Tentang Nominal

marthaSewaktu menonton adegan ini, saya malah tertawa. Bukannya saya ga butuh uang, tapi saya merasa terbutakan oleh uang. Mengukur hal yang paling mudah untuk diukur, bukan apa yang benar-benar penting bagi kehidupan saya. Semuanya tentang nominal.

Bahkan dalam salah satu reuni yang terakhir kali saya datangi, nilai nominal pendapatan menjadi salah satu hal yang penting untuk dibicarakan. Mereka tidak membicarakan tentang pekerjaan yang dilakoni dan hal-hal berguna apa saja yang sudah dilakukan selama bekerja. Tidak penting apakah pekerjaan yang sekarang dijalani sesuai dengan jurusannya ketika kuliah. Karena yang paling penting adalah bekerja sesuai dengan kantong, bukan sesuai idealisme karena idealisme tidak bisa digunakan untuk menyicil rumah dan mobil. Pastikan bahwa setiap waktu kita yang tersita untuk bekerja memiliki nilai yang sama dengan jumlah pendapatan kita setiap bulannya.

Ketika masih menjadi mahasiswa, saya belum bisa memahami keadaan ini dengan baik. Tapi beberapa bulan belakangan, saya mulai menyadari, hanya segelintir yang bisa bekerja sesuai dengan jurusan kuliah atau passion dan mendapatkan penghasilan yang memuaskan. Kenyataan menampar. Ketidakpuasan merajai hati. Yang paling dominan, ketidakpuasan kita disebabkan oleh harta dan kekuasaan. Kita dibutakan oleh kedua hal tersebut.

Entah kenapa, saya malah teringat dengan pesan almarhum kakek saya,

Carilah pekerjaan yang memupuk pahala dan kebahagiaan sehingga kita tidak akan mengeluh jika pekerjaan tersebut mencapai titik terberat. Jangan mencari pekerjaan yang memupuk harta di dunia karena harta hanya akan habis di dunia dan tidak akan pernah terbawa saat kita menghadap Ilahi.

Walaupun terasa utopis, bersyukur adalah satu-satunya yang akan membuat mata hati dan pikiran kita jernih. Rasa syukur akan membuat kita merasa kenyang walaupun sesungguhnya kelaparan, berkecukupan di tengah kekurangan, dan bahagia di dalam kesulitan.

Nah, pertanyaannya, sudahkah kita bersyukur?

3 comments

  1. Habis bersyukur, selamat berjuang untuk ikhlas. Ikhlas bahwa tren dunia saat ini memang seperti itu. Pengikut sektenya pun banyak sekali. Selamat berjuang juga untuk bertahan dari mereka dan meraih kebahagiaan dengan cara asik kita sendiri😀

    Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s