Aroma dan Kenangan

Embun berjalan sempoyongan, otaknya telah kehilangan kendali. Setiap kali ia mencium aroma itu, tubuhnya langsung lemas, kemudian kenangan-kenangan di masa lalu berputar cepat di dalam kepalanya. Bagi Embun, kenangan itu menyakitkan karena ketika kenangan itu berputar di kepalanya, Embun seperti berpindah ruang dan waktu. Melihat kembali beragam kejadian di masa lalu. Melihat hal-hal menyakitkan dan menyenangkan. Membandingkan masa lalu dan masa kini. Embun benci dengan kenangan.

Aroma dan kenangan selalu membayangi Embun. Bagi kekasihnya, Embun memiliki aroma tubuh yang unik. Aroma tubuh Embun dapat berubah-ubah sesuai dengan suasana hatinya. Jika Embun sedang marah, aroma tubuhnya akan berbau seperti darah, sangat anyir dan pekat. Tetapi jika Embun sedang senang sekali, aroma tubuhnya akan berbau seperti rempah-rempah, manis, dan menimbulkan rasa lapar. Kekasihnya selalu bercerita bahwa aroma tubuh Embun yang berubah-ubah sesuai suasana hati, seringkali membawa sang kekasih kembali ke masa lalu. Suatu ketika, aroma tubuh Embun berbau seperti daun beluntas, aroma tersebut membawa kekasihnya pada kenangan masa kecil ketika berada di kampung.

“Sayang, ceritain dong bau apa aja yang pernah kamu cium” Embun meminta dengan manja.

Sang kekasih menatap kebingungan “Kemaren kan udah diceritain.”

“Pokonya aku mau diceritain lagi!”

“Bau tomat, kamu lagi biasa aja. Bau melati yang sangat lembut, saat kamu lagi bernyanyi kecil untuk menenangkan aku. Bau melon, ketika kamu bahagia. Tapi beda lagi baunya kalau kamu bahagia banget, kamu baunya seperti rempah-rempah, manis, pokonya bikin lapar deh. Bau daun beluntas, pas kamu lagi jalan sama ibu.” kata sang kekasih sambil membelai rambut Embun.

Kemudian kekasihnya terdiam sejenak, menatap Embun dengan lembut. Embun tak sabar melihat kekasihnya terdiam, ia langsung merengek manja meminta kekasihnya untuk melanjutkan.

“Bau darah yang sangat anyir dan pekat, kalo kamu lagi marah. Bau kelapa, tapi aku ga tau dengan jelas perasaan kamu lagi gimana. Banyak deh pokoknya dan aroma kamu selalu membawa aku pada kenangan” kata sang kekasih sambil tersenyum kecil.

Aroma dan kenangan, kedua hal tersebut yang pada akhirnya membunuh Embun. Sang kekasih hanya terdiam setelah mengetahui Embun bunuh diri. Berulang kali ia membaca surat dari Embun yang ditujukan untuk dirinya.

Oksigen menghilang seketika ketika aku mencium aroma yang dihasilkan tubuhmu saat kita bercinta. Aroma itu membangkitkan semua kenangan. Dulu aku mencintai aroma itu, mengulang hal-hal manis yang pernah terjadi selama kita memadu kasih. Namun saat ini, semua itu terasa menyakitkan.

Aku hamil dan aku sudah tidak sanggup lagi untuk membunuh bayiku. Kita berulang kali membunuh bayi tak berdosa.

Setiap malam, aku selalu dihantui panggilan mereka.

Setiap hari, aku hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah.

Setiap kali aku berdoa dan memohon maaf pada Tuhan, aku merasa Tuhan mengacuhkanku, bahkan Tuhan berjanji akan langsung membuangku ke neraka.

Aku takut mati tapi aku lebih takut lagi melihat ibuku menjadi gila ketika mengetahui anaknya hamil di luar nikah. Lebih baik jika ibuku mengetahui bahwa aku mati karena tak sanggup lagi menanggung beban berat masa depan keluarga.

Jaga baik-baik dirimu, sayang. Hiduplah dalam penyesalan seperti diriku. Semoga Tuhan mempertemukan kita di neraka🙂

Dengan segenap kebencian,

Embun

P.S. Aku berulang kali menanyakan aroma tubuhku, hanya untuk memastikan apakah kamu menyadari bahwa semenjak satu tahun yang lalu telah terjadi perubahan aroma tubuh dan suasana hatiku. Tidak ada lagi bau rempah-rempah, manis, yang selalu membuatmu merasa lapar, yang tersisa hanyalah bau darah yang anyir dan pekat.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s