Krucil-preneur

Beberapa hari yang lalu saya pulang lebih cepat. Ketika sedang asik berjalan sendirian, sayup-sayup dari belakang terdengar suara anak kecil berteriak, “Celengan! Celengan! Dibeli celengannya!”

Saya menoleh sekilas dan melihat lima orang anak kecil membawa kantong kresek di stang sepeda mereka.

“Kakak cantik mau beli celengan ga?” tanya salah seorang di antara mereka sambil memberhentikan sepedanya di depan saya.

Mau tidak mau, saya ikut berhenti. Lalu teman-temannya pun memberhentikan sepedanya di sekeliling saya.

Sambil tertawa kecil, saya pun bertanya kembali, “Buat apa beli celengan?”

“Buat nabung. Biar bisa beli mobil. Masa kakak cantik jalan kaki.”

Saya tersenyum kecil, ” Loh, jalan kaki kan sehat.”

“Iya, tapi kakak harus nabung. Nanti kalau uangnya dijajanin semua, ga bisa beli rumah.”

“Bisa buat kawin juga, Kak. Kaya Kakak aku.” sambar anak kecil yang lain. *jleb*

“Hmm, ada warna pink atau doraemonnya ga? Kalau ga ada, ga jadi beli.”

“Ada! Ada! Ada!” Mereka berteriak bersamaan dengan suara melengking.

Semenit kemudian, mereka sibuk mengeluarkan celengan dari kantong kresek mereka masing-masing.

“Tuh, banyak kan? Kakak tinggal pilih aja mau yang mana.”

“Yang doraemon aja deh kalau kaya gitu.”

Dengan sigap, pemilik celengan doraemon menyerahkan celengannya ke temannya untuk diberikan kantong plastik.

“Harganya lima ribu, Kak.”

“Kok jualan? Buat apa? Buat sekolah?” tanya saya sambil mencari uang.

“Jualan aja. Dari pada main kan mending bikin celengan terus dijualin. Uangnya ditabung.”

“Kalau udah ditabung, uangnya buat apa?”

“Buat beli mobil!”

“Beli rumah!”

“Bawa nenek naik haji!”

“Beli sepeda lipat!”

“Beli mainan!”

Masing-masing dari anak kecil tersebut menjawab dengan lancar apa yang ingin mereka lakukan. Saya tertegun. Anak-anak kecil yang usianya mungkin hanya sekitar 6-7 tahun ternyata bisa berpikir sejauh itu. Padahal dulu ketika saya seusia mereka, saya hanya berpikir untuk main. Saya bingung menanggapinya, apakah saya harus menganggapnya baik karena sejak kecil sudah diajarkan untuk berbisnis atau menganggapnya buruk karena diajarkan menjadi seseorang yang matrealistis?

Setelah saya sampai di rumah, saya teringat peristiwa malam sebelumnya. Ketika makan malam, saya dilayani oleh seorang anak laki-laki. Usianya sekitar 10-11 tahun. Saya menduga ia adalah anak pemilik kedai chinesse food. Sebagai anak pemilik kedai, ia tak ragu melayani saya padahal di kedainya ada beberapa pegawai yang tidak terlalu sibuk. Ia juga cekatan menggunakan mesin kasir dan melayani pembayaran dengan ramah. Ia mengucapkan terima kasih dengan sepenuh hati. Yang paling berkesan, saat saya memasukkan uang kembalian ke dompet, anak laki-laki tersebut keluar dari meja kasir dan berdiri di dekat saya. Lalu ia mengantar saya hingga ke pintu keluar dan mengatakan “Terima kasih, Kakak. Semoga besok datang kembali.”

Ketika pulang, entah kenapa rasanya lebih senang. Padahal saat itu makanan saya tidak habis dan saya sedang mengkhawatirkan sesuatu. Mungkin karena perlakuan ramah dari anak pemilik kedai.

Kalau dipikir-pikir lagi, anak-anak kecil yang berjualan celengan dan anak laki-laki yang melayani saya di kedai chineese food, sebenarnya tidak jauh berbeda. Saya seharusnya menganggap hal ini sebagai kebaikan. Mendapatkan uang hanya sisi lain dari nilai yang ingin diajarkan oleh orang tua mereka, kerja keras, menghargai orang lain dan bersikap ramah. Selain itu, secara tidak langsung mereka diajarkan menghadapi penolakan dan perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain.

Anyway, mau tahu seperti apa bentuk celengannya? Celengannya memang tidak begitu bagus dan kurang rapi. Tapi apapun bentuknya, usaha mereka patut dihargai. Eh, mungkin lebih tepatnya usaha orang tua mereka untuk menjadikan mereka krucil-preneur🙂

image

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s