Mba, Udah Nyontreng?

Karena kecewa dengan jawaban para calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI tentang PIMNAS, saya kehilangan hasrat untuk menyontreng. Tapi akhirnya saya berubah pikiran karena sebuah pertanyaan sederhana dari salah satu tim sukses calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FHUI. Sebuah keramahan kecil yang membuat saya melangkahkan kaki menuju TPS dan memberikan hak suara. FYI, masa regenerasi di UI, baik di tingkat fakultas maupun universitas, dilakukan pada bulan yang sama.

“Ih, TPS sepi banget. Kaya kuburan. Ga jadi nyontreng ah.”

“Mba, jangan dong. Karena sepi, makanya Mba harus nyontreng.” kata junior saya dengan nada setengah memohon. “Siapa tau teman-temannya ikutan nyontreng juga.

Sebenarnya saya cuma gertak sambal. Masa udah ngeluarin KTM di depan TPS tapi ga jadi nyontreng.

“Tim suksesnya kemana sih?”

“Lagi kuliah, Mba.”

“Kan ga semuanya kuliah. Jaman gue, tim sukses stand by di sekitar TPS dan lobi. Narikin orang buat nyontreng. Selain ngebantu panitia, kalian juga membantu diri kalian untuk menang.”

“Iya, Mba. Abis ini langsung dikoordinasikan.”

Eh, kok saya malah nyuruh tim sukses untuk menarik massa. Bukannya tugas panitia ya?

Nah, pandangan seperti ini adalah pandangan yang salah. Tugas menarik massa agar menyontreng tidak hanya menjadi beban panitia saja. Justru tim sukses pun perlu mengambil bagian agar mahasiswa yang apatis mau menyontreng. Bagi sebagian besar tim sukses, mereka lebih memilih untuk mempersuasi massa pasti dibandingkan massa mengambang (mahasiswa apatis) karena lebih mudah dan lebih pasti dalam perolehan jumlah suara. Namun dua tahun yang lalu, calon kuda hitam berhasil memenangkan pertarungan karena mempersuasi massa mengambang. Sebuah kemenangan telak yang berhasil menggulingkan hegemoni kekuasaan.

Keberhasilan dari tim sukses tidak hanya terlihat dari seberapa besar mahasiswa yang menonton kampanye, tetapi juga dari banyaknya pemilih. Tim sukses perlu menyadari bahwa pertarungan yang sebenarnya berlangsung ketika masa penyontrengan. Masa ini adalah masa paling krusial. Seluruh rangkaian kampanye, baik formal maupun informal, tidak akan ada artinya ketika hanya terdapat sedikit mahasiswa yang menyontreng. Sedikitnya jumlah mahasiswa yang menyontreng akan menimbulkan selentingan miring bahwa calon yang berhasil memenangkan pertarungan tidak mempunyai legitimasi. Ujung-ujungnya, muncul sengketa hasil perhitungan suara. Yah, daripada ribut-ribut setelah penghitungan suara, kenapa tidak menyingsingkan lengan ketika masa penyontrengan?

3 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s