Gue Udah Berkorban. Lu?

After all the shit things I have done. Kok tega sih dia ninggalin gue?”

Entah sudah berapa kali dalam minggu ini saya mendengarkan curhatan yang serupa dengan pernyataan di atas. Katanya sih, ketika kita mencintai seseorang, harus disertai dengan pengorbanan. Apa sih di dunia ini yang didapatkan tanpa memerlukan pengorbanan? Lagian pengorbanan demi cinta itu wajar, malah bisa dikategorikan sebagai tanggung jawab moral yang harus dilakukan ketika seseorang memutuskan untuk mencintai orang lain.

Perngorbanannya pun macam-macam jenisnya. Ngirit duit lebih dari biasanya, meluangkan waktu ditengah kesibukan yang luar binasa padat, dan rela tidak pergi bersama teman-teman, agar di akhir pekan bisa bertemu dengan sang kekasih yang jaraknya sangat jauh. Banyak hal tidak menyenangkan yang pada akhirnya kita lakukan katanya atas nama cinta.

Kemudian muncul suatu fase yang menginginkan kesamaan kedudukan. Ingin agar sang kekasih memperlakukan kita dengan baik dan berkorban seperti yang telah kita lakukan. Di awal-awal membina hubungan, mungkin tidak pernah terpikirkan hal-hal seperti ini. Kita melakukannya dengan sukarela dan senang hati. Sadar ga sih kalau kata-kata pengorbanan dan fase menuntut kedudukan yang sama muncul ketika hubungan yang dijalani tidak baik-baik saja dan kita tidak bahagia.

Sekarang coba dipikir-pikir lagi, setiap kali kita bilang “I love you” dan merasa mencintai pasangan kita, apa benar benar kalau kita mencintai dia atau hanya mencintai diri sendiri? Ketika terluka, apa masih ada “I love you“? Apa masih ada perasaan mencintai? Kenyataannya, kita malah menghitung setiap pengorbanan dan menuntut hal yang sama. Yah, kalau berkorban karena cinta adalah sesuatu yang wajar, harusnya ga perlu dihitung-hitung lagi sebesar apa pengorbanan yang telah dilakukan. Toh, ketika dulu melakukannya pun, kita melakukannya dengan ikhlas. Eh, apa ga ikhlas ya?

Kalau cinta adalah pengorbanan, ya jangan punya pasangan. Rugi. Karena kita akan selalu melihat cinta sebagai untung dan rugi, seperti bisnis. Coba diingat-ingat lagi motivasi yang membuat kita rela melakukan apa saja atas nama cinta. Kita melakukannya sebagai ungkapan cinta dan tanda sayang. Kepingin ngeliat wajah orang yang kita cintai berbinar-binar penuh kebahagiaan. Ada kepuasaan dan kebanggaan tersendiri ketika berhasil memberikan sebuah kebahagiaan. Nah, kalau motivasinya beda, saatnya mempertanyakan kembali cinta yang kita berikan untuk pasangan kita. Apa kita melihatnya sebagai bisnis atau sebuah ketulusan cinta?

6 comments

  1. Cinta adalah ketulusan.
    Kalau sudah tidak ada ketulusan dan saling mikir untung rugi — manusiawi sebenarnya ada pemikiran begitu ketika ada pihak yang dikecewakan — jelas cinta itu tak tulus lagi. Tak usah memaksakan untuk memiliki pasangan tentunya.

    Like

    1. Pada akhirnya kalau terus mikir tentang pengorbanan, kita akan meninggalkan orang lain ketika dirugikan. Yah, gimana mau sehidup semati kalau paradigma seperti itu, bisa banyak kasus kawin cerai.

      Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s