Captain Abu Raed

Semalam ga bisa tidur, padahal saya minum parasetamol dosis tinggi yang seharusnya bisa membuat saya tertidur dalam waktu lima menit setelah minum obat. Akhirnya saya memutuskan untuk menonton TV. Untungnya antena TV ga ngadat dan bisa nangkep beberapa stasiun TV. Maklum aja TV di kamar saya jadul banget.

Awalnya saya cuma mencet-mencet tombol TV tanpa makna dan melenguh melihat film-film di stasiun TV. Eh, ga sengaja nemu film “Captain Abu Raed” di O Channel. Sumpah deh, berasa ketiban duren. Soale film macem begini jarang banget ditayangin di TV. Yah, rata-rata stasiun TV Indonesia cuma menayangkan film-film Hollywood. Sebenernya film ini pernah ditayangkan di JIFFEST 2008, tapi saya ga sempat nonton karena tiket pemutaran perdananya habis pada penjualan hari ketiga, huks. Tiket penjualannya laku keras karena sebagai film yang berasal dari Yordania, Captain Abu Raed banyak menyabet penghargaan di berbagai festival film mancanegara.

Alkisah Abu Raed (Nadim Sawalha), seorang petugas kebersihan (janitor) bandara Internasional Queen Alia di Amman menemukan topi pilot kapten Royal Jordanian di tempat sampah. Laki-laki yang sudah berumur sepuh itu memungut dan memakai topi yang ditemukannya. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan beberapa anak yang mengiranya sebagai pilot. Anak-anak tersebut memaksa agar Abu Raed menceritakan petualangannya sebagai pilot. Awalnya Abu Raed menolak. Tapi lama kelamaan, Abu Raed memutuskan untuk menceritakan petualangannya. Kebetulan Abu Raed suka membaca buku, sehingga ia dapat bercerita tentang banyak hal. Anak-anak sangat menyukai cerita Abu Raed karena mereka seolah-olah ikut merasakan berada di dalam cerita dan melupakan masalah kehidupan mereka.

Salah seorang anak yang lebih tua, Murad (Hussein Al-Sous) mengetahui pekerjaan Abu Raed yang sebenarnya. Ia tidak suka Abu Raed mengarang cerita untuk menipu anak-anak dan membiarkan mereka hidup dalam dunia khayalan. Murad berulang kali mengatakan pada anak-anak yang mendengarkan cerita Abu Raed bahwa orang-orang seperti mereka tidak mungkin menjadi pilot. Murad berkata seperti itu karena Abu Raed, Murad dan anak-anak tersebut tinggal di daerah pinggiran Amman yang hampir sebagian besar penduduknya miskin dan tidak berpendidikan. Untuk membuktikan kata-katanya, Murad membawa beberapa orang anak ke bandara. Anak-anak tersebut merasa hancur ketika melihat idolanya harus membersihkan lantai bandara.

Ternyata uang yang digunakan Murad untuk membawa beberapa orang anak ke Bandara adalah uang yang dicuri dari ayahnya. Ayah Murad seorang pedagang pakaian yang sering frustasi dan mabuk-mabukan. Nyaris setiap malam sepulang kerja, ia menyakiti istri dan anak-anaknya. Karena hilangnya uang tersebut, Ayah Murad sangat marah dan memukuli istrinya.

Setelah rahasianya terbongkar, Abu Raed memberikan topi pilotnya kepada Murad. Ia telah memaafkan tindakan Murad. Hal ini membuat Murad terinspirasi menjadi seorang pilot. Karena ingin sekali menjadi seorang pilot, Murad mencuri sebuah miniatur pesawat terbang. Ayahnya mengetahui tindakan tersebut dan akhirnya membakar tangan Murad sebagai bentuk hukuman. Secara tidak sengaja, Abu Raed bertemu Murad yang sedang menangis setelah disiksa ayahnya. Kemudian Abu Raed mengobati luka Murad dan berusaha untuk menenangkannya. Abu Raed semakin kesal dengan perilaku ayah Murad dan berusaha mencari cara agar dapat menyelamatkan ibu Murad, Murad, dan adiknya dari perilaku KDRT.

Di bandara, seorang pilot cantik bernama Nour (Rana Sultan) bertemu dengan Abu Raed. Mereka bertemu secara tidak sengaja. Nour yang sedang menunggu bis karena mobilnya mogok, melihat Abu Raed berbicara bahasa Perancis dengan salah satu penumpang yang kehilangan tas di bandara. Perkenalan sederhana di bandara membawa sebuah kedekatan unik antara Abu Raed dan Nour. Nour mengagumi Abu Raed yang memiliki semangat juang dan motivasi hidup yang tinggi. Tidak banyak orang tua seperti Abu Raed yang memiliki pandangan luas dan terbuka, mengingat mereka hidup di tengah masyarakat yang kadang melihat nilai-nilai Islam secara konservatif. Karena pandangan hidup Abu Raed, kadang-kadang Nour berkeluh kesah tentang ayahnya yang kaya raya dan ingin Nour segera menikah. Nour selalu menolak secara halus karena Nour ingin berkeluarga, namun tidak ingin hidupnya terkekang. Nour belum mau menikah karena ia ingin seorang pendamping yang bisa menghargainya. Seorang lelaki yang bisa menikahi pemikiran-pemikiran Nour tentang kemandirian perempuan. Kenyataannya, hampir sebagian besar laki-laki tidak dapat menerima ide untuk memposisikan perempuan dalam kedudukan yang sejajar.

Ketika sedang menemani mengantar paket ke daerah Amman Barat, Abu Raed bertemu dengan Tareq (Udey Al-Qiddissi), salah satu anak yang mendengarkan ceritanya. Tareq disuruh ayahnya berjualan dan meninggalkan bangku sekolah. Agar Tareq dapat bersekolah, Abu Raed selalu membeli wafer Tareq. Kenyataannya, hal ini tidak menyelesaikan masalah. Ayah Tareq menyuruh Tareq untuk berjualan lebih banyak lagi karena dianggap pintar berjualan. Abu Raed kewalahan dan tidak dapat membantu Tareq.

Lalu bagaimana kelanjutan ceritanya? Hoho, nonton sendiri aja ya. Maaf ye, spoilernya kebanyakan. Lagi semangat soale. Abis filmnya keren banget! Wajib untuk ditonton!

Secara keseluruhan, filmnya ini sangat bagus dan menyentuh. Terutama konflik pertentangan batin dari setiap tokoh. Amir Matalqa berhasil menyajikan beragam pesan dalam Captain Abu Raed. Secara garis besar, film ini menceritakan kehidupan masyarakat Yordania yang masih terkungkung dalam kebodohan dan kemiskinan, dan pandangan dan aktualisasi masyarakat terhadap ajaran Islam.

Hampir sebagian besar masyarakat miskin beranggapan bahwa pendidikan tidak penting. Yah, buat apa sih sekolah kalau ujung-ujungnya cuma kerja jadi kuli angkut, supir, pedagang, atau pegawai rendahan. Kenyataan inilah yang akhirnya mengantarkan Tareq menjadi seorang pedagang wafer. Sebagai pengagum Abu Raed, Tareq selalu berharap bisa bersekolah karena Abu Raed selalu mengatakan kepada anak-anak bahwa mereka bisa menjadi pilot seperti dirinya jika anak-anak bersekolah dan mau belajar dengan keras. Kata-kata Abu Raed menjadi penyemangat bagi anak-anak tersebut karena sebelumnya mereka bersekolah hanya sekedar untuk formalitas, bukan untuk mengejar cita-cita dan impian.

KDRT selalu menjadi bumbu penyedap dalam keluarga miskin dan berpendidikan rendah. Frustasi akibat tidak mampu membiayai keluarga, membuat laki-laki melampiaskan kekesalannya dengan kata-kata kasar, bahkan mereka tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan fisik. Laki-laki tega melakukan KDRT karena merasa diri mereka lebih superior dalam rumah tangga. Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lebih rendah. Menjadi obyek yang harus dimiliki dan dikuasai. Maka dari itu, respek dan kebutuhan emosionalnya yang lain tidak layak diberikan. Mereka mendalilkan ayat-ayat suci untuk membenarkan KDRT. Meh, sejak kapan Tuhan memperbolehkan manusia untuk berlaku superior dan menginjak-injak harga diri manusia lain.

Oia, salah satu hal menarik lainnya yang diangkat dari film ini, yaitu tentang stigma masyarakat terhadap perempuan berumur yang belum menikah. Nour sebagai pilot cantik yang belum menikah di usianya yang tergolong cukup tua membuat keluarganya kelimpungan dan menganggapnya menjadi aib. Lah, yang mau kawin siape tapi yang repot siape. Mirip banget ya dengan masyarakat Indonesia.

Aih, matek udah jam segini. Udahan dulu ya. Ntar dilanjutin lagi deh. Eykeh mau pergi dulu, ciao~ Happy weekend everyone😀

2 comments

    1. Yah, sayang banget ga ada skrinsutnya. Soale dari TV. Udah googling tapi ga dapet gambar yang bagus dan pas. Nanti lagi deh, eykeh cari-cari lagi😀

      Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s