Jari Kelingking

Setiap hari, ia datang terlambat dengan tergopoh-gopoh. Alasannya klise, ia tertidur kembali setelah selesai menyantap makanan sahur. Katanya agar ia kuat membuat matanya terjaga dan tetap fokus bekerja. Kenyataannya ia menguap tiada henti dan bermalas-malasan bekerja. Ia menyalahkan puasa yang membuatnya tidak fokus karena kekurangan oksigen ke otak.

Tidak ada dzikir yang terurai dari mulutnya. Hanya cacian dan gunjingan yang terdengar santer. Caci maki dianggapnya sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan mengungkapkan pendapat. Jika diingatkan, ia berkilah cantik bahwa ia sedang meluruskan sebuah fakta. Ia pun pandai menyiasati cara bergunjing konvensional. Ia menuliskan gunjingannya dalam sebuah file, lalu mengirimkan gunjingan tersebut melalui email setelah waktu berbuka. Katanya ia tidak bergunjing ketika menuliskan gunjingan tersebut, ia hanya menuliskan curahan hatinya. Selain itu, menurutnya, suatu cerita baru bisa dianggap gunjingan jika diceritakan pada orang lain.

Menjelang waktu berbuka, ia sibuk berkutat dengan setumpuk dokumen. Terkadang ia berada di kantor hingga larut malam. Jangankan itikaf, tarawih di masjid saja tidak sempat. Kadang-kadang tarawih di rumah pun malas karena terlalu lelah menempuh perjalanan.

Ketika sahur, ia terbangun dengan mata berat. Ia sengaja memasang alarm mendekati waktu imsyak. Khawatir kelaparan di siang hari jika sahur terlalu cepat. Jika ia terbangun lebih cepat dari alarmnya, ia malah menggunakan waktu tersebut untuk mengobrol di telepon dan alpa melaksanakan sholat malam.

Di sepertiga kehadiran Ramadhan, saat Lailatul Qadar menyapa, ia sibuk meributkan THR yang tak kunjung mampir ke dalam tabungannya. Zakat fitrah pun hampir terlupakan karena yang diingat adalah mid-nite sale barang-barang ternama.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Tak terasa Ramadhan akan segera pergi. Ia merasa menyesal tak sempat bercengkrama. Teringat waktunya yang terbuang sia-sia untuk urusan duniawi, padahal Ramadhan tidak setiap hari hadir dalam kehidupannya. Ia menawarkan jari kelingking pada Ramadhan, berjanji untuk menyambut Ramadhan dengan lebih baik di kemudian hari, menghabiskan waktu lebih banyak. Ramadhan hanya tersenyum dan mengatakan, “Jangan beribadah hanya karena diriku, beribadahlah karena Allah. Jangan melupakan Allah di setiap waktumu karena kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput.”

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s