Safety Last: #1 Bom

Sebenarnya tulisan ini agak-agak basi, harusnya saya tuliskan minggu lalu ketika bom di Beji, Depok, meledak. Tapi saya lupa dan sibuk ini-itu ga jelas. Nah, mumpung sekarang ga sibuk, mending saya tulis sekarang saja, daripada di nanti-nanti akhirnya malah lupa sama sekali.

Sehari setelah bom di Beji meledak, saya pergi ke Jalan Nusantara untuk berbelanja sayur mayur. Ceritanya mah mau masak, mumpung libur. Tapi akhirnya saya malah ga bisa masak karena Jalan Nusantara sedang diblokir polisi untuk sementara waktu.

Pemblokiran Jalan Nusantara

Pemblokiran Jalan Nusantara


Awalnya saya agak sedikit bingung, tumben-tumbenan Jalan Nusantara diblokir. Setelah tanya sana-sini, saya baru tahu kalau Jalan Nusantara diblokir sementara waktu karena polisi sedang memeriksa Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Yang agak sedikit konyol dari pemblokiran ini, masih banyak warga yang menyelinap masuk ke Jalan Nusantara. Mereka tidak mempedulikan pemblokiran yang dilakukan oleh polisi.

“Bomnya kan udah meledak, Mba. Lagian pelakunya juga udah ditangkap. Kenapa jalannya masih diblokir? Kan ganggu orang.”

Bahkan saya mendengar celetukan ringan dari remaja-remaja tanggung yang ingin berfoto di depan TKP dan mengunggah fotonya di jejaring sosial!

“Kan TKP udah dibersihin sama polisi, nanti sore kalau udah sepi, kita foto-foto di depan TKP. Jarang-jarang ada kejadian hebat di Depok.”

Sumpah deh, saya ga habis pikir dengan orang-orang yang mempunyai pemikiran seperti ini. Karena kenekatan bodoh mereka, hanya akan merusak TKP dan dapat berpotensi membebaskan teroris karena barang buktinya tercemar. Atau yang lebih ekstrim, masih ada bom aktif yang tidak terdeteksi oleh polisi!

Sepertinya keselamatan menjadi hal terakhir yang dipikirkan oleh masyarakat. Padahal kasus terorisme sudah berlangsung lebih dari 10 tahun, seharusnya masyarakat Indonesia dapat memahami potensi bahaya yang timbul dari terorisme. Pelajaran tanggap bencana dan bahaya masih dianggap sebelah mata. Kurang begitu penting jika dibandingkan matematika dan bahasa Inggris, karena pelajaran tanggap bencana dan bahaya tidak diuji dalam ujian nasional. Akibatnya, masyarakat menyepelekan bahaya bom!

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s