Perempuan dan Sajadah

Walaupun sudah ada karpet masjid, perempuan lebih suka menggelar sajadah. Alasannya klasik, karpet masjid kotor dan bau apek. Berbeda dengan sajadah yang dibawa dari rumah, jauh lebih bersih dan wangi.

Benarkah karpet masjid kotor? Bukankah setiap orang yang masuk ke masjid harus bersuci dan bebas dari hadas? Mungkin karpet masjid memang berdebu karena kita tidak menganggap masjid sebagai rumah kedua. Masjid hanya dianggap sebagai persinggahan sementara. Sehingga kita alpa untuk merawat masjid seperti merawat rumah kita sendiri.

Akibat keegoisan untuk menggelar sajadah, banyak jamaah perempuan lain yang tidak kebagian tempat untuk sholat. Padahal masih ada ruang tersisa tapi karena teritori sajadah, tidak ada yang berani menempati ruang kosong tersebut.

Sadarkah mereka di antara ruang kosong sajadah terdapat setan? Sadarkah mereka bahwa renggangnya barisan sholat adalah pertanda renggangnya ukhuwah seorang muslim?

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s