Hai Ibu Guru!

“Selamat Hari Guru Nasional, hai Ibu Guru gadungan!”

Saya tertawa membaca pesan singkat yang dikirimkan teman saya. Malah sempat bingung bin cengo, ampe nyari di Google pula. Apa iya kemarin itu Hari Guru Nasional. Saya kirain teman saya itu cuma becanda. Eh, ternyata benar kalau tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Sejarahnya bisa dibaca disini.

Dari senyum-senyum sendiri, akhirnya saya malah merasa sedih. Mempertanyakan keberadaan saya sebagai guru, apa saya sudah menjadi guru yang baik? Pikiran saya pun melayang. Kembali mengingat yang telah terjadi selama satu tahun ini, selama saya menjadi guru.

“Guru. Digugu dan ditiru. Gugu artinya patut dipercayai dan diakui, sedangkan tiru artinya perlu dicontoh, diikuti dan diteladani. Istilah guru dalam bahasa Indonesia berasal dari kosa kata Sanskerta yang artinya berat, besar, kuat, luas, panjang, penting, sulit, jalan yang sulit, mulia, terhormat, tersayang, agung, sangat kuasa, orang tua (bapak-ibu) dan yang memberikan pendidikan. Jadi guru itu ga cuma sekedar ngajar, neng. Harus punya pengetahuan yang luas, patut diteladani, dan bisa menjadi orang tua sekaligus sahabat mereka.” kata Tadut setelah saya bercerita ingin menjadi guru.

Dulu sih waktu dikasih tau, saya malah ngeyel dan menyepelekan. Kenyataannya, ngajar itu susah banget! Ga sekedar ngomong di depan kelas dengan suara yang keras. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan, seperti persiapan sebelum mengajar, penyampaian materi, dan penilaian. Repot lah ya pokonya.

Suatu hari, saya mengajar di kelas dengan rasa percaya diri yang tinggi karena saya merasa telah mempersiapkan segalanya, bahan yang akan diajarkan dan soal-soal latihan. Tapi ternyata saya ga pernah mempersiapkan diri untuk sebuah pertanyaan yang mengejutkan. Murid saya bertanya tentang fungsi “Modal” dalam bahasa Inggris dan bagaimana bentuknya dalam bahasa Indonesia. Seketika itu juga, rasa percaya diri saya langsung jatuh. Berasa jadi orang paling bego. Bertahun-tahun belajar bahasa Inggris tapi ga tau untuk menjelaskannya dengan baik dan benar. Rasanya pingin menghilang aja dari kelas, tapi kan ga mungkin juga. Daripada saya ngejawab sotoy, saya pun memberikan sebuah jawaban diplomatis bahwa pertanyaan murid saya tersebut akan dipelajari pada minggu selanjutnya. Akhirnya, semenjak kejadian tersebut saya ga berani lagi menyepelekan masalah mengajar dan menjadi guru.

Selama mengajar, saya menemukan sebuah kebahagiaan yang tulus. Melihat bagaimana kerasnya hidup tidak pernah memadamkan semangat untuk terus berjuang. Melihat murid-murid saya menertawakan hidup agar tetap bahagia dan bersyukur terhadap apa yang ia miliki.

Sebelum atau sesudah sekolah, murid-murid saya bekerja keras mencari uang. Berjualan teh poci di pasar, berjualan otak-otak di stasiun,  ngamen dari angkot ke angkot, menjadi penjaga warnet, loper koran, dan masih banyak pekerjaan lainnya yang mereka lakukan untuk menyambung nyawa. Walaupun mereka sibuk mencari uang tetapi mereka sangat bersemangat untuk belajar.  Kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menuntut ilmu. Mereka percaya bahwa sekolah dan belajar akan membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik. Sebuah semangat yang membuat saya bangga menjadi guru mereka.

Saya: Kenapa masih mau dateng ke sekolah kan Paket C katanya udah pasti dapet ijazah.

Murid saya: Kita itu mau belajar kak, bukan mau sekolah.

Saya: Hah?

Murid saya:  Jadi belajar itu buat dapetin ilmu tapi kalo sekolah itu buat dapetin ijazah. Kakak juga kan pasti gitu, sekolah ampe tinggi buat belajar kan? Ga cuma sekedar dapet ijazah terus punya kerjaan bagus dengan gaji gede. kalo kakak kuliah niat akhirnya cuma buat dapet kerja sama gaji gede mah mending berenti aja kuliahnya, sayang duit orang tua.

Ah, mungkin seharusnya tulisan ini diceritakan untuk Hari Pelajar Nasional. Tapi ternyata hanya ada Hari Guru Nasional. Walaupun kenyataannya seorang guru tidak akan menjadi guru tanpa murid-muridnya.

Selamat Hari Guru Nasional!🙂

12 comments

  1. Salam kenal Bu Guru…seharusnya akang juga tahu kapan hari guru nasional walaupun bukan sebagai seorang guru karena akang juga pernah jadi murid/pelajar he he…selamat yaa!!!

    Like

  2. Selamat hari guru nasional, artian guru sangat luas
    semoga dengan hari guru nasional setiap orang bisa menjadi guru seidaknya untuk dirinya sendiri
    he he..

    Like

  3. Aahh.
    Terharu bacanya. Kemiskinan, tidak menjadi halangan mereka untuk belajar. Di kala orang kota (baca orang mampu) memaksa anak bersekolah agar bisa dapat uang banyak, anak-anak ini bahkan lebih bisa mikir bagaimana ilmu bisa membawa mereka jd lebih baik dari kondisi sekarang. Kita stress krn sekolah, krn beratnya tuntutan, tp anak-anak ini ikhlas belajar krn tak banyak tuntutan.
    Lucky you Oma bisa mengajar mereka. Kekayaan ilmu dan hati adalah yg terbaik. Met hari Guru!🙂

    Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s