Jaket Kulit Dari Garut

Kkrrriiiiiuuuuukkkkk…
Kkrrriiiiiuuuuukkkkk…
Kkrrriiiiiuuuuukkkkk…

Cacing-cacing di perut berparade dengan ramai. Meminta sesajen karena perut saya belum terisi sejak makan siang hingga jam sepuluh malam.

“Cari makan yuk.” Ajak saya pada teman saya yang sedang membetulkan komputer.

“Gue udah makan sih. Emang mau makan apaan?” 

“Apa aja deh yang masih buka.”

Karena malas mencari makanan terlalu jauh, kami memutuskan untuk membeli kebab. Untungnya tukang kebab masih buka dan tidak terlalu penuh. Sambil menunggu pesanan, kami mengobrol tentang komputer saya yang rusak di dekat penjual kebab.

“Mas, jaket kulit dari Garut.” Kata seorang laki-laki ke salah seorang pembeli kebab.

Suara penjual jaket kulit terdengar sangat kencang. Mau tidak mau, saya dan teman saya sedikit kepo memperhatikan. Si penjual jaket kulit terus memaksa si pembeli kebab untuk membeli jaketnya. Akhirnya si penjual jaket kulit menyerah dan pergi menawari laki-laki lain yang sedang membeli martabak di dekat penjual kebab.

“Kayanya yang tadi germo deh” kata teman saya ketika kami berjalan menuju tempat parkir.

“Hah?”

“Itu yang nawarin jaket kulit. Dia nawarin barang tapi ga bawa barangnya.”

“Eh? Ga ngerti gue.”

Teman saya menghela nafas. Memandang saya dengan pasrah. “Gue juga lama ngertinya. Jaket kulit itu kode. Dia nawarin cewe. Makanya dia ga nawarin ke kita.”

“Oh, ngerti deh. Jaket kulit kan hangat. Nah, maksudnya nawarin ‘penghangat malam’ ya?”

“Iya. Coba lu liat aja, banyak yang mangkal di dekat gang. Germonya nawarin ke cowo-cowo bermobil yang mampir beli makanan atau ke indomaret, cewenya nunggu di gang. Kalau ga, ngapain cewe-cewe diam di remang-remang sendirian.”

Saya terkejut dengan ucapan teman saya. Saya baru menyadari keadaan tersebut. Setiap pulang larut malam, saya hanya menganggap perempuan-perempuan yang berada di gang sedang menunggu dijemput. Mereka memilih berada di remang-remang untuk menghindari angkot yang selalu berhenti karena berdiri di pinggir jalan. Kebetulan juga, di gang tersebut mereka bisa duduk di anak tangga toko yang sudah tutup. Kadang-kadang saya melihat seorang perempuan mengobrol melalui jendela mobil. Setelah beberapa menit, si perempuan tersebut akan naik ke mobil.

Dalam perjalanan pulang, saya mulai memperhatikan perempuan-perempuan yang berada di gang. Mereka terdiam satu sama lain, sibuk memperhatikan ponsel canggih. Sesekali mereka memandang ke arah jalan raya, berharap dapat segera pergi untuk sesuap nasi.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s