Masalah Tanpa Masalah

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat suatu masalah dengan proyek yang sedang saya kerjakan. Proyek yang sudah menghitung hari untuk dieksekusi tapi persiapannya masih nol persen. Padahal persiapannya telah dilakukan semenjak berbulan-bulan yang lalu. Tapi bukan itu masalah utamanya. Salah satu bagian dari proyek tersebut menunggu untuk dieksekusi dalam waktu dekat dan tidak bisa dilaksanakan karena segelintir teman-teman saya merasa tidak enak dengan pihak rekanan. Salah satu teman saya sih beralibi.

Ya, dasar orang Jawa ya, banyak ga enaknya

Begitu mendengar pernyataan tersebut, rasanya saya ingin melemparkan hi-heels ke muka teman saya. Yeah, it doesn’t make sense. Kok bisa sih perasaan ga enak menggeser profesionalisme. Seharusnya setiap pekerjaan dilakukan dengan penuh dedikasi dan tidak terpengaruh oleh unsur-unsur subjektivitas.

Saya pun kembali mempertanyakan motivasi saya ketika pertama kali melakukan pekerjaan ini. Setelah merenunginya dengan disertai derai airmata karena saya kesal ga bisa marah-marah secara langsung. Akhirnya saya menyadari bahwa saya melakukan ini karena saya bahagia dan ingin membuat orang-orang di sekeliling saya merasa bahagia. Tapi itu semua menjadi tidak berarti ketika saya dan teman-teman saya marah-marah dan saling mengutuk di belakang, plus mengerjakan proyek tanpa hati. Ya, ujung-ujungnya sih, saya akan kehilangan rasa cinta saya terhadap pekerjaan dan berpikiran untuk membuangnya jauh-jauh dari kehidupan saya. Ga enak banget kalau sesuatu yang kita sayangi berubah menjadi sesuatu yang kita benci. Bahkan ga ada lagi hubungan kerja sama yang bersifat mutualisme. Profesionalisme akan tercipta ketika kita melakukan sebuah pekerjaan yang kita sukai dengan perasaan bahagia, ketika saya dan teman-teman saya merasa nyaman, saling mendengarkan, dan saling memahami.

Kalau dipikir-pikir lagi, saya tidak 100% benar dan teman saya pun tidak 100% salah. Masing-masing pihak memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi masalah ini. Karena kebenaran yang saya pegang sesungguhnya hanya sebuah nilai subjektif yang mendapat pembenaran dari banyak pihak, sebuah kebenaran yang muncul karena persepsi.

Masalah ini akhirnya dapat terselesaikan setelah kami berbicara dari hati ke hati. Ternyata ada masalah yang selalu dipendam, tidak pernah berani diungkapkan karena takut menyinggung perasaan masing-masing. Setelah diskusi yang cukup panjang, saya dan teman-teman saya berjanji untuk memperbaiki masalah.

Ternyata indah ya ketika kita berhasil menyelesaikan masalah tanpa membuat masalah baru, yaitu tanpa marah-marah dan “pertumpahan darah” sehingga kita tidak perlu saling menyakiti. Nilai kebenaran menjadi ternodai ketika saya merasa angkuh dan berhak untuk memojokkan pihak yang salah.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s