Menunggu Nantian

“Kutunggu engkau di bawah pohon kemboja sana, nanti.”

Kataku berbisik mesra. Ia hanya tersenyum kecil, menatap dengan penuh kasih.

“Bagaimana jika kita tidak berkomunikasi sama sekali?” Sebuah ide gila terlontar dari mulutnya. “Sehari tanpa email, sms, atau telepon. Bahkan kita tidak boleh menuliskan sebuah tweet dan status.”

Aku menatap heran. Tak mungkin ia sanggup menahan rindu untuk tidak berkomunikasi denganku. Satu jam tidak menerima kabar dariku saja, ia sudah gelisah tak berperi. Apalagi seharian. Bisa gila, ia menahan rindu.

Seperti membaca pikiranku, ia pun menjawab sambil tersenyum manis. “Bukankah ideku sangat romantis? Ketika kita tidak berkomunikasi seharian, pertemuan kita pun akan semakin berarti dengan hasrat yang menggelora. Kita akan saling memandang dengan penuh cinta dan rindu yang meluap-luap.”

Aku pun tersenyum.

~~~

Aku pikir hari ini akan berjalan mulus. Tapi ternyata tidak. Kerja tak tenang.  Ingin rasanya hari segera beranjak petang. Rindu ini menerjang terjang, menyerang tak patah arang.

Berkali-kali kutengok jam dinding. Rasanya tak sedikit pun jarum jam bergerak. Mungkin baterainya habis. Begitu kulirik arlojiku, ternyata tak jarumnya pun tidak bergerak. Menunjukkan angka yang sama dengan jam dinding.

Mungkin ia pun di sana berpikiran tentang hal yang sama. Bertanya-tanya mengapa jarum jam dinding di ruangannya bergerak lamban. Sehingga ia berpikiran jarum itu berputar salah arah atau sesekali berhenti sehingga harus dicocokkan dengan jarum arlojinya yang ternyata selaras dengan jarum jam dindingnya. Karena jiwa pemberontaknya, ia pun melirik empat angka digital yang tertera di layar komputernya. Sayangnya, angka-angka tersebut berlaku sama seperti jarum jam dinding serta arlojinya, bertambah dengan lamban.

Aku pun tertawa membayangkannya. Kembali bertanya-tanya, apakah ia akan mencoba untuk memingsankan dirinya agar waktu cepat berlalu?

~~~

Hujan. Hujan pertama di musim penghujan tahun ini mengapa harus terjadi sekarang? Mengapa tidak esok atau lusa?

Dari balik jendela kaca yang menyelimuti dinding kantor, aku memikirkan dirinya. Khawatir dengan keadaannya, karena ia akan menerjang derasnya hujan melalui trotoar usang, susup sasap di antara berderet sepeda motor dengan pengendara tak tahu aturan.

~~~

Semua orang berlarian ke arahku. Mereka berteriak tanpa suara. Kepalaku pening. Pandanganku kabur.

…..

One comment

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s