Balas Dendam

Balas dendam mempunyai sebuah citarasa tersendiri dalam mewarnai hidup manusia. Ada yang bilang kalau belum pernah balas dendam berarti belum merasakan arti hidup yang sebenarnya. Karena kita berusaha untuk menegakkan keadilan sesuai dengan porsinya, bahkan kita membantu untuk mengembalikan keseimbangan dunia dengan memastikan orang tersebut mendapatkan ganjaran yang sesuai dengan tindakannya atau lebih dari tindakan yang dilakukannya. It’s justice, plain and simple.

Balas dendam merupakan sebuah self-therapy yang terbukti menyehatkan karena kita membuang hal-hal beracun yang terdapat dalam tubuh kita seperti iri dan dengki. Iri dan dengki yang tidak tersalurkan akan mengakibatkan diri kita menjadi lebih tersakiti dan menimbulkan aura negatif.

Revenge is a dish best served cold – Joseph Marie Eugène Sue.

Kalau mau balas dendam, maka lakukan dengan sebuah tindakan yang berdarah dingin, tidak terduga, dan menimbulkan sebuah ketakutan yang panjang. Always aim your revenge where it hurts the most. Go right for the jugular. Biarkan otak kita menyusun sebuah rencana pembalasan dendam yang kreatif dan original. Dengan demikian, pembalasan dendam yang dilakukan akan meninggalkan sebuah tanda yang tidak akan pernah dilupakan. Namun, pembalasan dendam tersebut tidak boleh melanggar aturan. Karena sekali kita melanggar aturan, kita akan sibuk untuk menutupi jejak tersebut. Lakukan sebuah pembalasan dendam yang menyenangkan, sehingga kita bisa tertawa riang melihat orang tersebut mendapatkan hukuman. Once revenge is consummated, move on. It’s over.

Pernyataan di atas merupakan pengamatan terhadap film-film Hollywood. Disadari atau tidak, film-film Hollywood mendoktrin kita untuk melakukan balas dendam dan menegakkan hukum karma. Walaupun secara kasat mata, pembalasan dendam tersebut dilakukan oleh pihak yang tertindas dan hukum yang berlaku tidak dapat mengatasi orang jahat. Tapi benarkah balas dendam terbukti baik untuk diri kita?

Menurut KBBI, balas dendam merupakan sebuah perbuatan tercela yang didasari oleh sakit hati dan dengki. Balas dendam tidak akan pernah berakhir, selalu menjadi siklus yang terus berulang. Akan selalu ada pihak yang sakit hati dan membalas dendam tersebut. Satu hal yang tidak pernah diekspos oleh film-film Hollywood tersebut adalah membuktikan bahwa orang baik yang melakukan kejahatan tersebut tidak dikejar oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan karena adanya pembalasan dendam tersebut. Semua pihak yang jahat dibunuh, sehingga tidak mungkin menimbulkan kemungkinan lain seperti adanya pembalasan dendam.

The best revenge is living well. Dianggap sebagai suatu solusi dalam mengakhiri kejahatan karena kita hidup sebaik-baiknya dan bahagia. Tapi tetap saja, hal tersebut tidak akan mengakhiri apapun. Balas dendam hanya akan menyita waktu karena sebagian besar waktu kita digunakan untuk membalas dendam. The best revenge is living well menjadi kehilangan makna karena tetap saja waktu kita habis dengan mikirkan cara-cara untuk hidup dengan baik. Kita akan menjadi semakin tersakiti ketika melihat lawan kita mempunyai kehidupan yang lebih baik. Kebahagiaan yang kita dapatkan karena melihat orang lain menderita merupakan sebuah kebahagiaan yang semu. Kita akan selalu dihantui ketakutan bahwa kebahagiaan tersebut akan direbut kembali.

Deal with yourself before deals with other. Musuh utama yang sebenarnya adalah diri kita sendiri. Diri kita yang tidak bisa mengatur emosi dan menggunakan logika dengan baik. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, let it be. Tarik nafas yang panjang dan kemudian tersenyum. Ga ada yang salah dengan mengikhlaskan yang terjadi. Balas dendam itu melelahkan dan membuat kita terjerat lingkaran setan. Bahkan kita bisa melakukan kejahatan apapun, tidak hanya sekedar memfitnah dan menghasut. Yah, terlalu banyak deh kasus-kasus pembalasan dendam yang berujung pada penjara.

Sotoy banget ya? Seharusnya saya membayangkan bagaimana rasanya kalau saya berada di posisi orang yang ditindas. Ah, ga perlu saya membayangkan. Apa yang saya bayangkan hanya imajinasi dan ga akan pernah sama seperti apa yang dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Tapi kita semua pernah sakit hati dan disakiti. Keputusan untuk balas dendam berada ditangan kita. Ketika kita memilihnya, pastikan di kemudian hari tidak pernah menyesalinya. Kita bertanggung jawab atas setiap keputusan yang kita buat.

3 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s