Menikah? Err

Akhir-akhir ini saya ingin tinggal di luar negeri. Alasannya sederhana dan tercela, saya bosan dengan pertanyaan, “Kapan nikah? Mana undangannya?”

Biasanya ketika mendapat pertanyaan tersebut, saya menjawab, “Insyaallah secepatnya. Doain aja ya.”

Sialnya, setelah itu jawaban saya akan dilanjuti dengan pertanyaan, siapa calon suami saya, apa pakerjaan si calon suami, dan beragam pertanyaan lainnya. Padahal ketika saya melontarkan jawaban tersebut, saya hanya ingin didoakan cepat menikah. Siapa tahu semakin banyak yang mendoakan, semakin cepat saya menikah.

Kadang saya menjawab pertanyaan di atas hanya dengan tersenyum kecil dan memilih diam. Tapi ternyata hal ini tidak cukup karena biasanya saya akan dikomentari. Ada yang menasehati saya tentang pernikahan, ada juga yang berkomentar nyinyir.

Kenapa belum nikah? Jangan suka pilah-pilih calon. Perempuan sekarang itu karena sekolahnya tinggi dan karirnya bagus, biasanya suka milih maunya yang begini, yang begitu. Padahal kalau udah nemu yang baik, ga ngerokok, ga minum (mabuk-mabukan), ga main perempuan, dan ga suka mukul, ya langsung dinikahi.

Lama kelamaan, saya mulai merasa bosan menghadapi kondisi tersebut. Akhirnya saya mulai melontarkan pertanyaan aneh, “Kenapa sih kita harus menikah?”

Sebuah pertanyaan yang membuat mereka terperanjat. Tapi ternyata pertanyaan ini terbukti lebih efektif menyumpal mulut-mulut nyinyir karena tidak semua orang bisa menjawab pertanyaan saya dengan baik. Eh, ga juga deh, karena ada juga yang ga bisa jawab tapi tetap saja menceramahi saya.

Sebenarnya saya sudah tahu jawaban dari pertanyaan saya dari berbagai sisi. Saya cuma mengetes seberapa jauh pemahaman orang-orang yang sibuk menanyakan status pernikahan saya. Kalau ditanya seperti itu saja sudah gelagapan, saya malah bertanya-tanya, benarkan mereka memahami esensi pernikahan? Atau cuma sekedar kepo?

Lalu, apa hubungannya tinggal di luar negeri dengan status pernikahan?

Di Indonesia, saya melihat sebuah kecenderungan yang cukup menarik. Perempuan disamakan seperti susu cair kemasan, ada batas waktu untuk kondisi biologis mereka. Perempuan dianggap menarik ketika memasuki umur 20-27 tahun, lepas dari umur tersebut mereka sudah dianggap tidak menarik lagi. Ada juga yang melihat kondisi biologis ini dari usia yang tepat untuk hamil sehingga disarankan untuk cepat menikah karena tidak pernah ada yang tahu kapan akan diberikan rezeki anak oleh Tuhan.

Sedangkan laki-laki disamakan seperti wine. Semakin tua, laki-laki akan semakin mapan. Siapa sih yang ga suka dengan kemapanan? Dengan adanya kemapanan tersebut, laki-laki bisa memilih siapa saja yang menjadi pendamping mereka, baik yang seumur atau yang lebih muda.

Nah, atas dasar pertimbangan kondisi biologis, perempuan didesak untuk cepat menikah ketika memasuki prime time (20-27 tahun), terlebih lagi ketika memasuki injury time (28-30 tahun). Akibatnya status pernikahan seorang perempuan menjadi status sosial mereka di dalam masyarakat. Perempuan yang sudah menikah dianggap lebih terhormat dari perempuan yang belum menikah. Sehingga perempuan yang belum menikah atau yang memilih tidak menikah dianggap sebuah kegagalan. Masyarakat memberikan sanksi sosial, pelabelan yang tidak menyenangkan, “Perawan Tua”. Dimana perempuan yang diberi label Perawan Tua diidentikkan dengan perempuan sinis, gila kerja dan tidak suka melihat orang lain bahagia atau memiliki pasangan. Padahal tidak semua seperti itu, beberapa diantara mereka adalah perempuan-perempuan keibuan yang sangat menyukai hal-hal romantis dan mengagungkan pernikahan.

Kembali lagi ke permasalahan saya. Apakah saya tidak ingin menikah hingga membuat postingan seperti ini? Atau hanya merasa bete karena saban hari diceramahi soal pernikahan?

Sebenarnya saya senang ketika teman-teman saya atau orang-orang yang jauh lebih tua dari saya berbagi cerita tentang pernikahan. Kadang-kadang cerita yang menarik saya posting di blog.

Saya ingin menikah tapi menikah bukan perkara sederhana. Mulai dari calon yang dipilih hingga keluarga. Menikah di Indonesia tidak hanya menikahi seseorang tapi juga menikahi keluarganya. Saya ga bisa asal memilih orang yang akan saya nikahi. Orang yang akan saya nikahi haruslah seseorang yang baik, bukan hanya untuk saya tetapi juga untuk keluarga dan anak-anak saya di kemudian hari. Saya tidak ingin menikah hanya karena saya sudah terlalu lama berpacaran dan terbiasa bersama. Bisa saja, ia yang selama ini selalu bersama saya ternyata tidak cukup baik untuk keluarga saya. Masa sih saya mau nekat untuk menikah? Saya ga bisa membayangkan sedihnya perasaan orang tua saya. Saya pun yakin, pernikahan yang tidak direstui orang tua tidak akan pernah bahagia karena restunya orang tua adalah restunya Tuhan.

Kalau hingga saat ini saya belum diberikan kesempatan untuk menikah, bukan berarti Tuhan tidak menyayangi saya. Tuhan Maha Adil. Memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Tuhan lebih Maha Mengetahui apa yang saya butuhkan saat ini. Jadi dari pada saya meratapi nasib belum menikah, bukankah sebaiknya saya memanfaatkan waktu saya ketika sendiri untuk melakukan hal-hal berguna agar saya LAYAK disandingkan dengan calon pendamping saya? Semakin saya desperate kepingin menikah, semakin lama saya menikah. Menikah itu bukan ajang adu cepat seperti maling yang takut digebukin atau kejar target layaknya budak korporat yang harus mengejar revenue demi bonus tahunan.

Eh, satu lagi deh sebelum saya lupa. Perlu dicamkan baik-baik, perempuan yang belum menikah atau memilih tidak menikah bukan produk gagal masyarakat. Jangan dipandang sebelah mata. Mereka hanya punya jalan yang berbeda. Lihat prestasi yang sudah mereka lakukan. Serius deh, ga enak hidup sendiri dan mereka berjuang untuk menceriakan hari-hari mereka. Stop labeling!

13 comments

  1. Oalaah mbak…. Aku sudah ngrasain itu semua. Usiaku 32 tahun tapi belum jg menemukan pasangan hidup yang mau menerima aku apa adanya. Memang kepribadianku yg nerdy, terlalu mandiri, gak suka centil, Alay dan lebay kurang disukai pria, trus body size yg terlalu plum. Gosh…. hidup di desa n sbg pelayan masyarakat makin memberikan tekanan sosial kepadaku. Hanya Tuhanlah tempatku berkeluh kesah.🙂, adakah yg punya pengalaman hidup sepertiku?

    Like

  2. numpang komen🙂

    pernah jalan bareng seorang teteh yang belum nikah. sang teteh belum “injury age” kok.. eh ketemu seorang temen seangkatan yang udah nikah. dia dengan santainya nanya ke sang teteh, “teteh apa kabar? udah nikah belum?” si teteh jawab sambil senyum2, “belum hehehe”. dengan ‘tega’nya si teman bilang, “ayo atuh teh buruan.. emang apa lagi sih yang ditunggu?” sambil ketawa2.

    sang teteh senyum gaenak aja. dan saya yang di sebelahnya berasa lebih ga enak lagi.
    saya percaya ga ada perempuan yang ga ingin menikah. tapi yaa jodoh kan rahasia Allah. kenapa ya si teman mesti komentar gitu. karena si teman lebih muda dari sang teteh, lebih ga enak lagi..

    saya mah mending ga nanya2 kalo emang ga bisa bantu. ngerasain never ending question juga sih hehe. nunggu kabar baik dan mendoakan, semoga cukup🙂

    Like

    1. Kadang orang lain ga bisa berpikir sesederhana itu. Nikah jadi semacam salah satu siklus hidup, dimana semua orang, katanya, harus menjalani supaya keliatan normal di masyarakat *ngedeprok di pojokan*

      Like

  3. Numpang komen :))

    Saya yang ‘masih’ 22 tahun ini saja sudah memasuki ‘waktu Indonesia bagian sering dapat undangan nikahan teman atas nama sendiri’. Yep, teman-teman udah banyak yang nikah muda, saya ikut senang kalau mereka yang memutuskan berkeluarga di usia muda itu memang tujuannya baik dan membangun keluarga Sa-Ma-Wa🙂 Walau kadang juga suka minderan dan bertanya-tanya, “Saya kapan? Calon aja belum ada.” Hehe. Tapi toh semua orang akan punya waktunya sendiri ya🙂.

    Dan pertanyaan-pertanyaan macam itu, meski dilontarkan pakai bercanda kadang bikin sakit juga ya ternyata🙂 Kalau udah gitu cuma bisa berdo’a, semoga nantinya dikasih jodoh yang tepat. Bukan hanya cepat. Dan lagipun sebetulnya urusan nikah nggak nikah ini kenapa mesti diurusin orang lain, ya :))

    Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s