Kriteria

“Pokonya gue mau punya calon suami yang cerdas, jago desain, suka bahasa, ngerti teknologi, penyayang, suka anak kecil, dan baik.”

“Heh, Ma, realistis aja nape sih. Ga ada manusia yang sempurna. Sekarang masih muda, kriterianya banyak. Ntar 30an kriteria mulai berkurang. Terus pas udah jadi perawan tua, siapa aja dinikahin, asal ada yang mau.” Teman saya berkomentar sinis.

Saya hanya tertawa. Apa iya kriteria saya terlalu sulit untuk dipenuhi? Katanya, ga ada yang ga mungkin di dunia ini. Walaupun mungkin terjadi tapi peluangnya super duper kecil. Nah, masalahnya adalah sampai kapan saya mau menunggu orang yang sesuai dengan semua kriteria saya. Apa saya saya sanggup untuk menunggu orang tersebut?

Hmm, sebenernya kriteria itu penting ga sih? Penting banget lah! Kalau ada yang bilang kriteria ga penting, pasti bohong deh. Disadari atau ga, setiap orang punya kriteria tertentu untuk pasangan hidupnya tapi parameter penilaian yang digunakannya berbeda-beda. Ada yang memilih untuk mencari figur ibu yang baik bagi anak-anaknya, walaupun perempuan tersebut menyebalkan, ga cocok, sok ngatur dan dominan. Tapi ada juga yang memilih menghabiskan hidup dengan seorang lelaki yang telah beristri karena dicukupi secara finansial dan mempunyai banyak kecocokan.

Perbedaan kriteria ini sebenarnya dipengaruhi berbagai macam hal, seperti pendidikan, adat istiadat, agama, atau pengalaman hidup dan prinsip yang diyakini. Nah, karena unsur yang mempengaruhinya pun berbeda-beda, makanya setiap orang punya perbedaan pandangan tentang benar dan salah. Jadi sah-sah aja dong kalau saya punya kriteria tertentu untuk pasangan hidup saya.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, pernyataan teman saya ga ada salahnya. Walaupun setiap orang boleh mempunyai kriteria yang berbeda untuk orang yang diidamkan sebagai pasangannya, tapi jangan pernah berpikir akan mendapatkan sosok yang sempurna. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kita bisa saja mengharapkan pendamping hidup yang sempurna tanpa cela, tapi kemudian timbul pertanyaan, apa kita sudah membuktikan bahwa kita sosok yang sempurna tanpa cela dan patut disandingkan dengan pasangan ideal kita? Kalau belum, ya jangan berharap untuk mendapatkan sosok yang sempurna. Yah, walaupun keliatannya naif seperti menabur garam ke laut ya. Tapi menurut saya, hal ini cukup penting. Karena ketika kita punya kedudukan dan posisi yang sama dengan pasangan kita, kita ga perlu minder jika bersanding dengannya dan potensi konflik yang terjadi pun akan lebih kecil.

3 comments

  1. Ass…..wr.wr. numpang bertamu nich. sekalian ninggalin jejak……….”
    Karena ketika kita punya kedudukan dan posisi yang sama dengan pasangan kita, kita ga perlu minder jika bersanding dengannya dan potensi konflik yang terjadi pun akan lebih kecil.” ?????……..Wass…wr.wb.

    Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s