Kejantanan Warna Pink

“Ma, jadi ga sih kita bikin jaket kembaran warna pink?”

Saya memandang teman saya dengan tatapan heran, “Serius mau bikin warna pink? Lu kan cowo.”

“Emang kenapa kalau cowo? Warna pink kan keren. Gue punya sepatu warna pink. Eh, bukannya gue pernah pamer ke lu?”

Saya tertawa pelan sambil mengingat-ingat kelakuan teman saya ketika memamerkan sepatu pinknya. Walaupun berjenis kelamin laki-laki, teman saya tak ragu menggunakan barang-barang berwarna pink atau warna-warna cerah lainnya yang membuat teman saya dikira penyuka sesama jenis. Ia cenderung tidak peduli dengan stereotipe yang menyatakan pink atau warna-warna cerah adalah warna perempuan. Bagi teman saya, semua warna bisa digunakan siapa saja tanpa melihat jenis kelamin.

Kalau dipikir-pikir lagi, warna memang tidak memiliki jenis kelamin. Masyarakat yang menentukan warna tertentu untuk jenis kelamin tertentu. Zaman dahulu, warna merah dan turunannya dianggap sebagai warna laki-laki karena warnanya mirip dengan darah dan melambangkan kejantanan atau keberanian. Sedangkan biru, yang sekarang diidentikkan dengan warna laki-laki, merupakan warna perempuan karena warna ini melambangkan ketenangan dan keteduhan seperti perempuan. Tapi entah bagaimana ceritanya, kedua warna ini tertukar. Warna merah dan turunannya untuk perempuan dan warna biru untuk laki-laki.

Akibat munculnya persepsi baru tentang warna, laki-laki diharamkan menggunakan warna merah dan turunannya. Bahkan haram pula menggunakan warna-warna cerah. Laki-laki hanya boleh menggunakan warga gelap.

Indoktrinasi mengenai warna ini sangat kental. Sejak kecil, anak laki-laki sudah dibiasakan menggunakan warna-warna yang telah ditentukan masyarakat. Tak seorang pun boleh melanggarnya. Jika saya nekat memberikan barang yang warnanya (dianggap) tidak sesuai, saya mendorong anak laki-laki tersebut untuk berperilaku tidak sesuai dengan gender sehingga mempengaruhi orientasi seksualnya. Padahal ada banyak faktor yang membuat seseorang berperilaku tidak sesuai gender atau berubah orientasi seksual.

Yang menarik, faktor pendidikan dan perkembangan zaman tidak sanggup mengubah pandangan tentang warna. Budaya lebih melekat kuat. Warna pun diidentikkan dengan gender atau peran sosial seseorang di dalam masyarakat. Banyak yang mencemooh laki-laki yang nekat menggunakan warna di luar pakem. Kejantanan adalah alasan paling klasik yang digunakan untuk menyerang. Rasanya sempit sekali jika melihat kejantanan seseorang hanya dari warna-warna yang digunakannya. Kejantanan tidak ada kaitannya dengan besarnya otot atau penampilan laki-laki karena kejantanan adalah sikap seorang laki-laki dalam melindungi dan memperlakukan perempuan dengan baik. Sehingga tidak ada gunanya seorang laki-laki menggunakan warna sesuai pakem dan mengaku jantan jika ternyata hanya digunakan sebagai kedok untuk berlaku kasar terhadap perempuan.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s