Perempuan dan Bintang

Sudah seminggu aku melihat seorang perempuan menangis tanpa suara. Aku merasa heran, mengapa ia menangis tanpa suara. Biasanya ketika manusia menangis, mereka akan mengucapkan banyak doa atau bahkan mengutuk dalam kemarahan dan kekecewaannya. Tapi perempuan ini tidak mengucapkan sepatah kata pun. Apakah aku mulai tuli karena usiaku yang semakin tua?

“Hei perempuan, mengapa kamu menangis?” aku bertanya tanpa berusaha menatap matanya.

“Aku merasa sesak.”

“Apa yang membuatmu merasa sesak? Apakah kamu merasa lebih baik ketika menangis?”

Perempuan itu tertawa kecil, “Bintang, bintang, kamu sungguh lucu. Bukankah kamu sering melihat manusia menangis?”

Aku terdiam dan sedikit menggerutu di dalam hatiku, “Kalau aku tahu alasanmu menangis tanpa suara, mungkin aku tidak akan menegurmu.”

Seolah mengetahui perasaanku, perempuan itu pun mulai bercerita.

“Aku mencintai seorang laki-laki. Laki-laki yang luar biasa. Dengan keteduhan dalam tatap matanya, kekuatan dalam genggamannya dan kehangatan dalam pelukannya. Aku mencintainya sejak ia datang dan menyentuh sisi terdalam hatiku yang paling rapuh. Sisi yang sering menangis karena kesepian dan rasa sakit yang terlalu sering datang dan singgah terlalu lama. Aku mencintai dia dengan seluruh hatiku.”

Dengan ragu-ragu, aku bertanya “Apakah kamu merasa sesak karena kehilangan?”

Ia menggeleng pelan, “Tidak. Ia ada. Mungkin saat ini, ia tidak ada disisiku. Tapi ia selalu berada di sini.” Perempuan itu menyentuh dadanya. “Ia selalu berada dalam setiap desah nafas. Bukan sekedar obsesi atau adiksi. Keberadaannya lebih indah dari mimpi-mimpi.”

“Lalu, kenapa kamu menangis dalam diam hingga tersedu-sedu? Apakah ia menyakitimu?”

Perempuan itu tersenyum, “Air mata ini adalah doa agar Tuhan menjaganya. Tak peduli saat ini aku dan dia terpisah karena kemarahan dan keegoisan yang merajai hati. Aku tetap melihatnya sebagai pemilik hati. Mengingatnya ketika ia tidak ada. Membayangkan kasih sayang dan kesetiaannya. Merindukan kehadirannya yang membuatku merasa hidup. Air mata ini adalah doa, cinta dan kerinduan. Bukan ratapan, kemarahan, atau kesedihan.”

“Aneh. Seharusnya aku bisa mendengar sesuatu jika air matamu adalah doa, cinta, dan kerinduan. Apakah aku mulai tuli karena usia?”

“Kamu tidak tuli, Bintang. Aku berdoa dengan hatiku pada Pemilik Kehidupan.”

Hatiku bergetar, tanpa terasa air mataku menetes membasahi pipi. Aku pun mulai beranjak.

“Bintang!” teriak perempuan itu.

Aku berhenti sesaat untuk bertanya apa yang ia inginkan. Perempuan itu hanya tersenyum, “Kalau kamu tidak repot, katakan padanya aku merindukannya dan semakin mencintainya. Katakan juga, aku ingin menghabiskan waktu bersamanya hingga rambut kami memutih dan Tuhan memanggil salah satu satu diantara kami.”

4 comments

  1. seperti aku menitipkan pesan yang sama pada rembulan
    walaupun ku tahu dia sudah tahu tanpa kukirimi pesan
    bahwa rasa ini hanyalah untuknya sampai ajal menjemput kelak …

    Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s