Akhirnya

Setelah penantian selama berjam-jam, listriknya nyala lagi!! Yay!! *joget-joget* Tapi si Blacky I malah mati dan akhirnya pakai Blacky II. Padahal semua tugas-tugas dan skripsi ada di Blacky I dan lupa ditaro di dropbox atau sugarsync *nangis kejer*

Entah ada angin apa, hari ini mati lampu selama 12 jam. Alamakjang! Jam-jam pertama masih santai. Masih ada hiburan dari Blacky II dan Toci II. Tapi akhirnya mereka berdua kolaps. Pelanga-pelongo deh. Daripada ga ada kerjaan, saya nyemil makanan. Eh, tiba-tiba kepikiran sesuatu yang sangat jenius. Emang ye, makanan itu membuat otak jadi lebih jernih. *alibi*

Jadi ceritanya setiap kali saya patah hati, kesel atau bad mood, saya akan menghibur diri dengan nyalon, belanja, nonton, dll. Pokonya kegiatan yang membuat hati saya senang tapi ngabisin duit. Kalau ga punya duit, palingan mendem di rumah dan makan makanan sebanyak-banyaknya. Yah, apapun akan saya lakukan untuk menunjukkan bahwa saya baik-baik saja dan tidak terganggu dengan masalah yang saya hadapi.

Kenyataannya tindakan saya ini hanya membuat saya semakin sakit, sedih, dan tidak baik-baik saja. Saya memilih untuk menyembunyikan luka dalam euforia semu. Senyuman yang terlukis di wajah saya pun hanya senyuman palsu tanpa makna. Eits, tapi hal ini ga bisa dijadikan sebuah justifikasi untuk melabil layaknya abegeh dengan pasang status galau bin menye-menye. Bisa dikeplak sama orang sekampung, hoho.

Kata orang, “Yang sudah terjadi, biarkan terjadi. Jalani hidup seperti air yang mengalir”. Sekilas keliatannya bagus, saya menjalani kehidupan saya apa adanya dan tanpa beban. Eh, tapi pernahkah saya memikirkan kalau air yang mengalir di got, di sungai, atau di laut, selalu diiringi dengan kotoran. Saya hanya bisa terdiam ketika hal-hal buruk menimpa karena saya ga bisa dan/atau mungkin ga punya keinginan untuk menghilangkan hal-hal buruk itu. Pasrahkan saja semuanya karena air akan selalu mengalir ke tempat yang baru dan akhirnya bermuara ke laut, sehingga kotoran tersebut tidak akan ada artinya lagi. Ah, kalau kotorannya makin banyak, tetep aja akhirnya akan mengubah air menjadi air yang kotor.

Lah, ide jeniusnya apa? Nah, daripada saya menghambur-hamburkan duit untuk sesuatu yang ga jelas atau makan membabi buta. Ada baiknya saya memilih untuk berhenti sejenak dari semua rutinitas. Mengisinya dengan persepsi dan pemikiran-pemikiran “saya dengan pengalaman saya” bukan “saya dengan masa lalu saya”. Karena kondisi yang saya hadapi mungkin berbeda antara satu dengan yang lain, tetapi tiap persoalan akan selalu menorehkan sebuah cerita yang hanya dimaknai secara pribadi. Mungkin saja setelah itu saya lebih memahami setiap persepsi yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman saya yang ternyata memberikan sebuah sensasi. Saya menggambarkan sensasi ini seperti menikmati permainan roller coster. Tanpa disadari, saya justru menikmati permainan ini karena rasa takut, cemas, tidak nyaman, dan aneh. Saya meresapinya hingga rasa itu menjalar ke tiap sendi tubuh.

Yah, sepertinya sensasi ini tidak akan pernah bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sensasi itu hanya bisa dirasakan ketika saya belajar memaknai hidup, dan itu terlahir ketika saya menyadari dan memahami sekeliling saya. Tapi yang  terpenting sekarang adalah bersyukur. Karena saya masih dapat mempertanyakan hal apa saja yang seharusnya diambil sebagai usaha untuk merenungi setiap titik alur kehidupan.

Aduh, Body of Proof udah mau mulai pula. Udahan dulu ya, ntar dilanjutin lagi.

3 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s