Taksi Jakarta Jam Delapan Malam

Saat saya sedang bersiap-siap untuk pulang, teman kantor yang sedang dinas di pedalaman Kalimantan menelepon dan meminta saya merevisi kontrak secepatnya. Untungnya revisi yang dilakukan tidak terlalu banyak, jadi jam delapan malam pun sudah selesai.

Nah, karena lemburnya dadakan, saya lupa meminta voucher taksi. Kebetulan ada teman kantor dari divisi lain yang rumahnya searah, jadi saya bisa nebeng taksi hingga ke rumah dan dibayarin proyeknya teman saya.

Sebenarnya saya agak malas untuk nebeng taksi karena rumah saya paling ujung, jadi saya harus mengantarkan teman saya terlebih dahulu. Lokasi rumah teman saya ini cukup terpencil, agak jauh dari jalan besar, dan lokasi di sekitarnya sangat gelap serta penuh alang-alang. Nyeremin lah pokonya. Tapi mau bagaimana lagi. kalau saya pulang sendirian pakai angkot, Ibu saya pasti panik. Kalau pakai taksi, saya malas ngurus reimbursenya.

Setelah selesai mengantar teman, saya menginstruksikan supir taksi untuk putar balik ke jalan besar dan menuju ke rumah saya.

Dalam perjalanan menuju ke rumah, saya menelepon ibu, meminta beliau untuk tidak tidur karena saya lupa membawa kunci. Saya juga memberitahukan lokasi keberadaan saya dan taksi yang saya tumpangi.

“Mbak, kita mau kemana ya?” Tanya supir taksi setelah saya menutup telepon.

“Loh, tadi kan saya udah bilang mau kemana.”

Seketika itu juga, saya langsung melihat lokasi sekitar. Saya baru menyadari bahwa saya dibawa ke tempat gelap dan penuh alang-alang. Taksinya pun melaju dengan kecepatan tinggi. Saya mulai panik.

“Kenapa malah ke tempat gelap begini?! Puter balik ke tempat teman saya!”

“Salah jalan, Mbak”

“Gimana ceritanya salah jalan?! Tadi kan cuma belok kanan terus lurus doang ke jalan raya! Putar balik sekarang juga!”

Akhirnya supir taksi memutar balik. Setelah itu supir taksinya malah tambah ngebut! Karena takut dan panik, saya mencoba menghubungi teman saya berkali-kali. Ga diangkat pula teleponnya.

Hati saya dag dig dug ga jelas. Otak saya pun ga bisa berpikir dengan jernih. Bingung mau ngapain.

Mau loncat, takut. Takut pintunya dikunci. Kalau pun ga terkunci, saya takut kenapa-kenapa karena matematika saya jelek banget. Kalau perhitungannya salah kan malah saya yang bahaya.

Mau pukul supirnya pake wedges, ga mungkin juga karena saya pakai crocs yang super enteng. Bukannya pingsan nanti supirnya malah ngamuk.

Mau nyekek supirnya, jelas ga mungkin karena kalah tenaga.

Mau telepon orang rumah, nanti ibu saya panik dan pingsan.

Mau telepon teman yang lain, ga mungkin karena terlalu jauh dan ga bisa bantu apa-apa.

Akhirnya saya cuma berdoa keras agar tidak terjadi apa-apa.

Tidak lama kemudian, saya tiba di jalan besar. Saya mulai sedikit lega tapi tetep aja was-was. Jangan-jangan saya ga diantar pulang, dibawa ke tempat lain yang lebih menyeramkan.

Akhirnya setelah perjalanan selama 20 menit, saya tiba juga di rumah. Tidak henti-henti saya mengucapkan syukur. Bahkan sebelum tidur, saya berkali-kali mencium dan memeluk ibu saya karena saya ga berani cerita kalau saya dibawa supir taksi ke tempat gelap.

Nah, gegara saya ga cerita, Ibu saya malah bertanya “Uang gaji kakak abis ya? Dari tadi cium-cium sama peluk Ibu terus.”

2 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s