Makan Macem-macem, Yuk!

Bulan ini, Ibu sedang mencoba program diversifikasi makanan. Ibu merasa anak-anaknya cuma mau makan yang itu-itu aja, ampe bosen masakinnya. Sebenernya sih program ini udah dari jaman kapan tau berusaha diterapin tapi tetep aja ga sukses dengan gilang gemilang, kalo pun ada kemajuan ya cuma seciprit. Target bulan ini minimal empat resep masakan baru bisa jadi favorit orang serumah.

Ngomong-ngomong soal diversifikasi makanan, saya teringat dengan kuliah Penatagunaan Tanah yang membahas Landreform. Apa coba hubungannya dengan program diversifikasi makanan Ibu?

Jadi begince ceritanya, rakyat di Indonesia terbiasa makan nasi, boro-boro dah yang namanya makan ubi, sagu, jagung. Dari Sabang sampai Merauke semua makannya nasi. Kalau pun ada yang makan selain nasi, kayanya cuma seciprit dan jumlahnya ga signifikan. Katanya sih semua orang Indonesia makan nasi karena politik di jaman orde baru. Jadi kalau macem-macem, beras dibikin menghilang dari peradaban. Pergeseran budaya makanan ini menimbulkan sebuah efek negatif, ga ada lagi diversifikasi makanan. Ketergantungan beras yang tinggi, akhirnya membuat pemerintah mengimpor beras dari luar negeri karena pasokan di dalam negeri yang tidak mencukupi.

Permasalahan ketergantungan beras pun pernah dialami oleh Jepang. Masih inget sama dorama Jepang Oshin? Kalo ngeliat doramanya, kita masih bisa ngeliat Oshin heboh nukerin barang demi beras. Nasinya masih segunung dan lauknya seciprit. Coba kita bandingkan dorama Oshin tersebut dengan dorama Jepang masa kini, yakin deh nasinya cuma seciprit dan lauknya yang segunung. Perubahan pola konsumsi ini terjadi atas prakarsa dari Pemerintah Jepang. Diversifikasi makanan dianggap sebagai sesuatu yang penting oleh Pemerintah Jepang karena tanpa adanya diversifikasi makanan maka rakyat mereka akan mudah dikuasai oleh pihak asing. Pemerintah Jepang saat itu (setelah PD II), memanfaatkan proyek Reforma Agraria yang berada dibawah pengawasan sekutu untuk menyukseskan program diversifikasi makanan.

Salah satu cara untuk melakukan diversifikasi makanan adalah dengan melakukan landreform. Dengan landreform, petani akan memiliki tanahnya kembali karena konsep utama dari landreform adalah land to the tillers. Tanahnya ga cuma sekedar dibagiin tetapi harus diiringi dengan,

  • tersedianya pasar untuk menjual hasil pertanian, bukan pasar modern yang kejam
  • kemudahan dalam pemberian kredit, ga diribetin masalah administrasi dan segala macem tetek bengeknya
  • benih yang sesuai dengan kondisi alam Indonesia, bukan benih transgenik yang kadang ga sesuai dipakai di Indonesia
  • pupuk yang tepat, harga murah, gampang ditemuin, dan pastinya penggalakan penggunaan pupuk alami
  • petani yang mau menggarap tanah tersebut, ya iyalah kalo ga ada orangnya siapa yang mau ngolah. Bukan cuma sekedar petani, tapi petani yang telah diberikan pendidikan dan pelatihan tentang mengolah tanah dengan efektif dan efisien. Tapi hari gini siapa sih yang mau jadi petani? Dikit banget!

Bila keenam hal tersebut terlaksana dengan baik, maka Indonesia akan memiliki pasokan pangan yang melimpah dan tercipta suatu ketahanan pangan. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk mengekspor hasil pertanian kita.

Ada hal lain yang juga cukup menyedihkan berkaitan dengan permasalahan diversifikasi makanan. Disadari atau ga, sereal, mie, dan roti adalah makanan yang sering kali dijadikan pengganti makanan pokok di Indonesia. Bahan baku ketiga jenis makanan tersebut adalah gandum dan selama ini Indonesia mengimpor gandum dari luar negeri. Sayang banget kalau makanan pokok yang berkembang adalah makanan pokok yang bahan bakunya bukan merupakan tanaman asli Indonesia.

Berhubung landreform masih berada dalam angan-angan karena keterbatasan dana dan data, saya hanya bisa berharap Farah Quinn ato Chef Bara membuat resep makanan yang menggunakan ubi, jagung, sagu, ya pokonya yang khas Indonesia lah. Kali aja masyarakat Indonesia tergerak untuk mengubah pola konsumsi.

2 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s