Drama Status Muka Buku

Sudah seminggu saya memperhatikan status facebook seseorang. Bukan karena statusnya menginspirasi tapi setiap kali log in facebook, saya akan menemukan status terbaru dari teman saya yang isinya keluhan terhadap kehidupannya. Berasa nonton sinetron kalau baca status teman saya itu. Berseri pula statusnya, ada pagi, siang, sore dan malam.

Iseng-iseng saya pun mencoba berkomentar di status facebooknya, menyindir secara halus. Tak disangka-sangka, ada teman lain yang berkomentar lebih kejam dan frontal, ia menyatakan ketidaksukaannya terhadap teman saya yang selalu mengumbar kesengsaraannya. Teman saya marah dengan komentar tersebut. Ia pun berdalih “Ini kan akun gue, hak gue. Lagian gue ga ngeluh sama lu. Kalau ga suka, ya block aja.”

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin dalih teman saya ada benarnya. Ini kehidupan dia, kenapa orang lain harus repot? Emang ga bisa ya pura-pura ga peduli? Sebenarnya, orang lain ga peduli dengan kehidupan kita karena pada dasarnya setiap orang itu egois. Yah, tapi kan tetap saja, karena manusia juga diberikan anugerah untuk penasaran terhadap segala sesuatu, akhirnya kepo deh dengan kehidupan orang lain. Mau tidak mau, orang lain memperhatikan kehidupan kita. Ada yang memperhatikan karena peduli, tapi ada juga yang memperhatikan kehidupan kita hanya sekedar untuk ngetawain dan/atau ngegosipin.

Ih, ngeselin kan? Tapi ya mau bagaimana lagi. Itu adalah konsekuensi yang harus kita terima ketika membuka diri di dunia maya. Kita memposisikan diri seperti berada di bawah mikroskop, membiarkan orang lain mengamati secara jelas dan mendetail. Singkatnya sih, kalau ga mau diketawain dan/atau digosipin, ya jangan membuka hal-hal detail tentang kita. Bukan kah di dunia nyata pun kita berhati-hati membuka diri, lalu mengapa harus membuka diri secara vulgar di dunia maya? Tapi kalau kita termasuk ke dalam tipe yang ga masalah dengan membuka diri, ya jangan misuh-misuh kalau ada yang berkomentar tentang kehidupan kita.

Balik lagi ke masalah teman saya yang hobi memasang status suram. Saya mengerti bahwa teman saya itu membutuhkan semangat dari orang lain untuk menjalani kehidupannya. Saya ga munafik kalau saya juga sering curcol dan butuh disemangati. Tapi disadari atau tidak, secara tidak langsung ketika teman saya hobi curcol berseri ala sinetron, hal tersebut sama saja dengan membicarakan ketekunan dan perjuangan dalam menjalani hidup. Kalau ingat cerita adik kelas saya, rasanya miris. Karena masih banyak orang lain di luar sana yang lebih hebat.

Aduh, jadi ketampar setelah nulis panjang lebar. Keseringan curcol yang negatif euy. Semoga besok-besok, saya lebih banyak bercerita hal-hal yang menyenangkan. Saya senang, semua senang.😀

Kalau mau curhat mah di masjid aja, sama Allah. Insyaallah lebih bermanfaat daripada di facebook.

Mas Bengky

12 comments

      1. hehehe cepat atau lambat suatu saat pasti si target membaca ini juga, maaf sebelumnya bukan bermaksud menghakimi, benci atau apalah, cuma setiap kita pasti punya masalah berat, yang membedakannya adalah update status apa enggak😀

        Like

  1. Rada membingungkan juga masalah ini. Gw percaya pada dasarnya manusia ada kecenderungan untuk (coret)berbagi aib(/coret) diperhatikan. Rada susah emang. Satu sisi itu akun dia, dia yang ngurus, dia yang tanggungjawab, satu sisi orang lain terganggu, sisi lain dia bongkar aib sendiri, tapi di sisi sono lagi ya salah orang lain juga kenapa friend sama dia, kenapa baca status dia, blablabla dst dsb. Rada mirip sama RT abuser di twitter dan para tweeps yang suka umbar sedikit dosa yang dianggap keren. Ehem.. dulu gw juga gitu sih, walau bukan umbar dosa, tapi umbar sensi.

    Tapi dipikir-pikir kalau bilang ‘ini kan akun gw, gw yang punya, blablabla, don’t like don’t read/follow/etc, rada egois ga sih? Sama kayak ini badan gw, hak gw mau pake baju gimana, trus jalan-jalan pake bikini renda2 pink (trus ditangkep polisi atau kegrebek fpi). Gw kesel, tapi harus mengakui, hidup bermasyarakat (di dunia nyata maupun maya) memiliki resiko ‘dipandang orang dan dibicarakan’. Satu sisi itu jelek, sisi lain itu bagus untuk menjaga kita di norma dan etika yang benar. Maksud gw, mumpung orang Indo masih terikat norma ya, jadi omongan orang secara umum masih bisa dianggap bener lah (kecuali yg kasus guru jujur disuruh minggat sama orang sekampung, oke, itu tanda kiamat kecil emang).

    Tinggal masalah bagaimana memilah ‘omongan orang ttg kita’ yang bisa mendorong utk lebih baik, atau simply bitches talks… ow syid

    Kayaknya ini curcol…. Aduh aduh… *guling2* *kayang* *gosok gigi*

    Like

  2. Kalo saya, sebisa mungkin menjauh dari orang yang suka mengeluh seperti itu.😦

    Masalahnya, kalo saya dekat dengan orang yang mudah mengeluh, hati saya akan terasa gak enak juga. Saya bisa jadi ikutan mengeluh pula. Hidup jadi terasa gak enak kalo ngeluh melulu.😐

    Like

    1. Pinginnya mungkin menghindari, tapi kan kesian juga kalau dibiarkan. Kesian karena mereka makin suram dan jadi bahan gosip. Tapi susah juga sih kalau mau ngasih tau orang cem gini.

      Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s