Sebuah Kata Dengan Empat Huruf

te·man n 1 kawan; sahabat: hanya — dekat yg akan kuundang; 2 orang yg bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan); lawan (bercakap-cakap): — seperjalanan; ia — ku bekerja; 3 yg menjadi pelengkap (pasangan) atau yg dipakai (dimakan dsb) bersama-sama: ada jenis lumut yg biasa dimakan untuk — nasi; pisang rebus enak untuk — minum kopi; 4 cak saya (di beberapa daerah dipakai dl bahasa sehari-hari): tiada — menaruh syak akan dia; usahlah — dimandi pagi, pb tidak usah kamu lebih-lebihkan (kaupuji-puji);
–hidup orang yg dijadikan pasangan hidup (istri atau suami); — nasi lauk-pauk atau sayur; –sejawat kawan sepekerjaan;
ber·te·man v 1 berkawan; bersahabat; 2 tidak seorang diri; ada temannya; 3 beriring (dng): setiap pelopor selalu ~ dng berbagai kesukaran;
me·ne·mani v mengawani; menyertai; mengiring(i): aku ~ Ibu melihat demonstrasi pembuatan kue;
per·te·man·an n perihal berteman: sebenarnya ~ saya dng dia memang boleh dikatakan kilat;
pe·ne·man v yg menemani; yg mengawani: suara syahdu penyanyi di radio menjadi satu-satunya ~ kegundahan hatinya

TEMAN memang sulit untuk didefinisikan. Ada yang mendefinisikan teman sebagai orang yang mewarnai kehidupan sehari-hari, baik dalam suka dan duka, dan mengingatkan ketika salah.

Saya memandang skeptis TEMAN dan segala macem tetek bengeknya. Aneh banget ya? Pengkhianatan telah membuat saya merevisi arti teman dalam kamus kehidupan saya. Saya kehilangan makna seorang teman. Bahkan tadi pagi, saya kembali menganggap teman itu sebuah kata dengan empat huruf, yaitu DAMN, FUCK, SHIT. Sebuah kata cacian dalam bahasa Inggris, mungkin kalau dalam bahasa Indonesia, TAIK.

Emang sejahat apa sih orang-orang yang menganggap mereka itu teman saya? Ah, sepertinya bikin 1000 postingan pun kayanya ga cukup untuk menuliskan semua dosa-dosa mereka. Well, sometimes friends could be a place to share the parts of your live. But sometimes, they could also eat you from back. Saya ga suka dengan pertemanan yang beraninya ngomongin saya di belakang ketika kami memiliki masalah, sensian ga jelas dan menghakimi saya tanpa pernah menanyakan alasan yang sebenarnya. Kalau memang bermasalah, bukankah lebih baik berbicara langsung? Ga perlu pura-pura baik. Sometimes we gotta be a backstabber to survive but sure we gotta be ready to be stabbed from behind too. That’s life, and that’s the world works.

Tadi pagi, saya curhat dengan adik saya tentang masalah teman dan segala macam tetek bengeknya. Kemudian adik saya menyuruh untuk menonton salah satu episode SpongeBob SquarePants, The Best Day Ever. Katanya ada sejuta makna tentang seorang teman dan hari terbaiknya.

Setelah menontonnya, saya memang mendapatkan beberapa hal menarik dari episode tersebut. SpongeBob berusaha untuk melakukan apa saja agar mendapatkan hari terbaiknya dan hari terbaik bagi SpongeBob adalah menghabiskan waktu bersama teman-temannya. SpongeBob berusaha membuang keegoisannya ketika Patrick tidak mau menyerahkan penangkap ubur-uburnya. Berusaha melakukan apa saja agar ia dapat melihat konser Squidward.

Egois rasanya ketika saya hanya melihat teman dari sisi saya dan tidak pernah berusaha untuk melihat dari sisi mereka yang sudah saya anggap sebagai teman. Ketika saya melihat teman sebagai kata cacian dalam bahasa Inggris yang terdiri dari empat huruf, sebenarnya saya ga jauh berbeda dengan mereka yang saya benci karena telah menyakiti saya.

Pertemanan adalah sesuatu yang berharga dan sayang rasanya ketika saya harus kehilangan makna pertemanan hanya karena segelintir orang. Ada bagusnya juga sih saya tahu belang mereka sekarang. Ini aja belum ada urusannya sama duit udah saling tikung, gimana nanti kalau sudah berurusan sama duit. Toh, tanpa segilintir orang tersebut, saya masih punya teman-teman terbaik yang selalu menerima saya dengan sebuah kehangatan.

Anyway, ada benarnya juga kalau TEMAN itu adalah sebuah kata yang terdiri dari empat huruf, KAMU.

Kamu yang gendut, gembul, manja dan pemarah, tapi selalu ada disamping saya untuk menjadi editor skripsi, penasihat pribadi, dan menjaga saya dari hal-hal buruk.

Kamu yang selalu memberikan pelukan kucing untuk menenangkan saya yang menangis dan rela dateng pagi buta untuk memberikan kejutan ulang tahun.

Kamu yang selalu mencaci maki, menyindir dengan hal-hal sarkastik, tapi paniknya setengah mati saat saya pulang kehujanan dengan suasana hati yang labil.

Kamu yang narsis dan selalu meledek saya hitam dan gendut, tapi rela menempuh 478 km untuk berbagi gaji pertama dan mau diganggu dengan telepon absurd tengah malam.

Kamu yang selalu heboh ngebuzz di YM dan bawelnya setengah mati ketika saya melakukan hal-hal yang tidak logis dan elegan.

Kamu yang lemot dan telah menyelamatkan saya dengan mentransfer uang untuk membeli tiket pesawat agar saya cepat pulang ketika kakek saya meninggal saat saya terjebak berada 478 km dari rumah setelah diputusin pacar.

Kamu yang panik setengah mati ketika saya menghilang dan tidak bisa dihubungi, heboh menanyakan keberadaan saya hingga mengirimkan sebuah sms alay “R u $@v3 tH3rE?”

Kamu yang sibuk bercinTA, kuliah, dan kerja tapi masih mau menemani saya bermain kerajaan-kerajaan, menghibur hari-hari saya dengan hal-hal bodoh lainnya, mendukung saya untuk melakukan hal-hal masokis cinta dengan saran-saran absurd dan kata-kata gaibnya, dan mencekoki dengan beragam hal berbau Jepang dan Korea.

Kamu yang nampakz dan suramz tapi tetap mau membantu saya mengedit video, diributkan dengan hal-hal berbau teknologi dan desain, dan melihat kehebohan dua orang manusia gembul.

Kamu yang saya kenal melalui dunia maya tapi bisa membuat saya tertawa ngakak seperti orang gila di dalem kendaraan umum karena postingan bodoh, tersenyum karena hal-hal bijak yang dibagikan, tertampar karena kedewasaan yang luar biasa hebatnya.

Kamu yang telah berkenalan dengan saya dan sedang membaca tulisan ini, yang membantu saya melewati hari-hari saya, dan tidak bisa dideskripsikan dengan baik dan disebutkan satu persatu.

Teman, selalu beriringan walaupun tak bergandengan tangan.

Friendship marks a life even more deeply than love
Love risks degenerating into obsession, friendship is never anything but sharing

Elie Wiesel

Maaf belum bisa jadi teman yang baik dan terima kasih untuk sebuah pertemanan yang menyenangkan🙂

7 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s