Who’s The Best?

“Demi apa sih, tugas bikin satu paper tapi dia malah bikin lima paper. Sumpah deh makan temen banget!”, seorang mahasiswa misuh-misuh ga jelas sambil memandang sinis sang teman.

Kesinisan pun berlanjut, mahasiswa tersebut membawa masalah ini ke milis jurusan. Di milis jurusan, si mahasiswa sinis mengatakan bahwa teman yang mengumpulkan lima paper ingin menonjol tanpa memperhatikan orang lain. Selain itu, ia juga mengatakan “Kita seharusnya lulus bersama, dengan nilai terbaik bersama, tidak boleh ada yang menonjol sendiri. Semua harus rata.” Akibatnya, masalah tersebut menimbulkan pro dan kontra, serta keributan di milis jurusan.

“Gw sepakat sampai pada poin ‘ga boleh ada yang terlalu menonjol’. Tapi kalau lulus dengan nilai terbaik bersama dan harus rata sih, maaf aja ya. Itu kan sama artinya kalau hidup kita bergantung sama orang lain secara berlebihan dan ga percaya diri.”, kata seorang mahasiswa lain yang memilih netral.

Saya mengerti apa yang dipikirkan oleh mahasiswa yang pro, mereka takut berkompetisi dan menerima kenyataan kalau akan ada patokan nilai yang lebih tinggi. Ah, tapi kita semua memang takut berkompetisi. Takut untuk kalah. Tapi lebih takut lagi menerima kenyataan bahwa kita telah kalah dan menjadi pecundang. Dunia hanya mengakui sang pemenang.

“Yang penting kan sudah berusaha yang baik. Hasil bukan masalah.” kata-kata ini selalu digunakan untuk membesarkan hati pihak yang kalah. Tapi sering kali muncul komentar sinis “Logikanya, kalo kita sudah berusaha dengan baik, seharusnya kita menang dan menjadi yang terbaik.”

Siapa yang benar? Siapa yang salah?

Manusia itu serakah. Secara tidak sadar, kita telah menanamkan perasaan serakah ketika kita tidak bisa menerima kenyataan terhadap kekalahan yang kita alami.

If you are not prepared to be wrong, you will never come up with anything originalSir Ken Robinson.

Kekalahan memacu kita untuk menjadi lebih baik lagi dan lebih kreatif. Tidak ada alasan untuk takut berkompetisi. Sebelum kita dilahirkan, kita adalah sperma-sperma yang berkompetisi. Kita yang saat ini adalah sperma pemenang yang berhasil menembus segala hambatan dan rintangan. Dulu kita pernah menjadi pemenang dan mengalahkan jutaan sperma yang lainnya. Sekarang pun, kita bisa menjadi pemenang.

Kita harus bekerja keras dan mendedikasikan diri kita untuk menjadi pemenang. Kita bisa belajar banyak hal dari kemenangan orang lain. Belajar mengenai keinginan dan tekad untuk mengejar mimpi. Belajar tentang semangat dan ketulusan. Belajar mengenai cara mereka memperoleh posisi mereka saat ini. Belajar untuk menerima kekalahan.

Rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Yah, tapi daripada sibuk mikirin rumput tetangga, kenapa kita ga berusaha ngurusin rumput di halaman kita agar lebih hijau dan sehat?

So, who’s the best? I am.
Believe in yourself.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s