan snack.

Pemakaian bahasa Indonesia menjadi tidak karuan karena pemakainya (terutama kalangan terpelajar, pejabat, elit politik, dan tokoh masyarakat), menganggap bahasa Indonesia sebagai bahasa yang sulit dan membelenggu komunikasi karena adanya kaidah-kaidah Bahasa Indonesia. Mereka, termasuk saya, berpegang dengan prinsip “asal orang tahu maksudnya”. Namun sikap ini tidak diterapkan apabila menggunakan bahasa asing. Mereka, termasuk saya, akan cepat-cepat melihat koreksi pada buku-buku yang berisi kaidah bahasa asing atau kamus, jika merasa ada kesalahan. Perilaku seperti ini mendapat pandangan sinis dari ahli bahasa Indonesia, apakah para pemakai bahasa (termasuk saya) melakukan hal tersebut agar tidak dianggap bodoh dan terlihat pintar atau sekedar ingin menunjukkan dirinya berbeda dengan orang kebanyakan?

Menganggap bahasa Indonesia yang baik dan benar sama dengan bahasa Indonesia baku adalah sebuah kekeliruan. Bahasa yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi pemakainya, sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah (aturan) bahasa. Situasi pemakaian bahasa ditentukan oleh banyak hal, seperti tempat, topik, tujuan pembicaraan, dan lawan bicara. Bahasa Indonesia baku sesungguhnya hanya salah satu ragam bahasa Indonesia yang ditetapkan sebagai penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi resmi. Dengan demikian, dalam situasi tidak resmi bahasa Indonesia yang tidak baku dapat digunakan. Sayangnya, banyak orang Indonesia yang tidak (mau) menyadari bahwa bahasa Indonesia memiliki banyak ragam, identik dengan keanekaragaman masyarakat penggunanya.

Kenyataan ini kemudian memunculkan sebuah pertanyaan baru di kepala saya, mungkinkah suatu hari nanti pernyataan sikap kebahasaan yang tercetus dalam Sumpah Pemuda dihapuskan karena bangsa Indonesia malu menggunakan bahasa Indonesia?

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s