Asbak Mimpi

Dari semua episode di Season 8, How I Met Your Mother, saya paling suka dengan episode “The Ashtray“, terutama adegan Marshal dan Lily bertengkar mengenai asbak yang dicuri Lily dari The Captain.

Marshall: You’re gonna return that ashtray and you are gonna pray that he (The Captain) doesn’t press charges.
Lily: I’m sorry, all rulings are final. I am not taking it back.
Marshall: Oh my god! Lily! What is the big deal?! So what if he said you’re just a kindergarten teacher? Why do you let that bother you?
Lily: Because he was right. I AM just a kindergarten teacher. And yes, I have a degree in Art History and I was meant to do something with it but I didn’t. Somewhere along the line, I forgot to pursue my dream. And now I am old and I’m a mom and it’s just too late for me.
Marshall: Lily, it’s not too late. You’re gonna quit your job tomorrow and you’re gonna go back and pick up right where you left off with that art stuff. Look, I promise you, your best and your most exciting days are all ahead of you.
Lily:  I love you so much for saying that, but there gets to be a point in life where that just stops being true. I am sorry I stole this (ashtray), I’ll return it first thing in the morning


Adegan tersebut mengingatkan saya dengan teman-teman saya yang rela membuang kehidupannya saat ini untuk mengejar mimpinya. Beberapa waktu yang lalu, ketika makan siang, salah satu teman saya menceritakan teman kami yang akan berhenti bekerja karena ingin fokus pada passion-nya, mempelajari budaya Korea Selatan secara menyeluruh. Kami yang mendengar cerita tersebut sangat kaget, tidak menyangka atau bahkan tidak pernah membayangkan. Ada lagi teman saya yang membuang jauh-jauh gelar double degree-nya dengan membuka usaha travelling karena ia sangat menyukai jalan-jalan. Atau teman saya yang rela berhenti bekerja dari sebuah perusahaan asing, menjual seluruh harta bendanya, untuk membuka usaha yang berkaitan dengan pertanian.

Saya sendiri iri dengan teman saya. Iri karena teman saya bisa mengikuti mimpinya dan fokus mewujudkan mimpinya. Sedangkan saya masih berada di tempat yang sama, melakukan hal yang sebenarnya tidak pernah saya inginkan. Berlindung atas nama loyalitas. Padahal mungkin Pak Bos tidak ingin saya loyal dengan beliau. Bukan tidak suka, tapi beliau percaya bahwa saya akan lebih baik jika saya tidak menggantungkan diri dengan seseorang karena beliau khawatir kinerja saya akan terganggu jika orang yang saya jadikan panutan tiba-tiba menghilang atau berlaku tidak baik terhadap saya.

Ketika saya mengeluhkan hal ini ke salah seorang teman saya, ia malah berkata, “Sebenarnya mimpi lu itu apa sih? Gue rasa bukannya lu ga berani ngejar mimpi lu tapi lu ga tau mimpi lu apa. Lu cuma mencari-cari alasan kalau lu lupa mengejar mimpi lu dan sibuk ini itu.”

Saya gelagapan. Sedikit pun saya tidak berani mengomentari karena saya menyadari bahwa saya sebenarnya tidak mempunyai mimpi. Berada di sebuah perjalanan dimana saya tidak mengetahui arah dan tujuan.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s