Egalia Preschool

Hari gini baru ngebahas Egalia Preschool. Kemana aja deh? Tapi ga apa-apa lah ya, daripada ga sama sekali. Dari dulu pingin nulis ini tapi ga pernah sempat, ya mumpung sekarang lagi senggang. *pura-pura ga liat berkas sidang praktek*

Egalia Preschool emang agak-agak ekstrim. Sekolah pertama yang mengusung tema kesetaraan gender sebagai fokus utama pengajaran di sekolah. Sekilas tujuan sekolah ini emang bagus, tapi rasanya agak terlalu berlebihan dalam memperjuangkan nilai kesetaraan gender. Saya melihatnya sebagai upaya untuk menghilangkan gender itu sendiri. Yah, kayanya agak ga mungkin aja sih. Hingga saat ini, gender masih dipengaruhi jenis kelamin. Kalau mau menghilangkan gender, berarti jenis kelamin harus dihapus juga dong. Hal ini udah jelas ga mungkin.

Emang sih gender dan jenis kelamin ga bisa disamain. Gender adalah peran sosial laki-laki dan perempuan di masyarakat yang dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan budaya, sehingga lebih bersifat subjektif. Sedangkan jenis kelamin adalah kondisi biologis seseorang. Walaupun gender dan jenis kelamin ga harus searah atau sama, tapi ga mungkin juga memisahkannya secara tegas. Gender masih berpengaruh terhadap peran seseorang di dalam masyarakat. Ada beberapa hal yang lebih baik dikerjakan laki-laki, ada juga hal-hal yang lebih baik dikerjakan oleh perempuan. Tapi bukan berarti harus saklek dan dikotak-kotakkan secara jelas.

Saya sangat mendukung jika seorang anak dibiarkan bermain sesuai dengan mainan yang dia minati. Mengajarkan kesetaraan gender bukan berarti tidak menggunakan kata ganti “him” atau “her” hingga tidak memperkenalkan cerita-cerita seperti cinderella. Ini mah sama aja dengan menghilangkan jenis kelamin. Okelah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesetaraan gender, tapi jangan mengorbankan perkembangan normal seorang anak. Kebayang ga sih bocah 1-6 tahun diajarin hal-hal yang terlalu rumit untuk dicerna. Akhirnya mereka malah bingung dan kehilangan jati diri karena berbeda dengan norma dan budaya masyarakat pada umumnya. Bukankah lebih baik mengajarkan pentingnya kasih sayang, saling menghormati, dan menentang rasa benci yang berlebihan?

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s