Turun Gunung

“Mba, “turun gunung?” tanya junior saya ketika melihat saya duduk di barisan penonton kampanye.

“Hah?”

“Ketika angkatan tua muncul, tandanya ada sesuatu yang penting untuk disampaikan.”

“Yeap. Gue punya isu penting untuk meluruskan kesotoyan luar binasa tentang PIMNAS. Apa banget deh, sok-sok mau bikin proker tentang PIMNAS. Tau apa mereka soal PIMNAS?” kata saya sambil tertawa.

Awalnya saya ga minat untuk mengurusi politik kampus tahun ini. Yah, ngapain juga sih, masa angkatan saya sudah lewat plus bulan Februari nanti saya sudah mendapatkan gelar Sarjana Hi-heels. *AMIEN!* Tapi gegara tim suksesnya Kartini-Ryan memprospek saya ala MLM dan ngomongin segala macem tetek bengek program mereka, saya pun sedikit tertarik. Bukan karena programnya bagus banget, tapi karena saya merasa salah satu programnya ini agak-agak mirip dengan proyek yang saya kerjakan bersama PIMNAS Rangers, yaitu UI to PIMNAS. Wueleh, jangan-jangan nyontek idenya PIMNAS Rangers.

Setelah itu, saya pun mulai mencari tahu tentang calon yang lain, Faldo-Odi. Ubek-ubek sana sini, ternyata tidak ada salah satu program mereka yang berkaitan tentang PIMNAS. Tapi mereka berani koar-koar tentang PIMNAS dan harga diri UI yang tercoreng dalam esai yang mereka buat untuk persyaratan administratif calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI. Meh, dikiranya ga akan ada yang baca kali ye.

Akhirnya saya memutuskan untuk “turun gunung”. Mencari tahu sejauh mana pengetahuan mereka tentang PIMNAS dan sehebat apa program yang mereka bawa.

Hari Jumat yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk bertanya dengan para calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI di roadshow kampanye fakultas. Harusnya sih saya nanya tentang PIMNAS di kampanye akbar, tapi kesempatannya pasti lebih kecil, ya masa saya harus guling-guling salto plus kayang supaya dapat kesempatan nanya.

Sebelum sesi floor, saya menitipkan salah satu pertanyaan dengan panelis, yaitu tentang evaluasi pelaksanaan kegiatan PIMNAS 2011. 

Kartini-Ryan berpendapat bahwa akar rumput permasalah PIMNAS adalah PIMNAS tidak dianggap sebagai salah satu kegiatan paling bergengsi, kurangnya kelompok kerja di fakultas, kurangnya minat menulis mahasiswa, dan metode penelitian yang berbeda. Sedangkan Faldo-Odi menyatakan ada tiga masalah yang menjadi isu utama, tidak adanya pelatihan mengenai PIMNAS, kurangnya kepedulian dari pihak Rektorat untuk memfasilitasi, dan publikasi yang kurang masif. Loh, kok isu utamanya Faldo-Odi mirip banget sama isu yang dibawa PIMNAS Rangers?

Solusi yang diberikan oleh pasangan Kartini-Ryan adalah meningkatkan gengsi PIMNAS di mata anak UI dan membuat kelompok kerja di setiap fakultas yang bertujuan membantu mahasiswa membuat proposal PIMNAS. Berdasarkan isu yang dibahas, Faldo-Odi memberikan solusi untuk meningkatkan budaya menulis dan memberikan pelatihan-pelatihan, mendorong pihak Rektorat untuk memfasilitasi mahasiswa, dan meningkatkan publikasi.

Nah, ketika sesi tanya jawab dengan floor dibuka, saya pun mendapat kesempatan bertanya. Sayangnya waktu dibatasi hanya delapan menit. Meh, mana cukup dah. Untuk mempersingkat waktu, saya memberikan beberapa pertanyaan pembuka.

  1. Dimana PIMNAS 2011 dilaksanakan?
  2. Berapa jumlah kontingen UI?
  3. Prestasi apa saja yang didapatkan UI di PIMNAS 2011?

Ternyata saya mendapatkan sebuah jawaban yang cukup mengejutkan, mereka hanya mengetahui dimana PIMNAS 2011 diselenggarakan. Bahkan mereka ga tahu berapa jumlah kontingen UI dan prestasi apa saja yang didapatkan UI di PIMNAS 2011. Pingin ketawa ngakak loh ketika mendengar jawaban mereka. Miris dan ironis karena jargon yang mereka gunakan berkaitan dengan prestasi dan karya. Kartini-Ryan dengan kolaborasi untuk prestasi dan Faldo-Odi dengan yeah berkarya. Malu lah ya sama jargon sendiri😛

Setelah itu saya mulai mengeksplorasi pengetahuan para calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI. Hasilnya pun sama saja, tidak menyenangkan. Gelagapan gitu deh. Entah mereka tidak memahami masalah PIMNAS atau grogi liat saya yang super cantik? *ditimpukin*

Saya tahu bahwa PIMNAS bukan sebuah isu penting yang harus diselesaikan. Ada kisruh yang lebih penting untuk diurusi, seperti advokasi BOP-B, kasus keuangan dan status pegawai BHMN. Tapi bukan berarti mereka bisa menutup sebelah mata dan bersotoy ria tentang PIMNAS. Isu PIMNAS selalu dibahas setiap tahunnya dalam kampanye calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI, namun permasalahan yang sama terulang kembali. Seharusnya para calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI yang akan maju di tahun berikutnya dapat menganalisa secara tepat permasalahan yang ada dan solusi yang efektif.

Secara garis besar, evaluasi yang dikemukakan oleh para calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI sudah tepat. Sayangnya mereka tidak melihat permasalahan PIMNAS secara keseluruhan. Dari jawaban yang saya dapatkan, mereka hanya melihat persiapan sebelum PIMNAS sebagai isu utama yang harus diatasi. Kenyataannya suksesi kemenangan UI di PIMNAS adalah suatu sistem yang tidak terpisahkan (Socialisation and Publication, Networking and Integration, Training and Mentoring, Local Competition, Administration, and Rearrange Policy).

Semoga saja para calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI benar-benar menepati janji mereka tentang PIMNAS, yaitu mendukung kontingen UI di PIMNAS XXV dan mempersiapkan kontingen PIMNAS XXVI. Mari kita bekerja sama untuk membawa pulang piala Adikarta Kertawidya!

Tunjukkan semangatmu (semangatmu!)
Kepada pasukanmu (pasukanmu!)
Kita ini UI
Pasti bisa
Pasti menang
Kita jago di ruangan, kita jaya di lapangan
Kitalah
HOI!

UI!!

Kepalkan jari tinjumu, bersatu almamaterku!

UI!!

UI u aa, UI paling jaya!
UI u aa, UI paling gaya!

Yel-yel Kontingen UI di PIMNAS XXIV

2 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s