Lelaki Senja

Ketika senja, saya bertemu dengannya. Sosok manusia yang selalu diimpikan. Sosok yang hidup di bagian terdalam hati. Sosok nyata yang tidak hanya hidup di alam mimpi dalam bentuk dua dimensi. Sosok yang hanya sekilas datang. Sosok yang mengacak-acak hati dan kehidupan. Sosok yang pergi dalam diam. Sosok yang tidak pernah tahu betapa tingginya sebuah ekspektasi. Sosok yang begitu berbahaya dan terus menghantui pikiran.
Ketika senja, saya bertemu dengannya. Menganggapnya sebagai sosok yang sempurna. Karena imajinasi dan keinginan untuk memiliki, ia terlihat sempurna. Hingga akhirnya saya melupakan kenyataan. Terlalu takut melihat keadaan yang sebenarnya. Takut melihat bahwa sosok yang menghantui pikiran saya tidak sesempurna yang saya kira. Takut untuk melihat kenyataan bahwa ia mungkin saja sesempurna pikiran saya. Hingga akhirnya saya merasa tidak pantas untuk berada disampingnya.

Ketika senja, saya bertemu dengannya. Berbagi cerita tentang kehidupan. Melihat lebih dekat setiap kenyataan yang melekat di dalam dirinya.

Ketika senja, saya bertemu dengannya. Berkomitmen untuk selalu bersama dan saling menjaga satu sama lain. Berbagi suka dan duka.

Ketika senja, saya bertemu dengannya. Menyudahi hubungan yang terlalu rapuh untuk digenggam dan membungkusnya dalam sebaris kenangan. Memutuskan suatu hari nanti kami akan saling menyapa dengan menggenggam tangan orang lain.

2 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s