Kritik

Dengan lancar saya mengetikkan kata demi kata, menuliskan sebuah perasaan yang tersimpan selama berminggu-minggu. Entah kenapa saya merasa ragu dan urung mengirimkan tulisan tersebut. Selama hampir satu jam, saya hanya memandangi layar komputer tanpa makna. Akhirnya saya memilih untuk membuang rangkaian kalimat yang tersusun menjadi sebuah kritikan pedas.

Melihat keadaan tersebut, saya tertawa pelan. Menertawai diri sendiri. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di kepala saya, apakah sebenarnya saya berhak untuk mengkritik orang lain dengan tajam dan pedas? Apalagi ketika saya menggunakan alasan, “Itu kan salah, masa didiemin.” atau “Memangnya kalau teman harus bilang yang manis saat temannya salah? Sama aja kan kaya mau bunuh diri, udah ada di pinggir jurang, terus gue jatuhin biar cepat mati.”

Benarkah saya ingin membantu teman saya mengembangkan dirinya melalui sebuah kritik yang katanya sih membangun, tapi pada kenyataannya malah membuat orang lain terpuruk dan hancur plus harga diri terluka? Atau saya ini cuma sirik melihat kesuksesan teman saya sehingga tega mengatakan hal-hal buruk?

Kebebasan berpendapat, terutama dalam memberikan kritik tidak pernah dilarang di Indonesia. Sebelum UUD 1945 diubah pun, kebebasan berpendapat tetap ditaruh dalam Pasal 28. Kita berhak dan bahkan bebas untuk menyampaikan pendapat tentang pemikiran kita atau tentang apapun. Tapi sebebas-bebasnya kita berpendapat tetap saja dibatasi oleh hal-hal tertentu, yaitu hak-hak orang lain serta norma-norma kesopanan dan kesusilaan. Memberi kritikan kepada orang lain, bukan sesuatu yang asal dan bisa langsung ngejeplak begitu aja diomongin karena ada tata cara yang baik dan benar untuk mengkritik dan hal ini masih sering kita lupakan. Saya sendiri pun masih sulit untuk memberikan kritik dengan cara-cara yang baik, bahkan lebih sering membuat orang lain merasa sakit hati.

Tapi ada juga yang membela saya dengan mengatakan bahwa sakit hati tidak akan pernah muncul jika orang yang dikritik bisa menerimanya dengan legowo atau lapang dada. Untuk penganut paham tersebut, yang penting bukan tata caranya tapi substansinya. Tentunya hal ini akan langsung dibantah, “Lah, gimana mau nyampe substansinya kalo caranya aja ga bener?”

Ah, ya udahlah ya~ pembicaraan ini memang ga akan ada akhirnya karena kedua hal tersebut memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Intinya sih, kedua cara pandang tersebut unik, jadi ga ada yang bisa dianggap sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Maafkan semua salah dan khilaf karena kritik. Semoga saya bisa memberikan kritik dengan baik dan benar.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s