Benda Berpikir

Suatu hari saya pergi bersama teman-teman saya, menikmati sabtu malam di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika sedang menikmati makan malam, terdengar suara anak kecil menangis. Suara tersebut berasal dari meja yang terletak di sebelah kami. Anak kecil tersebut tidak mau makan, sepertinya ia ingin menikmati makanan bersama orang tuanya, namun tidak diperbolehkan.

Awalnya saya sempat berpikir si ibu akan menggendong anak kecil tersebut untuk menenangkannya, tapi ternyata si ibu malah memberikan anaknya ke baby sitter dan menyuruh baby sitter untuk mendiamkan dan menjauhi meja tersebut. Si ayah sempat berhenti makan selama beberapa saat, namun setelah melihat anaknya telah ditangani oleh si ibu untuk diberikan ke baby sitter, si ayah kembali melanjutkan makan. Mereka menikmati makanannya dengan lahap tanpa mempedulikan baby sitter yang sedang kerepotan di luar restoran untuk mendiamkan anak mereka.

Melihat kejadian tersebut, teman saya berceloteh ringan “Dulu, kalau gue nangis kaya gitu langsung dicubit pahanya sama emak gue. Dipelototin pula! Pantes aja anak zaman sekarang manja, diurusin sama baby sitter. Mana berani baby sitter marahin anak majikan. Makin kaya, makin berpendidikan tapi kok makin ndableg. Emangnya anak benda berpikir. Nanti jangan salahin anaknya kalau mereka dimasukin ke panti jompo karena anaknya ngerasa direpotin sama orang tuanya.”

Saya hanya bisa tertawa kecil mendengar celotehan teman saya tersebut.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s