Salah Asuh

Setiap pagi dan sore gang tempat tinggal saya sekarang selalu dipenuhi anak-anak kecil yang bermain bersama pengasuhnya – bukan baby sitter berseragam. Beberapa hari yang lalu saya tidak masuk kerja dan berada lebih cepat di rumah. Iseng-iseng saya main bersama anak-anak kecil tersebut. Dari main-main bersama, akhirnya kegiatan sore itu diwarnai dengan cerita keluarga anak-anak kecil tersebut.

Berdasarkan penuturan para pengasuhnya, anak-anak kecil tersebut terpaksa harus ditinggal dengan pengasuhnya karena orang tua mereka sibuk bekerja. Bahkan tak jarang, pertemuan keluarga inti yang lengkap, hanya bisa dilakukan di hari Sabtu dan Minggu. Itupun jika tidak ada perjanjian bisnis mendadak atau panggilan bos di hari libur. Ironis bukan? Secara tidak langsung, anak-anak tersebut diasuh oleh pengasuhnya yang notabene memiliki pendidikan dasar setingkat SD. Nah, berdasarkan hal tersebut saya melihat sebuah permasalahan yang cukup kompleks.

Saya menyaksikan sendiri, bagaimana si kecil menyukai lagu Iwak Peyek dan memamerkan goyangan khas Trio Macan. *Bagi pengasuh-pengasuh tersebut, hal ini dianggap lucu*. Yang paling parah adalah gaya mengasuhnya. Ada yang punya kebiasaan latah menyebutkan alat reproduksi pria, bahkan ada pula pengasuh yang membentak si kecil ketika si kecil melakukan sesuatu yang dilarang. Yang membuat saya semakin miris, Ketika malam, sambil berusaha menidurkan si kecil, pengasuhnya mengajak si kecil untuk menonton sinetron.

Hmm, sebenarnya mereka baik sih, senang mengajak si kecil main bareng, sabar juga. Yah, baiklah pokoknya. Tapi baik saja tidak cukup, menurut saya. Berdasarkan pelajaran dasar psikologi, anak usia sampai lima tahun atau balita sedang mengalami masa emas pembelajaran karena pada masa itu otaknya bagaikan spons, menyerap semua informasi. Pada masa itu, anak juga belajar lewat imitasi atau mencontoh apa yang dia lihat di sekitarnya. Orang dewasa berperan sebagai otak kedua anak kecil karena anak kecil memiliki beragam keterbatasan yang membutuhkan orang dewasa untuk mendampingi sebelum ia menginjak dunia dewasa itu sendiri. Ketepatan dalam memilih pengasuh akan sangat membantu anak mengembangkan dirinya agar berkembang optimal. Kesalahan memilih pengasuh, tentu saja akan berdampak pada masa depan anak.

Saya teringat dengan kisah Raja Inggris, George VI, ayah dari Ratu Elizabeth II sekarang, yang sempat mengalami salah asuhan. Pengasuh Raja George VI adalah seorang pengasuh yang berkarakter keras dan tidak memahami kebutuhan anak. Akibat dari kesalahan dalam memperlakukan George kecil, George tumbuh dewasa dengan mengidap penyakit gagap. Gangguan bicara ini harus diidap oleh George hingga ia dewasa bahkan ketika ia dilantik menjadi raja. *silahkan menonton King’s Speech untuk mengetahui lebih detail tentang kisah Raja George VI* Nah, kebayang kan bagaimana pentingnya pengasuh anak dan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Beruntunglah anak-anak yang orang tuanya mampu menitipkan anak di playgroup, sementara ditinggal bekerja. Paling tidak, mereka mendapatkan stimulus yang tepat untuk perkembangan otak. Sayangnya, hanya segelintir orang tua yang mampu menitipkan anak-anaknya ke playgroup yang baik karena biayanya sangat mahal dan melebihi uang kuliah S1 di PTN.

Hati kecil kecil saya sebagai seorang calon ibu menjerit-jerit. Saya dihadapkan pada dua pilihan, berkarier atau menjadi full-time mother. Penghasilan dari satu pintu saja, tidak cukup untuk digunakan di zaman sekarang. Peran pencari nafkah saat ini, tidak lagi diemban seorang ayah. Perempuan pun terpaksa harus ikut turun gunung agar asap dapur tetap mengepul dan gaya hidup bisa terakomodasi. Tapi kalau saya mengikuti hawa nafsu saya untuk bekerja dan mencari uang agar gaya hidup terpenuhi, maka saya harus siap dengan konsekuensi bahwa anak-anak saya akan mendapatkan cara pengasuhan yang salah.

Saya pernah berandai-andai, suatu hari nanti akan ada sebuah tempat penitipan anak yang terjangkau biayanya. Tempat penitipan tersebut diasuh oleh orang-orang yang menguasai psikologi khususnya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan. Dimana pendiriannya bertujuan untuk memberikan pendidikan bagi semua orang, baik yang kaya maupun yang miskin. Saya membayangkan konsep ini sama seperti sekolah-sekolah gratis yang bertebaran seantero Indonesia. Tapi mungkin konsep ini agak sulit diterapkan karena mengasuh anak kecil memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi.

Nah, kalau benar-benar ada tempat seperti ini, apakah orang tua tetap akan bertanggung jawab dengan anak-anak mereka? Karena mendidik anak merupakan konsekuensi logis yang harus dihadapi oleh orang tua. Sebaik apapun sistem pengasuhan, tidak ada yang bisa menggantikan cara orang tua mengasuh anaknya.

2 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s